Cara Robby Djohan Cetak Pemimpin

Salah satu kekuatan dari seorang pemimpin perusahaan adalah karakter atau gaya kepimpinan yang mereka miliki. Melalui karakter inilah para pengambil keputusan di perusahaan ini dapat menggerakan orang di sekitarnya. Dan seorang pemimpin dituntut untuk dapat menemukan inti masalah dengan cepat plus mencari penyelesaianya. Langkah pemecahan masalah harus mudah dimengerti semua orang, tapi memiliki visi jauh ke depan.

Hal itulah yang melekat di benak murid-murid maupun mereka yang pernah bekerja bersama mantan bankir, almarhum Robby Djohan, saat peluncuran serta bedah buku No Nonsense Leader dan The Guru, di Financial Club,Jakarta Selatan, (31/8/2016). Acara tersebut menjadi ajang reuni bagi beberapa anak didik Robby Djohan yang kini memegang jabatan strategis di berbagai perusahaan.

IMG_7334

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, Dirut Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmojo, Komisaris utama Pertamina, Tanri Abeng, serta beberapa jajaran petinggi perusahaan lainnya. Sebagian besar mereka yang hadir pernah merasakan tangan dingin Robby Djohan dalam mengatasi krisis perusahaan dan mengelola sumber daya.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan, sosok Robby Djohan merupakan guru baginya. Awal perkenalannya dimulai saat menangani krisis di Bank Niaga pada tahun 1986. "Strategi untuk penyelesaian masalah yang dilakukan Pak Robby sederhana dan mudah dimengerti. Ia juga berkomitmen dengan apa yang dia yakini," kata Agus.

Agus menilai, Robby sebagai sosok pemimpin yang memiliki kemampuan sangat baik dalam membaca kapasitas orang lain. Ia mengatakan bahwa Robby berani menjamin orang yang ia tunjuk atau percaya untuk memegang posisi tertentu. "Saya kasih jaminan leher saya kalau orang ini gak bener kerjanya , begitu cara Pak Robby menaruh kepercayaan kepada orang yang dia tunjuk," kata Agus.

Mantan menteri BUMN era Orde Baru, yang kini menjabat komisaris Pertamina, Tanri Abeng, mengatakan, sosok Robby ia kenal saat dua buah perusahaan yang milik negara saat itu berada di dalam krisis yakni Garuda Indonesia dan Bank Mandiri. Tanri harus mencari orang untuk menyelamatkan dua perusahaan plat merah tersebut.

"Waktu itu Presiden Soeharto  bilang Garuda mau dibangkrutkan karena utangnya besar. Saya harus menemukan orang untuk menyelamatkannya," ucap Tanri saat sesi bedah buku yang berisikan kumpulan tulisan Robby Djohan tersebut.

Dalam perjalanan kariernya Robby Djohan dikenal sebagai sosok yang mampu mengatasi berbagai krisis di perusahaan. Kariernya dimulai saat menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran pada 1968. Ia memulai karier di bank Niaga hingga menjadi Presiden Direktur pada tahun 1984. Ia pernah menduduki posisi Dirut Bank Mandiri dan Garuda Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)