Survei Nielsen: Kenaikan UMR Dongkrak Kenaikan Indeks Kepercayaan Konsumen

Konsumen Indonesia menunjukkan kepercayaan tertinggi pada kondisi ekonomi kuartal ke-1 tahun 2013. Dengan 122 poin, Indonesia duduk di peringkat teratas.

Posisi 10 negara teratas dalam survei kepercayaan konsumen Nielsen pada kuartal 1 tahun 2013

“Indeks kepercayaan konsumen di Indonesia meningkat karena dipengaruhi emosi yang baik jelang Pemilu dan kenaikan upah minimum di ranah pekerjaan formal," kata Catherine Eddy, Managing Director Nielsen Indonesia. Peluangnya, kelas menengah jaman sekarang makin aspirasional. Mereka tak ragu membeli produk baru, bahkan yang belum pernah mereka pakai sama sekali.

Ini peluang buat industri, terutama fast moving consumer goods (FMCG). Syaratnya, industri FMCG mesti gesit menginovasi produk baru dan menarik perhatian konsumen. Contohnya, pelembut pakaian dan pasta gigi.

“Pada 10 tahun lalu, tak ada konsumen yang merasa perlu membeli pelembut pakaian. Tapi kini, banyak sekali inovasi produk ini yang diminati konsumen,” terang Eddy dengan ilustrasi. Pelembut pakaian dari berbagai produsen, di antaranya pelembut dengan berbagai aroma, pelembut khusus bahan sutra, dan khusus kain batik.

Demikian juga dengan pasta gigi. Meski dahulu pasta gigi dianggap sepi, kini ketertarikan konsumen tumbuh secara signifikan terhadap produk pasta gigi pemutih dan pasta gigi untuk gigi sensitif.

Persepsi konsumen soal barang yang mereka beli berbeda-beda di tiap negara yang disurvei

Peluang berikutnya buat pelaku industri adalah masuknya ritel baru dari luar Indonesia. “Saya melihat makin banyak ritel besar dibuka. Dan mereka membawa jenis produk yang makin beragam,” kata Eddy. Tak salah, dalam kuartal 1 ini, sesedikitnya ada 2 ritel busana asing yang dibuka perdana di Jakarta, Lafayette dan Uniqlo.

Dari keseluruhan 58 negara di dunia yang terlibat survei daring (online) ini, posisi indeks kepercayaan konsumen tertinggi  kedua ditempati India dengan 120 poin, disusul Filipina dengan 118 poin.

Persepsi konsumen Indonesia untuk membeli barang-barang kebutuhan juga menempati peringkat pertama dengan persentase 55%. Sekalipun demikian, konsumen tetap menyimpan rasa waspada terhadap perubahan ekonomi sewaktu-waktu. Sebanyak 74% konsumen Indonesia lebih memilih menabung uang sisa mereka ketimbang  menghamburkannya untuk konsumsi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)