Upaya Bekraf Membangun Komitmen untuk Sektor Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif merupakan sektor unggulan baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Terlebih saat ini komoditi andalan Indonesia seperti batu bara, minyak kelapa sawit, karet dan mineral dapat terganggu ketika harga komoditas tersebut menurun di pasar internasional.

20161115_100246-800x600

Badan ekonomi kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah non kementerian yag baru dibentuk pada awal 2015. “Kami bertugas  untuk membantu Presiden  merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan kebijakan ekonomi kreatif kepada 16 subsektor ekonomi kreatif,” kata Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif dalam sambutan pada Simposium nasional yang bertema Membangun Komitmen Perbankan bagi Ekonomi Kreatif.

Simposium yang diselenggarakan di Hotel Pullman ini mengundang 300 peserta dari kalangan perbankan, pebisnis ekonomi kreatf dan pihak regulator. Tujuannya adalah untuk menciptakan link antara sumber modal dan para pebisnis ekonomi kreatif. “Kami berharap dengan adanya simposium ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif kepada perbankan nasional mengenai seluk beluk usaha ekonomi kreatif,” lanjutnya.

Potensi ekonomi kreatif di Indonesia memang sangat besar. Berdasarkan penelitian Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Bank Dunia, sepanjang tahun 2010-2013, kontribusi industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan sebesar 7,1%. Terhadap keseluruhan nilai ekspor sebesar 6,1% dan terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 10,7%.

Dari 16 subsektor ekonomi kreatif yang ada, sektor kerajninan, fashion dan kuliner menduduki pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya, yaitu sebesar 5,6%. Selain itu di tahun 2013 terdapat 5,4 juta usaha kreatif yang menyerap 11,8 juta tenaga kerja. Ekonomi kreatif juga mampu menyumbangkan devisa negara melalui ekspor sebesar US$ 3,1 miliar.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)