Tahun 2013 Lebih Berat Dibanding 2012 Bagi Industri Asuransi

Prospek kinerja perusahaan asuransi di 2013 akan mendapat tantangan lebih besar dibanding tahun lalu, sebab kondisi perekonomian makro dalam negeri mengalami guncangan.

Hal tersebut seperti dikatakan Direktur Biro Riset Infobank, Eko B. Supriyanto yang memaparkan hasil kajian risetnya.

Kondisi ekonomi makro Indonesia terganggu oleh beberapa hal, antara lain inflasi akibat tersendatnya pasokan harga pangan, tingginya angka penjualan otomotif dan properti, serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI rate dari 5,75% menjadi 6% adalah sinyal bahwa kondisi moneter bisa menjadi 'liar',” ujar Eko.

Selain itu, penjualan otomotif dan pasar properti yang cenderung stagnan dikhawatirkan mengalami bubble akibat kenaikan harga rumah yang tak terkendali bisa menghambat produksi premi. Sebab hampir 60% pendapatan premi industri asuransi umum berasal dari otomotif dan properti.

Yang perlu diwaspadai lagi adalah kondisi di industri asuransi jiwa. Pengalaman 2008 menunjukkan bila perusahaan asuransi terlalu bernafsu mencari untung dari hasil investasi, kemungkinan laba itu justru bisa berbalik arah menjadi rugi ketika terjadi guncangan di pasar modal.

Berdasarkan data pendapatan premi, hampir 10 tahun terakhir sebagian perusahaan asuransi jiwa gencar menjual produk asuransi berbalut unsur investasi.

“Meski IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) tahun ini sempat menembus 5000, namun masih belum stabil akibat pengaruh global dan kenaikan harga BBM di dalam negeri,” tambah Eko.

Eko memprediksi, pertumbuhan industri asuransi jiwa tahun ini akan sedikit terkoreksi yakni hanya bertumbuh diangka 15%, lebih rendah bila dibandingkan dengan prediksi industri yang sebesar 20%. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)