Indonesia Membutuhkan Data Scientists Lebih Banyak

Erwin Z Achir, President Director Teradata Indonesia (kiri) dan Fajar Muharandy, Erwin Z Achir, President Director Teradata Indonesia (kiri) dan Fajar Muharandy,

Menurut Erwin Z Achir, Presiden Direktur Teradata Indonesia, saat ini peluang big data sangat besar. Diperkirakan potensi marketnya secara Compound Annual Growth Rate (CAGR) mencapai US$ 70 miliar pada tahun 2020. Ia memastikan perusahaan yang memanfaatkan data dan mengaplikasikan big data analytics akan lebih maju dibanding perusahaan lainnya. Hanya saja, di Indonesia masih sangat minim sumber daya yang ahli di bidang analis data (data scientists).

“Dari 40 karyawan di Teradata, 2/3 adalah konsultan dan professional services (PS), untuk pendalaman materi tentang data analis sendiri masih dibantu oleh negara lain,” ucapnya saat menggelar acara media luncheon "Peran Big Data dalam Inovasi Bisnis bersama Teradata Indonesia di City Plaza, Jakarta (16/12).

Sebagai perusahaan konsultan dan impelentasi data yang fokus pada integrated data warehousing, big data analytics dan aplikasi bisnis, Teradata menjadi main sponsor dalam kegiatan peluncuran komunitas Big Data Indonesia (Id Big Data) beberapa minggu yang lalu di Yogyakarta. Salah satu poin dari kegiatan tersebut, agar terwujud banyak pakar dan ahli analis data (Data Scientists) di Indonesia yang dibantu oleh lembaga pendidikan terutama universitas.

Sejak dibuka Teradata di Indonesia tahun 2010, hingga saat ini Teradata Indonesia telah memiliki 10 customer untuk data warehouse dari beberapa perusahaan yang bergerak di sektor perbankan dan telekomunikasi. Dengan Compound Annual Growth Rate mencapai 10-12%.

“Sejak pertengahan tahun ini, kami sudah penetrasi ke sektor manufaktur dan pemerintahan. Untuk pemerintahan sendiri yang memungkinkan adalah di sektor Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dari beberapa penetrasi tersebut sudah muncul interest,” ucap Erwin.

Sementara itu, Fajar Muharandy, Chief Solution Architect, Teradata Indonesia, menjelaskan tentang sejarah singkat tentang big data. Menurutnya, pertama kali muncul big data adalah di sektor ritel atau supermarket. Di mana para pemilik supermarket tersebut ingin mengetahui apa yang menjadi pertimbangan seseorang sebelum membeli barang. Mengetahui bagaimana proses seseorang tersebut hingga akhirnya memilih barang yang dibeli.

“Big data is new types of data and new types of analysis. Diawali dengan perubahan paradigma di mana dunia usaha sekarang merasa perlu untuk menganalisa lebih banyak data, sehingga eksplorasi terhadap tipe-tipe data yang baru mulai dilakukan. Misi kami, mengedukasi market bahwa dalam data yang mereka miliki ada pengembangan data lain yang bisa prospektif dan aplikatif dalam mengatasi masalah dan meningkatkan nilai perusahaan,” ujar Fajar. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)