Catatan Baik Ekspor Toyota Indonesia

Hingga kini, ekspor Toyota Indonesia sudah 30 tahun lamanya. Dmulai dari ekspor perdanana Kijang Minibus ke Brunei Darussalam tahun 1987 dilanjutkan tahun 1988 ekspor mesin ke Jepang. Tonggak penting lainnya, tahun 2005, ekspor Kijang Innova ke Gulf Cooperation Council  atau negara teluk yang menjadi market terbesar ekspor Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Tahun ini, TMMIN juga melakukan ekspor Toyota Sienta berstandar emisi Euro 6 atau level standar Eropa ke Singapura yang diproduksi di Pabrik Toyota, Karawang Plant 2. Menurut Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, dalam kurun waktu tiga dekade, total ekspor kendaraan utuh (Completely Buit-Up/CBU) bermerek Toyota mencapai lebih dari 1,1 juta unit, lalu 833.500 unit kendaraan terurai (Completely Knock Down/CKD), dan 1.47 juta unit mesin utuh serta lebih dari 648 juta potong komponen dengan dengan total nilai mencapai US$19 miliar atau sekitar Rp250 triliun.

Sepanjang semester I tahun 2017, produksi kendaraan utuh di pabrik TMMIN mencapai 114.000 unit. Tiga angka produksi tertinggi pada semester I 2017 dicapai oleh Toyota Fortuner sebesar 44.000 unit, Toyota Kijang Innova sebesar 33.000 unit dan Toyota Vios sebesar 16.000 unit. Sedangkan produksi untuk Etios Valco, Yaris dan Sienta mencapai 21.000 unit.

“Secara keseluruhan, pabrik TMMIN Karawang 1 dan 2 memiliki komposisi yang berimbang 50% : 50% untuk memproduksi kendaraan bagi pasar domestik maupun ekspor,” tambahnya. Ini sekaligus menunjukkan upaya perusahaan untuk berperan aktif terhadap perekonomian nasional dengan menjaga operasi bisnis sebagai perusahaan otomotif yang berorientasi ekspor.

Lebih dari 90% produk Toyota yang dipasarkan oleh Toyota Grup di Indonesia sudah merupakan produksi dalam negeri sendiri. “Model kendaraan yang diproduksi oleh pabrik TMMIN yaitu Etios Valco, Vios, Yaris dan Sienta menggunakan komponen lokal sebesar 60% - 80%. Sedangkan di segmen MPV dan SUV, penggunaan komponen lokal Kijang Innova mencapai 85% dan Fortuner 75%. Toyota terus melakukan upaya untuk meningkatkan rasio kandungan dalam negeri,” ungkapnya.

Sepanjang semester I/ 2017, TMMIN baru saja menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan pemasok lokal level 2 terkait produksi lokal resin dan material non-woven. Kedepannya, TMMIN akan terus menggandeng berbagai pihak untuk melokalkan beberapa material pembentuk komponen lainnya seperti baja, aluminium, dan plastik sintetis.

Untuk ekspor kendaraan bermerek Toyota, mencapai 99.000 unit atau meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sejumlah 84.000 unit. Pencapaian ini ditopang oleh ekspor Toyota Fortuner sebesar 33.000 unit, Toyota Vios sebesar 15.000 unit, Kijang Innova sebesar 6.000 unit serta Yaris dan Sienta sebesar 4.000 unit. Sedangkan angka ekspor untuk Avanza, Rush, Town/Lite Ace dan Agya mencapai 41.000 unit.

Sepanjang Semester I/2017, untuk kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knock down (CKD) ekspor mencapai 24.000 unit, komponen mencapai 48 juta buah part serta ekspor mesin tipe TR dan NR baik bensin maupun etanol mencapai 68.000 unit. “Tingginya minat konsumen di ASEAN terhadap model All New Fortuner menjadi salah satu faktor pendongkrak kinerja ekspor ini. TMMIN hingga saat ini sudah mengekspor mobil CBU ke 14 negara antara lain Malaysia, India, Filipina, Thailand, Taiwan, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Oman, Bahrain, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan Qatar,” ujarnya.

Ekspor nasional kendaraan secara utuh pada Semester I/2017 tercatat lebih dari 113.300 unit. “Berdasarkan data Gaikindo, dapat disimpulkan ekspor kendaraan bermerek Toyota di Semester I 2017 telah mencapai 87% dari total ekspor kendaraan Indonesia. Tahun ini Toyota menargetkan peningkatan ekspor kendaraan utuh bermerek Toyota sebesar 10% dibandingkan angka ekspor pada tahun 2016. Lebih dari 80 negara di kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika menjadi tujuan ekspor Toyota,” ungkap Warih.

Ke depannya, untuk meningkatkan ekspor TMMIN mempertahankan tujuan ekspor yang telah terealisasi. “Ini untuk menjaga kapasitas terutilisasi di tengah persaingan domestik yang terus meningkat,” tambahnya. Tidak kalah penting untuk memacu pertumbuhan ekspor, TMMIN harus meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan transfer teknologi lewat beragam pelatihan dan juga kompetisi.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)