Survei Nielsen : Konsumen Indonesia Makin Optimis dan Hemat

The Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions mengungkapkan bahwa konsumen Indonesia menempati posisi kedua paling optimistis di dunia setelah India. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah skor konsumen yang meningkat menjadi 125 pada kuartal ketiga 2014 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia menyatakan bahwa kondisi ini terjadi lantaran adanya kejelasan situasi politik setelah pemilihan presiden. “Pola optimisme konsumen yang telah kita lihat sebelumnya menjelang masa pemilu kembali terlihat, dimana indeks kepercayaan diri konsumen meningkat dua poin pada kuartal ketiga ini.” ujarnya.

542971_10150708361843979_1477124746_n

Survei ini dilaksanakan sejak 2005 dengan metode mensurvei kepercayaan diri konsumen serta kekhawatiran utama dan keinginan berbelanja pada lebih dari 30.000 responden dengan akses Internet di 60 negara. Indeks kepercayaan diri konsumen di atas dan di bawah angka standar 100 mengindikasikan tingkat optimisme dan pesimisme.

Temuan lainnya menyatakan bahwa konsumen Indonesia tetap fokus menabung untuk masa depannya. Pada kuartal ketiga 2014, 74% dari mereka mengalokasikan dana cadangannya untuk menabung setelah menutup biaya-biaya hidup yang paling utama. Mereka juga siap mengeluarkan dana cadangan untuk berlibur (41%), berinvestasi di saham atau reksa dana (33%), membeli produk teknologi baru (30%) dan hiburan di luar rumah (29%).

Konsumen juga semakin lihai mengurangi pengeluaran sehari-hari ketika menghadapi inflasi. Dalam hal ini, Indonesia berada pada urutan sepuluh teratas. Sebanyak 76% dari mereka telah mengubah pola belanja untuk berhemat. Rinciannya, pengeluaran untuk peningkatan teknologi seperti komputer atau telepon genggam sebanyak 54% dan mengurangi belanja baju baru sebanyak 47%.

Di sisi lain, konsumen Indonesia tampaknya tidak bersedia untuk kompromi bila menyangkut komunikasi, bahan makanan dan layanan keuangan, sebagaimana terlihat dalam survey ini bahwa konsumen yang mengurangi pengeluaran untuk biaya telepon hanya 27%, membeli bahan makanan yang lebih murah hanya 24% dan mencari penawaran yang lebih murah untuk layanan keuangan hanya 17%.

“Konsumen di Indonesia menerapkan pendekatan yang berhati-berhati dalam pola belanja mereka. Seiring dengan peningkatan kemakmuran, mereka tetap hemat dengan pengeluaran mereka. Kemudian seiring dengan naiknya harga-harga, mereka juga mencari cara untuk menghemat pengeluaran sehari-hari. Yang menarik adalah, konsumen Indonesia adalah orang-orang yang sangat terkoneksi satu sama lain. Dengan hanya kurang dari 30% konsumen yang bersedia mengurangi biaya telepon, kita dapat melihat bahwa sebagian besar konsumen tidak bersedia kompromi agar mereka tetap dapat berhubungan dengan orang lain,” tutupnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)