Cara BCA Bangun Social Branding

Seiring dengan perkembangan era teknologi, internet kini menjadi kebutuhan untuk setiap orang. Apalagi adanya pandemi Covid-19 membuat orang menghabiskan lebih banyak waktu di internet, khususnya di media sosial. Kondisi ini memberikan peluang baik bagi pelaku usaha, salah satunya adalah mengoptimalkan social media branding untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis.

Namun, membangun branding tentunya tidak mudah. Apabila tidak didesain secara matang, justru pelanggan akan hilang ketertarikannya. Terlebih ketika membangun brand di media sosial yang informasinya serba cepat. Sebagai bagian dari perbankan nasional, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pun mencermati kondisi tersebut dengan terus berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat maupun brand awareness perusahaan yang kini sudah serba digital.

Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Armand Hartono mengatakan, tiga tahun terakhir ini pihaknya fokus menjadi social brand, melakukan komunikasi dan memberi customer experience yang baik bagi nasabah. Menurutnya, penting memastikan sebuah perusahaan menjadi progresif. Tidak hanya dari sisi produk tetapi juga pola komunikasi dengan nasabah yang mengikuti zaman.

"Di tahun 90-an mungkin cocok komunikasi dengan billboard atau acara televisi. Tapi di tahun 2000 sampai sekarang harus ada elemen sosial. Komunikasinya bukan produk dulu tapi bagaimana manfaatnya, yang digambarkan melalui kehidupan sehari-hari nasabah. Bukan hanya asal menaruh iklan di media sosial, tetapi bagaimana kita berinteraksi dengan nasabah dan membuat BCA menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan SWA bertajuk "Brand Revival: Kebangkitan Merek-Merek Terbaik di Era Bisnis Baru", Kamis (25/11/2021).

Armand pun membagikan beberapa tips yang dilakukan pihaknya untuk menjadi social branding. Pertama, KISS (Keep It Short & Simple). Hindari konten promosi terlalu teknis, tidak interaktif dan berbicara untuk diri sendiri. Cara komunikasinya juga harus lebih sederhana dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

"Kita harus sesuai zaman, orang menggunakan mobile app maka mobile app kita harus bagus, always on, dan secure. Orang suka main sticker, kita gunakan sticker. Jadi lebih sederhana komunikasinya, hanya nonton 3 detik tapi orang sudah suka," terang Armand.

Kedua, SEX (Service Excellence customer eXperience). Jadikan nasabah sebagai evangelist. Kekuatan terbesar yang dapat dihasilkan oleh suatu brand adalah membuat pengguna atau konsumennya memiliki perasaan yang positif sehingga berdedikasi untuk membeli produk atau layanan dari brand tersebut berulang kali.

"Banyak yang tanya kenapa satpam BCA jadi maskot, karena kami melihat mereka menjadi bagian dari customer experience yang penting seperti halnya cleaning service dan mesin ATM. Kualitas satpam BCA ini pada akhirnya menjadi trending dan banyak dibicarakan di media sosial. Mengganti kartu ATM dengan e-KTP hanya melalui mesin juga banyak dibicarakan. Jadi tetap butuh solusinya dulu baru masukan ke komunikasi. Kalau memang bagus, nanti komunitas akan buat komunikasinya," katanya.

Ketiga, giving sense of entertainment content (edutainment). Lakukan komunikasi yang lebih sederhana dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. "Orang Indonesia itu suka entertainment, mau situasi sulit seperti apapun selalu cari happy. Sehingga tidak harus membuat iklan yang mahal-mahal, sesuaikan saja dengan kehidupan sehari-hari yang rada lucu."

Keempat, strengthening presence at community ecosystems. Bekerja sama dengan ekosistem, mulai dari UMKM, platform digital lain seperti e-commerce dan lifestyle. Kelima, berteman dengan trend. Tidak semua konten perlu arti yang dalam, brand bisa menggunakan konten-konten receh. Contohnya berinteraksi dengan nasabah menggunakan pantun di media sosial.

Keenam, hadir di momen spesial. Buat konten tematik seperti ketika Ramadan, Lebaran, Imlek, Natal, dsb. Terakhir, become master of story telling. Gunakan strong story telling untuk membuat konten yang menarik.

"Dengan dunia yang semakin kompleks, ini menjadi tantangan bagi brand. Bagaimana bisa menjadi diferensiator. Karena yang akan lebih diingat nasabah adalah mereka yang bisa melayani dengan baik. Jadi fundamentalnya adalah customer experience," tutur Armand.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)