Cashlez Dorong Peningkatan Pembayaran Digital

Cashlez sebagai perusahaan pengembang payment gateway yang menyasar semua segmentasi bisnis mampu memberikan fitur yang dapat diterima semua merchant dengan metode pembayaran seperti kartu kredit/debit, e-commerce, dan pembayaran mobile lewat aplikasinya Cashlez.

Didirikan sejak Juli 2015, Cashlez mampu menjawab permintaan pasar untuk menghadirkan solusi pembayaran yang mobile/digital, praktis, dan aman. Diharapkan dengan layanan metode pembayaran MPOS (mobile point of sale) lewat Cashlez, transaksi non-tunai dapat ditingkatkan nilai transaksinya sampai dengan 300% karena proses belanjanya yang lebih mudah dan praktis.

Teddy Setiawan Tee Direktur Utama PT Cashlez Worlwide Indonesia. Teddy Setiawan, Founder & CEO Cashlez.

Teddy Setiawan, Founder & CEO Cashlez, terus bekerja sama dengan regulator memperluas peluang bisnis dengan kemitraan strategis dengan merchant dan bank. Cashlez menciptakan cashless society dengan pembayaran frictionless dan digital yang dapat mendorong orang shifting pembayaran dari cash menjadi elektronik.

Saat ini, Cashlez telah terkoneksi dengan bank lokal di Indonesia yaitu Bank Mandiri, BNI46, Sinarmas dan Maybank Indonesia. “Pada 2016, Cashlez telah dipercaya untuk menjadi merchant aggregator oleh bank-bank tersebut yang kini telah memiliki lebih dari 500 merchant aktif dengan volume transaksi bulanan mencapai Rp 13 miliar,” ungkap Teddy.

Platform digital Cashlez tersedia di Google Playstore dan Appstore. Aplikasi ini disertai dengan card reader sehingga klien dapat melayani lewat Cashlez. Cara kerja Cashlez adalah menghubungkan aplikasi yang terkoneksi dengan server yang telah dibangun, dimana server tersebut akan juga terhubung dengan muliple bank di Indonesia untuk bisa melakukan rotasi dan juga switching.

“Kami melihat dari tahun ke tahun pengguna kartu semakin meningkat sekitar 16-17% setiap tahunnya. Hal ini juga diiringi dengan jumlah pengguna dan transaksinya. Kami juga melihat tren smartphone user yang semakin meningkat, prediksi kami di tahun 2018 ada 100 juta pengguna smartphone, jadi aktif berinternet lewat smartphone. Disinilah Cashlez muncul,” cerita Teddy.

Mesin MPOS yang menjadi bagian dari Cashlez memiliki benefit lebih dibanding dengan EDC dari berbagai sisi. Dari operasionalnya MPOS jauh lebih mudah dengan sekurii jauh lebih aman karena password berbeda-beda sesuai dengan user id.

Receipt di MPOS Cashlez disimpan secara soft copy dan dapat di download kapan saja. Network yang digunakan MPOS sangat dinamis, mengikuti koneksi yang tersedia di lokasi saat itu sehingga tidak menghalangi transaksi kapan dan dimanapun. “Selain itu, kami juga tengah menyiapkan solusi masa depan dengan mobile payment, Apple Pay, QR payment, dll. Maka kami kami terus improve sehingga suatu hari nanti ketika layanan teknologi payment itu masuk ke Indonesia, merchant-merchant kami sudah bisa siap menerima pembayaran tersebut,” ujarnya.

Cashlez memiliki pekerjaan rumah bagaimana mereka mempercepat distribusi kanal sehingga bisa lebih dikenal. Kini total lebih dari 1000 yang berhasil didistribusikan, angka tersebut terbilang kecil. Cashlez berupaya menggalang kerjasama dengan beberapa bank untuk dapatkan distribution network karena lewat bank adalah cara tercepat karena mereka telah memiliki rekanan merchant.

Kehadiran Cashlez ingin berkontribusi dari sisi teknologi untuk menciptakan kemudahan dalam hal pembayaran alternatif. Cashlez berusaha mendorong masyarakat untuk meminimalisir penggunaan uang fisik.

Di tahun 2017, Cashlez ingin menargetkan dapat menyebarkan 4.000 terminal dengan melakukan partnership dengan bank dan bisnis-bisnis lainnya. Tak hanya berkonsentrasi pada kerjasama bank saja, Cashlez juga akan mengembangkan kerja samanya dengan asuransi dan operator telekomunikasi karena tak semua orang memiliki akun bank tetapu hampir semuanya pasti memiliki nomor handphone.

Saat ini strategi pemasaran yang dilakukan Cashlez masih dalam bentuk B2B (business to business) dengan bank. Cara B2C (business to consumer) dilakukan Cashlez lewat website, nantinya akan ada direct selling ke UMKM, bazar, toko-toko souvenir yang biasa didatangi wisatawan. Ini memudahkan wisatawan yang memiliki kartu bank luar negeri untuk bisa bertransaksi. Lebih simple, tak perlu pergi ke money changer,” ungkapnya.

Diperkirakan hingga saat ini, pembayaran non-tunai di Indonesia hanya menyumbang 30% dari nilai seluruh pembayaran konsumen. Ada banyak kesempatan untuk pembayaran non-tunai untuk tumbuh terutama dengan Bank Indonesia yang mendorong untuk masyarakat tanpa uang tunai.

Reportase: Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)