Survei Manulife: Salah Kelola Uang, Utang Jadi Andalan

Gali lubang, tutup lubang. Pepatah ini tentu sudah biasa kita dengar. Masyarakat di Indonesia hobi berutang, sama seperti pemerintahnya. Dengan dalih utang untuk kegiatan produktif, tawaran utang dari banyak lembaga keuangan pun diterima tanpa pikir panjang.

Utang sebenarnya bisa dicegah andai kita mampu mengelola dan merencanakan keuangan dengan baik. Terutama, untuk mengantisipasi kebutuhan darurat seperti sakit parah, PHK, serta kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan anak dan pensiun.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak punya perencanaan keuangan yang jelas. Survei yang dilakukan oleh Manulife menunjukkan, 70% investor tidak punya target dana simpanan, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan jangka panjang.

Tak heran banyak dana hanya disimpan di tabungan dan deposito. Nilai aset mereka justru perlahan habis “dimakan” inflasi. Kalaupun ada rencana jelas, lagi-lagi, hanya untuk jangka pendek, yakni 1-4 tahun seperti liburan bersama keluarga.

“Investor rata-rata menempatkan sepertiga dananya di tabungan dan deposito. Ini menunjukkan mereka tidak punya tujuan keuangan yang jelas,” kata Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro.

tabel

Ini jelas berbahaya karena separuh masyarakat Indonesia menghabiskan 70% penghasilannya setiap bulan. Bahkan, 1 dari 10 orang menghabiskan lebih dari 90% penghasilannya dalam sebulan. Dana yang bisa ditabung atau diinvestasikan tentu semakin kecil.

Akibatnya, mayoritas masyarakat Indonesia tidak punya ketahanan finansial yang cukup manakala harus menghadapi situasi sulit, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau sakit keras, dan bahkan menjelang pensiun kelak.

Manulife Investor Sentiment Index menunjukkan 1 dari 4 orang akan meminjam uang dalam kurun waktu 3 bulan jika kehilangan sumber penghasilan utamanya karena sedikitnya simpanan. Utang seperti sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

Dari sekitar 511 responden, 79% menyebutkan memiliki utang yang sifatnya bukan utang produktif seperti KPR (kredit pemilikan rumah). Ironisnya, sekitar 38% utang digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari seiring gaya hidup yang semakin tinggi.

Jika pengeluaran lebih besar dari dari pendapatan, mereka akan terlilit utang jangka panjang dan terkena dampak finansial yang serius di kemudian hari. “Segera konsultasi dengan penasihat keuangan Anda untuk menyiapkan rencana keuangan jangka panjang,” kata Rusli Chan, Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)