Survei PwC Kuatkan Posisi Indonesia sebagai Tujuan Investasi

Survei yang dilakukan oleh Price Waterhouse Coopers (PwC) terhadap 800 CEO perusahaan yang berlokasi di Asia Pasifik positif terhadap upaya perbaikan iklim investasi Indonesia. Semakin meneguhkan posisi Indonesia sebagai negara tujuan investasi utama bersama dengan RRC dan Amerika Serikat.

Survei tersebut melengkapi survei-survei yang dilakukan oleh lembaga independen lainnya yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi utama.

doc.istimewa doc.istimewa

Franky Sibarani, Kepala BKPM, menilai bahwa persepsi positif yang tercermin dalam hasil survei tersebut dapat membantu BKPM untuk meningkatkan arus investasi masuk ke Indonesia dan mencapai target-target investasi yang dicanangkan oleh pemerintah. “Perbaikan-perbaikan layanan investasi akan terus dilakukan dan diharapkan dapat berdampak positif terhadap meningkatnya realisasi investasi asing maupun domestik di Indonesia,” paparnya.

Nilai positif dari survei tersebut cukup signifikan karena kondisi perekonomian global yang tengah dalam kondisi tidak menentu. Setidaknya survei yang dilakukan dalam periode 23 Juni dan 21 Agustus 2015 tersebut memperhitungkan dua kondisi global yang mempengaruhi jawaban responden.

Pertama adalah terkait kondisi Amerika Serikat yang meningkatkan suku bunga bank sentralnya pada bulan Juli 2015 dan RRT yang mendevaluasi Yuan ditengah intervensi untuk mempertahankan harga sama yang dilakukan pada bulan Agustus 2015. “Posisi Indonesia yang masih positif dapat mempermudah upaya untuk menarik minat investasi dari investor global,” ungkapnya.

Sebelumnya, Indonesia juga dinilai positif dalam survei Ease of Doing Business (kemudahan berusaha) 2016 yang dirilis World Bank Group. Posisi Indonesia naik 11 posisi dari sebelumnya peringkat 120 menjadi peringkat 109 dari total 189 negara yang disurvei. Indonesia tercatat sebagai negara yang konsisten melakukan reformasi EODB sejak 2007 sehingga termasuk 24 negara teratas yang melakukan reformasi di 3 indikator atau lebih.

Beberapa hal yang menjadi catatan BKPM bahwa dalam survei yang dilakukan oleh PwC tersebut, muncul bahwa meskipun jumlah respondennya meningkat dari tahun lalu sebanyak 635 dan tahun ini mencapai 800 responden, namun mayoritas responden atau 52% CEO menyatakan akan meningkatkan investasinya ke Indonesia.

“Jadi 52% menyatakan akan meningkatkan investasinya dan 38% lainnya bertahan pada nilai investasi yang sama. Ini merupakan prosentase tertinggi setelah RRT. Posisi Indonesia di level yang sama dengan Amerika Serikat dan Vietnam,” jelasnya.

Secara keseluruhan 68% persen investasi baru akan dikucurkan di wilayah APEC dan 32% lainnya ke wilayah lain di dunia. Responden Survei PwC tersebut juga memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap perekonomian Indonesia dalam periode menengah 3-5 tahun mendatang. Keyakinan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode jangka pendek di jangka waktu 12 bulan mendatang.

Survei tersebut juga memproyeksikan masa depan ekonomi Indonesia yang ditandai dengan perubahan wajah industri manufaktur ke arah basis teknologi. Hal ini menyebabkan adanya kebutuhan modernisasi peralatan dan adanya pergerakan pekerja lintas negara. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)