Wah, Daya Beli Kelas Menengah Turun

Lesunya perekonomian di sepanjang paruh pertama 2015 sudah diprediksi banyak kalangan. Akibatnya, daya beli kelas menengah pun terpangkas. Inilah salah satu hasil survei “Perilaku Kelas Menengah 2015” yang dilakukan Majalah SWA bekerja sama dengan Inventure di 9 Kota Besar di Indonesia. Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan, kelas menengah mulai booming pada 2012 lalu, dimana ekonomi saat itu tumbuh lebih bagus dibanding tahun 2014.

“Pada kuartal I-2015, (dari data Badan Pusat Statistik) ekonomi Indonesia melemah. Sehingga, kemampuan daya beli turun. Dampaknya masyarakat kelas menengah yang tingkat pengetahuannya meningkat, mencari cara bagaimana tetap memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka akan konsumsi terpenuhi di bawah kondisi ekonomi saat ini,” katanya.

 

Menurut dia, masyarakat di kelas tersebut akan mencari barang dengan harga yang tergolong murah tetapi dengan memilih kualitas yang bagus. Untuk itu, pemilik merk dituntut untuk memangkas biaya produksi lewat serangkaian langkah efisiensi agar bisa bertahan dan terus menjadi pilihan segmen kelas menengah di Indonesia yang jumlahnya terus membesar ini. Pemilik merk juga harus mulai mengarah ke value inovation, yakni meningkatkan benefit dari sisi produk namun dengan harga yang terjangkau.

diskon belanja

“Konsumen di kelas menengah menjadi semakin aware dengan produk. Sedangkan dengan segmen-segmen yang berbeda antar tipe konsumen maka pemilik merk mempromosikan melalui media yang mudah diakses oleh konsumen, cutting cost dan menaikkan kualitas,” katanya.

Para pelaku usaha di bidang kesehatan, seperti laboratorium, layanan kebugaran, makanan-minuman, serta obat-obatan, mesti jeli mengurangi ongkos produksi dan memilih kategori obat dengan kandungan sama tetapi harga lebih murah. Pebisnis online travel juga dituntut melakukan efisiensi dan gencar melakukan promosi karena pelanggan mereka di kelas menengah tentu akan memburu tiket dan voucher hotel promo yang harganya lebih murah.

“Ketika resources belum banyak, tapi konsumen semakin pintar, mereka akan berpikir bagaimana uang yang sedikit ini bisa membeli kebutuhan. Kelas menengah itu banyak pertimbangan antara uang yang dikeluarkan dengan mutu barang yang didapatkan. Contohnya, Midnight sale yang booming 3-4 tahun lalu. dimana barang dan merk yang dijual adalah bermutu bagus tapi dijual dengan diskon,” ujarnya.

Yuswohady menjelaskan, aktivitas olahraga masih diminati, tak hanya lebih sehat tetapi juga untuk eksistensi diri. Sebesar 34 persen masyarakat kelas menengah memilih jogging. Tahun 2014 lalu, aktivitas jogging mulai menjadi lifestyle. Hal ini terlihat dari adanya Car Free Day setiap seminggu sekali di beberapa kota besar, bahkan banyak lomba lari yang dengan peserta membludak. Disusul, futsal sebesar 17 persen. Makanan berserat masih pilihan utama. Yang menarik, makanan organik mulai banyak diminati walaupun masih di posisi kedua setelah makanan cepat saji.

“Media yang memengaruhi pembelian kelas menengah kebih kepada media horizontal seperti media sosial. Kekuatan terbesar adalah hubungan dari pergaulan, teman, dan lingkungan. Lebih mudah meniru sesuatu yang dilakukan teman sepergaulan ketimbang sesuatu yang dibuat-buat seperti iklan. Kalau teman kita ngegym dan mengupload ke media sosial, kita menjadi ingin mengikuti. Padahal, maksud dia bukan untuk mempengaruhi,” ujarnya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)