Apa Saja Persamaan Jalur Sutra Abad 21 dan Poros Maritim?

Yuliana Riana P, MM berfoto dengan ketiga pembicara.

Centre For ASEAN Public Relations Studies (CAPRS) menyelenggarakan talk show CAPRS Forum dengan tema “Hand in Hand through Belt and Road Initiative” di kampus LSPR Jakarta.

Forum ini merupakan acara talk show bulanan yang diadakan oleh CAPRS LSPR. Pada edisi kali ini, Forum menghadirkan tiga narasumber yaitu Dr. Yolanda Stellarosa, Taufan Teguh Akbari, M.Si dan Yohannes Don Bosco Doho, M.Phil. Ketiga pembicara merupakan dosen dan peneliti dari LSPR-Jakarta yang merupakan delegasi Indonesia untuk MOFCOMM Programme di China pada 2017.

Yuliana Riana P, MM, Head of CAPRS, menyatakan, forum ini merupakan event yang diselenggarakan bagi para peneliti dari LSPR-Jakarta dan Perguruan Tinggi lain di Indonesia. “Kami ingin memfasilitasi para peneliti di perguruan tinggi untuk berbagi hasil penelitiannya di bidang komunikasi dalam ruang lingkup ASEAN dan Mitra Dialog ASEAN," katanya..

Seperti diketahui, ASEAN memiliki 10 mitra dialog, yang meliputi Australia, Kanada, China, Uni Eropa, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia, Republik Korea dan Amerika Serikat. Kemitraan ASEAN dengan negara-negara lain turut mendukung pertumbuhan ekonomi ASEAN secara signifikan, dan China merupakan salah satu mitra kuat ASEAN, terutama dalam bidang perdagangan dan investasi.

Dalam paparannya, Yohannes menjelaskan, One Belt One Road (OBOR), Jalan Sutra abad ke-21, bisa menjadi mimpi besar perubahan dunia. OBOR diharapkan bisa menjadi pendobrak sekat-sekat garis batas yang menghubungkan manusia dari berbagai bangsa untuk mewujudkan kemakmuran bersama. Namun, yang perlu diperhatikan untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan partisipasi aktif berbagai negara, China tidak bisa menjadi pemain tunggal.

Lebih lanjut ia memaparkan, ada kesamaan bentuk antara Jalur Sutra modern abad ke-21 dengan Poros Maritim yang tengah di bangun oleh Pemerintahan Jokowi. “Benang merahnya, di China mereka membuat jalan kereta untuk menghubungkan China dengan negara-negara berkembang. Sedangkan Indonesia membuat Poros Maritim jalur laut untuk mendekatkan pulau satu dengan yang lain,” ujar Yohannes.

Baik Poros Maritim maupun Jalur Sutera modern, kata dia merupakan suatu kebijakan yang sangat strategis dan memiliki dampak ekonomi yang cukup besar. Dimana jalur tersebut akan memangkas waktu dan jarak tempuh pada proses distribusi produk.”Hal ini tentunya akan berdampak pada harga-harga yang akan semakin murah, karena biaya distribusi ekspedisi yang mengecil dan pendeknya waktu tempuh. Selain itu, dengan jalur ini, bahan baku produksi juga akan semakin dekat,” kata dia.

Sementara itu, Yolanda menuturkan, saat ini mahasiswa internasional di China mengalami pertumbuhan yang pesat yaitu sebanyak 4,4 juta mahasiswa dari 205 negara. Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara terbanyak yang mengirimkan mahasiswa untuk belajar di China. Salah satu hal yang perlu ditiru dari negara China, yaitu, memasukkan pelajaran wirausaha dan inovasi ke dalam kurikulum sekolah.

Lainnya, Taufan menyampaikan,  salah satu kunci kesuksesan China adalah  menggunakan internet untuk segala bidang. “Internet dimanfaatkan di berbagai bidang di China mulai dari pertanian, e-commerce, logistik, keuangan, transportasi dan kewirausahaan, sehingga bidang-bidang tersebut lebih berkembang sekarang,” kata Taufan.

Mao Shuo, Mission of the People Republic of China to ASEAN, dalam sambutannya mengatakan, program ini merupakan program yang tepat untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial, budaya, dan ekonomi di China. Diharapkan ke depannya, program MOFCOMM -- Kementerian Perdagangan China-- bisa diikuti secara berkelanjutan.

 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)