Tetra Pak Index 2018 Ungkap Tren Belanja E-grocery

(ki-ka) Filippo Candrini, Managing Director HappyFresh Indonesia, Rahmat Danu Andika, Associate Vice President of O2O Business Bukalapak, Gabrielle Angriani, Communication Manager Tetra Pak Indonesia, dan Sadelyn Isuki, Marketing Manager Tetra Pak Indonesia.

Perusahaan pengemasan makanan dan minuman, Tetra Pak merilis hasil riset tahunan Tetra Pak Index, yang diadakan di beberapa negara termasuk Indonesia, yang mengungkapkan tren belanja makanan secara omnichannel. Riset yang memasuki tahun ke-11 ini juga menjelaskan pentingnya peranan kemasan produk dalam belanja konsumen di era pemasaran berbasis omnichannel ini.

Salah satu aktivitas belanja online yaitu belanja makanan dan minuman secara online (e-grocery), kini dipandang sebagai katalis untuk transformasi e-commerce yang lebih luas. Cara belanja e-grocery pun kian digemari di seluruh dunia sesuai dengan hasil riset Tetra Pak Index 2018.

“Berdasarkan riset Tetra Pak Index di Indonesia, sebanyak 1,2% konsumen di Jakarta telah berbelanja pangan secara online pada tahun 2016 dan angka ini diharapkan untuk terus tumbuh hingga 5,4% pada tahun 2030. Sementara itu kegiatan belanja di pasar tradisonal mungkin akan menurun pada tahun 2030 menjadi 46,6% dari sebelumnya di angka 56,3% pada tahun 2016, ujar Gabrielle Angriani, Communications Manager Tetra Pak Indonesia.

Tetra Pak Index 2018 juga menemukan bahwa daya tahan dan efisiensi kemasan menjadi persyaratan penting dalam kegiatan belanja online. Bahkan hasil riset pun menunjukkan bahwa kemasan yang efisien secara berat maupun ruang dapat memberikan pengurangan volume transportasi sebesar 30-50%. Selain itu, minuman dalam kemasan seperti susu juga memiliki jumlah penjualan yang tinggi di Bukalapak dan HappyFresh. Di Bukalapak sendiri, susu dalam kemasan menjadi item yang paling banyak dibeli dengan 6,18% dari total konsumen e-grocery.

Menurut Rahmat Danu Andika, Associate Vice President of O2O Business Bukalapak, tren belanja konsumen Indonesia yang perlahan beralih ke e-grocery disambut dengan sangat baik oleh para pelaku bisnis e-commerce. “Di Jakarta sendiri, e-grocery berkompetisi langsung dengan minimarket dan supermarket karena permintaan konsumen akan pengalaman belanja yang mudah dan cepat, serta akses internet yang membaik. Di Bukalapak, untuk kategori ready to drink saja kami mencatat puluhan juta minuman terjual di semester I-2018 melalui marketplace dan melalui distribusi ke UKM warung di seluruh Indonesia,” ujar Danu.

Hasil riset Tetra Pak Index juga memberikan wawasan tentang empat faktor utama yang memengaruhi pasar e-grocery, yaitu kemudahan sebagai penentu utama dalam aktivitas belanja online. Kedua, teknologi dan kinerja yang terus mengubah rantai pasokan (supply chain), terutama dalam hal kecepatan pengiriman barang yang diprediksikan dapat dikirimkan dalam waktu 10 menit pada tahun 2025 serta perilaku belanja konsumen secara menyeluruh. Kemudian keberlanjutan, di mana konsumen mulai peduli akan pentingnya menggunakan produk dari perusahaan yang peduli akan isu lingkungan hidup. serta keempat personalisasi, yakni brand berupaya menghadirkan produk yang dapat dipersonalisasi bagi pembeli sebagai pembeda dari produk lainnya di pasaran.

“Riset kami membuktikan bahwa daya tahan dan efisiensi kemasan menjadi persyaratan penting dalam kegiatanbelanja online. Bahkan hasil riset pun menunjukkan bahwa kemasan yang efisien secara berat maupun ruang dapat memberikan pengurangan volume transportasi sebesar 30-50%,” tambah Gabrielle.

Keempat faktor di atas memengaruhi cara pengusaha dan perusahaan melakukan bisnis, khususnya proses dalam pengemasan produk untuk para konsumen. "Kami mempekerjakan personal shopper yang telah diberikan pelatihan khusus untuk dapat memilih produk berkualitas serta mengemasnya dengan aman sebelum menyampaikannya ke tangan kurir untuk diantarkan dalam box tertutup,” ujar Filippo Candrini, Direktur Pengelola HappyFresh Indonesia.

Sebagai upaya menjawab tantangan dalam tren ini, Tetra Pak menawarkan inovasi terbaru melalui teknologi kemasan menggunakan QR Code unik dan Radio-Frequency Identification (RFID). Inovasi tersebut memungkinkan adanya interaksi antara produk dengan konsumen untuk berbagi informasi seputar sumber bahan dasar, fakta nutrisi, maupun aktivitas promosi dan informasi lingkungan. Di saat yang sama, dengan wawasan yang ditangkap melalui kode-kode digital ini, brand dapat terus meningkatkan pengalaman belanja  Dengan mengaplikasikan teknologi QR Code unik dan RFID, pengusaha serta perusahaan akan terbantukan dalam dan membuat lebih personal bagi konsumen.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)