Tren Penggunaan Produk Perawatan Kulit Berbahan Alami Merek Lokal

Tren penggunaan bahan alami dalam produk perawatan kulit semakin meluas di industri produk perawatan kulit global. Tren ini juga melanda Indonesia. Belakangan bermunculan merek-merek baru produk perawatan kulit berbahan alami yang, menariknya, datang dari industri kecil dan menyasar konsumen menengah yang tinggal di perkotaan dan mengadopsi healthy life style. Merek lokal ini menyodorkan alternatif kepada konsumen terhadap produk semacam dari luar negri dengan kelebihan pada harga yang lebih bersaing. Beberapa di antara produk ini sudah masuk di “Product Review” majalah wanita papan atas maupun diulas para blogger.

Merespons tren tersebut, Central Insight, sebuah perusahaan Market research and Business Consulting berinisiatif dan melaksanakan survei terhadap produk perawatan kulit berbahan alami merek lokal. Survei bertujuan untuk mengetahui kesadaran konsumen terhadap merek dan memahami jenis produk yang digunakan oleh konsumen. Hasil survei ini diharapkan membantu kalangan industri produk perawatan kulit berbahan alami lokal untuk memahami pasar lebih baik lagi dan merancang strategi perusahaan untuk meningkatkan usaha.

Survei dilaksanakan selama 1 Minggu, dari tanggal 8 sampai 20 Januari 2021. Kuesioner disebarkan melalui kanal-kanal media sosial dan aplikasi percakapan. Responden yang berpartisipasi berjumlah tak kurang dari 213 orang.

Sementara, responden survei didominasi oleh wanita sebanyak 78,8%. Dari segi usia, didominasi oleh usia dengan rentang 21 – 30 tahun sebanyak 73,3%, diikuti oleh 10 – 20 sebanyak 16,9% dan usia di atas 30 tahun sebanyak 9,2%. Lebih dari separuh, yaitu 50,7% dari responden berstatus mahasiswa diikuti oleh dan pekerja sebanyak 41,7% dan pelajar serta jobless termasuk ibu rumah-tanggasebanyak 7,9%. Para responden sebagian besar yakni sebanyak 73,2% berdomisili di Jabodetabek. Sisanya sebanyak 15,9% berdomisili di Jawa di luar Jabodetabek dan sisanya (10,7%) di luar pulau Jawa.

Hasil survei

Sebanyak 156 responden(73.2%) mengenal paling tidak satu dari 10 merek lokal yang disajikan pada survei. Angka ini cukup tinggi mengingat sebaran responden yang cukup luas, baik lokasi, gender dan usia; sementara produk ini menyasar responden yang selektif memilih produk perawatan kulit dengan memperhatikan bahan yang dikandung, bukan konsumen yang berorientasi pada harga.

Angka ini kiranya menggembirakan bagi para pemilik dan pengelola merek-merek lokal ini yang memang menghadapi tantangan berat di pasar, dimana banyak merek asing beredar yang memiliki modal yang jauh lebih besar, jauh lebih berpengalaman dalam pengelolaan usaha dan pemasaran. Dan, yang tak kalah penting, didukung oleh impor pop culture dari negara produsen. Merek-merek lokal ini ibaratnya siput melawan gajah.

Semua merek dikenal oleh paling sedikit 6 responden dan terbanyak 118 responden. Diluar 10 merek ini, secara keseluruhan ada 23 responden yang menyatakan mengenal juga merek lokal lain.

Merek yang paling banyak dikenal adalah Sensatia Botanicals. Tak kurang dari 118 responden yang mengenalnya. Angka ini adalah 75,6% dari total responden yang mengenal merek lokal dari produk perawatan kulit berbahan alami. Secara komersial memang Sensatia jauh mengungguli merek lokal lain. Dengan harga produk setaraf merek-merek asing, selain di dalam negri (Bali dan Jakarta), produk asal Bali ini sudah hadir di pasar Eropa dan Amerika.

Sensatia Botanicals disusul oleh The Bath Box yang dikenal oleh 81 responden (51,9%) dan dan Haple oleh 48 responden (30,8%).

Namun, dari 156 responden yang mengetahui merek lokal, hanya 63 responden (40,4%) yang menggunakannya. Temuan ini mengingatkan pengelola merek-merek ini bahwa mereka harus bekerja lebih keras dan kreatif untuk meraih kepercayaan konsumen.

Survei ini mengelompokkan produk menjadi 10 jenis berdasarkan penggunaannya. Serum adalah jenis produk yang paling banyak dipakai oleh responden, yakni sebanyak 22 responden (34,9%). Kemudian diikuti oleh pencuci muka dan Hand & Body Lotion, masing-masing sebanyak 21 responden (33,3%) dan 19 responden (30,2%).

Serum merupakan produk yang konsentrasi bahan kandungannya tinggi, jauh lebih tinggi dari pada krim dan harganya lebih mahal. Temuan bahwa serum berada di posisi pertama jenis produk yang paling banyak digunakan, adalah diluar dugaan. Apalagi mengingat 73,7% usia responden ada pada rentang usia 21 – 30 tahun sementara serum biasanya digunakan oleh mereka yang berusia di atas 30 tahun.

Produk perawatan mata, Krim Siang dan Krim Malam adalah kelompok produk yang berada pada posisi paling bawah dalam jumlah responden pengguna.

Diperlukan riset pasar tersendiri untuk mengetahui mengapa minat konsumen pada serum tinggi, sementara pada cream, termasuk untuk mata rendah. Kemungkinan para responden memilih serum dari merek lokal karena harganya yang lebih terjangkau dibanding produk perawatan kulit berbahan alami merek asing. Riset yang mendalam akan membantu para pengelola merek untuk memahami konsumen lebih baik sehingga strategi pemasaran bisa diperbaiki.

Survei ini menemukan bahwa pemakai merek lokal ini rata-rata menggunakan 2,0 jenis produk. Angka ini memang tidak terlalu tinggi mengingat kebanyakan responden berusia muda dan belum membutuhkan perawatan kulit yang intensif. Sebagian besar konsumen membeli produk tersebut melalui kanal offline sebanyak 82.3%. Sementara, sebagian besar konsumen membeli produk tersebut melalui kanal offline sebanyak 82.3%.

Di sisi lain, hal ini membuka peluang besar untuk pertumbuhan di masa akan datang, baik secara organik maupun an-organik. Seiring bertambahnya usia konsumen, jumlah produk yang dikonsumsi bisa bertambah (pertumbuhan organik). Selain itu, tentu saja, dari konsumen baru (pertumbuhan an-organik).

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)