Survei Healthcare 2015: Pemain Lokal Masih Berkuasa

Bisnis jasa kesehatan masih sangat menguntungkan. Kebutuhan pelayanan kesehatan cenderung naik dari tahun ke tahun seiring penambahan jumlah penduduk. Meski punya nama besar, pemain nasional belum mampu mengalahkan dominasi pemain lokal. Itu terlihat dari Survey Healthcare 2015 yang dilakukan Majalah SWA bekerjasama dengan Onbee Marketing Research. Sumardy Ma, Direktur Onbee Marketing Research mengatakan, para pelaku bisnis layanan kesehatan masih mengandalkan produk dan belum fokus mengembangkan cara meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.

“Pemain lokal masih cukup kuat untuk melawan gempuran para pemain nasional dengan memberikan pelayanan dengan citarasa lokal sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Nama besar pemain nasional tidak menjamin akan lebih meyakinkan konsumen di suatu daerah,” katanya.

Di segmen pasar rumah sakit umum swasta, RS Siloam memang memimpin di Jabodetabek di atas RS Omni International dan RS Pusat Pertamina. Di kota lain, seperti Bandung, yang berkibar justru RS Boromeus, RS Immanuel dan RS Santosa. Begitu pula di Bali, yang berkibar justru BIMC Hospital, Puri Raharja dan RS Surya Husada. Lalu di Semarang, juaranya RS Elisabeth, ditempel ketat RS Islam Sultan Agung dan RS Telogorejo. (Hasil Riset Selengkapnya bisa dilihat di Majalah SWA Edisi 11, 26 Mei-7 Juni 2015)

Sumardy Ma, Direktur Onbee Marketing Research Sumardy Ma, Direktur Onbee Marketing Research

Menurut Sumardy, pemilik merek lokal memiliki ikatan emosional dan budaya dengan masyarakat setempat. Sehingga, hubungan yang dibangun menjadi sebuah pola perilaku yang terbiasa. Merek lokal ini juga sudah menjadi merek budaya yang memahami karakteristik masyarakat lokal. Masyarakat setempat yang menjadi pelanggan mereka menjadi merasa dimanusiakan pada saat berinteraksi dengan merek lokal.

Kesimpulannya, peluang pertumbuhan industri ini masih sangat besar. Para pemilik merek masih fokus membangun merek dan meningkatkan layanan kepada pelanggan lewat pembangunan infrastruktur, teknologi dan standar kualitas operasional. Sehingga, membangun branding dan marketing dengan lebih baik belum menjadi prioritas. Padahal, permintaan terus merayap naik.

“Brand equity bisa dibangun dengan reputasi yang baik, reputasi tersebut di dapat dari pengalaman pelanggan yang baik yang kemudian diceritakan atau menjadi word of mouth bagi masyarakat setempat. Hal ini juga memicu loyalitas pelanggan. Ketiga variabel ini merupakan variabel yang saling mendukung satu sama lain. Industri industri kesehatan sangat dipengaruhi oleh pengalaman konsumen yang nantinya akan direkomendasikan baik secara positif maupun negatif,” ujar Sumardy.

Tidak seperti industri lainnya, dimana branding dan marketing fokus dengan memborbardir calon konsumen dengan iklan-iklan yang penuh janji-janji muluk. Industri jasa kesehatan sangat bergantung pada pengalaman seorang konsumen. Pengalaman baik yang bisa diberikan oleh institusi jasa kesehatan akan berefek pada reputasi merek dan loyalitas pelanggan. Di tengah semakin banyaknya pemain di industri jasa kesehatan, ketiga variabel tersebut menjadi indikator bagaimana mereka bisa bersaing dengan baik untuk meyakinkan pelanggan. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)