Terapkan RSPO, Hemat Pestisida US$ 250 Ribu

Baru-baru ini World Wildlife Fund (WWF) merilis laporan hasil studinya "Profitability and Sustainability in Palm Oil Production" atau Profitabilitas dan Keberlanjutan pada Produksi Kelapa Sawit. Laporan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis peningkatan biaya dan keuntungan finansial yang diperoleh perusahaan produsen minyak sawit sebagai hasil penerapan Principles & Criteria Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Laporan tersebut merupakan hasil studi terhadap 2 perusahaan kelapa sawit di Indonesia, 4 di Malaysia, dan 2 perusahaan kelapa sawit lain di Singapura. Kedelapan perusahaan tersebut dianggap cukup mewakili karena minyak sawit dan inti minyak sawit bersertifikasi RSPO yang diproduksinya mencakup 54% dari total produksi minyak sawit ber-RSPO.

Pada pertemuan media gabungan baru-baru ini, Deputi Direktur Transformasi Pasar WWF Irwan Gunawan memaparkan bahwa manfaat yang diraih dalam menjalankan praktek-praktek sustainabilty akan melebihi biaya yang dikeluarkan. Dari segi finansial, RSPO mampu menghemat berbagai pengeluaran. Pengeluaran untuk pesitisida dan herbisida dalam satu tahun berkurang hingga US$ 250 ribu.

"Dari sisi perburuhan juga lebih baik. Karyawan lebih loyal karena mereka memperoleh insentif lebih sesuai, situasi kerja lebih kondusif, fasilitas juga lebih memadai," ungkap Irwan. Tingkat kecelakaan juga terbukti menurun hingga 42%. Market preferensi pun naik 25% seperti yang terjadi di Eropa. "Bankability naik cukup baik karena sistem manajemen lebih tertata, monitoring juga lebih baik," lanjutnya. Irwan mencontohkan bank dari Belanda yang khusus menangani pembiayaan industri makanan dan agribisnis, Rabobank. Rabobank kini akan dengan mudah memberikan bantuan finansial untuk perusahaan kelapa sawit yang sudah bergabung RSPO.

Irwan mengakui bahwa untuk memperoleh sertifikasi RSPO perusahaan kelapa sawit harus merogoh kocek hingga Rp 1,5 miliar per hektar. Namun mereka akan memperoleh keuntungan lebih dari yang mereka bayarkan setelahnya. Sekretaris Jendral RSPO Darrel Webber mengungkapkan, "Pembangunan berkelanjutan dalam RSPO memang bukan untuk sacrifice profit, melainkan sustainable profit dalam jangka panjang."

"Ada biaya, memang. Tapi juga ada proses memperbaiki diri. Dan hasil dari proses ini memberikan keuntungan kepada yang melakukan proses. Keuntungan ini lebih besar dari biaya, apalagi untuk konteks jangka menengah dan jangka panjang," tegas Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian era Megawati yang juga penasehat teknis RSPO.

Principles & Criteria RSPO merupakan skema sertifikasi internasional bagi para produsen dunia yang telah mengadopsi sistem pembudidayaan minyak sawit yang berkelanjutan, baik dari perspektif sosial maupun lingkungan. Saat ini 900 anggota dari 50 negara berhasil memproduksi 6 juta metrik ton Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) bersertifikat RSPO, setara 12% CPO dunia, hanya dalam 4 tahun.

Di Indonesia, Carrefour sendiri akan mensyaratkan minyak sawit RSPO. Hingga kini semakin banyak perusahaan kelapa sawit yang gencar mengikuti RSPO, terutama mereka yang ekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika. "Orang luar banyak menuduh Indonesia ini perusak lingkungan. Padahal Indonesia penghasil CSPO terbesar dunia. Sekarang masih 45%, tapi akhir tahun akan lebih besar lagi," pungkas Bungaran optimistis. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)