Tahun Depan Prospek Bisnis Ritel Modern Makin Moncer | SWA.co.id

Tahun Depan Prospek Bisnis Ritel Modern Makin Moncer

Meningkatnya daya beli masyarakat Indonesia dan semakin berubahnya perilaku konsumen ke arah produk-produk yang lebih mewah berdampak positif terhadap bisnis ritel, khususnya ritel modern. Tahun depan, bisnis ritel modern diprediksi akan berkembang sangat pesat.

Sugiyanto Wibawa, Direktur Operasional PT Supra Boga Lestari Tbk

Di Jakarta, Selasa (4/12/2012), Sugiyanto Wibawa, Direktur Operasional PT Supra Boga Lestari Tbk (Ranch Market), menuturkan, “Ritel di Indonesia tumbuhnya sangat pesat. Menurut saya, akan tetap berkembang, jadi market-nya masih sangat besar. Kalau kita bicara rasio jumlah penduduk dibandingkan jumlah toko retailer, masih sangat sedikit.”

Bisnis ritel akan berkembang karena beberapa hal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik dan meningkatnya sejumlah upah minimum provinsi atau kota berdampak pada naiknya daya beli masyarakat. Hal ini lantas berpengaruh positif terhadap bisnis ritel.

Bahkan, kata Sugiyanto, kondisi kemacetan yang bagi sebagian besar masyarakat sangat mengganggu justru berdampak baik bagi para peritel. “Apalagi dengan ada kemacetan itu menyebabkan tidak terlalu banyak mobilitas daripada masyarakat, sehingga dibutuhkan sarana fasilitas di community-nya, yang dekat dengan perumahan masyarakat,” tambah dia.

Berapa persen pertumbuhan ke depan? Dia menuturkan, bisnis ritel bakal tumbuh di atas 10 persen. Angka ini lebih besar ketimbang pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berkisar di angka 6 persen.

Lantas, konsep ritel seperti apa yang akan berkembang? Ritel modern menjadi bisnis yang akan semakin berkembang, seperti hypermarket, supermarket, dan minimarket. Ritel jenis ini berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat yang meningkat dan perilaku konsumen yang berubah. Mengenai bidang usaha ritel yang akan berkembang, ia menyebutkan, salah satunya adalah bisnis restoran ataupun makanan.

Konsumen sekarang bukan sekadar membeli makanan untuk mengenyangkan perut. Kini, konsumen sudah melihat faktor lifestyle pada makanan. Alhasil, kata dia, makanan-makanan yang tidak mengikuti lifestyle mulai ditinggalkan. “Seperti bubble tea, baru-baru ini berkembang, tetapi hati-hati itu bisa cepat menurun,” lanjutnya.

“Yang lain adalah retailer lifestyle. Jadi, pakaian yang punya merek karena masyarakat yang punya uang akan membeli barang-barang yang lebih bermerek,” ujar Sugiyanto.

Berangkat dari persaingan bisnis ritel yang akan semakin ketat, Sugiyanto pun menganjurkan sejumlah hal untuk dilakukan para pebisnis. Pertama, pebisnis harus mempunyai konsep yang sangat kuat, yang jelas, dan konsisten. Positioning atau gambaran produk harus bisa ditangkap dengan jelas oleh benak konsumen. Kedua, pelaku usaha harus berbisnis dengan passion.

“Karena retail itu tidak bisa tanpa ada jiwa dari entrepreneur itu sendiri. Karena dia yang men-drive atau yang menjadikan suatu motor dari pertumbuhan retailer itu. Tanpa ada drive dari entrepreneur ini rasanya si retail ini tidak bisa berkembang. (Jadi) perlu konsistensi, detail, persiapan, menjiwai dan kepemimpinan yang baik,” tutup dia. (EVA)

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)