Cegah Korupsi, Korporasi Bisa Juga Budayakan Sidak

Majalah SWA bersama Indonesia Institute for Corporate Govervance (IICG) tahun ini kembali menggelar penyerahan penghargaan untuk perusahaan-perusahaan paling terpercaya. Dalam helatan Good Corporate Governance Award The Most Trusted Company 2018 ini juga diadakan diskusi dengan tema Transformasi Bisnis dalam Kerangka GCG.

Pembicara pertama dalam diskusi ini Rene Suhardono pembicara pertama dalam diskusi ini mengungkap fakta menarik tentang perusahaan paling kaya sepanjang masa yang hancur karena korupsi. Seperti diketahui, di era digital banyak perusahaan modern yang nilainya melambung cepat akhir-akhir ini. "Ada 20 modern company yang jika digabungkan nilainya US$ 7,9 triliun, di antaranya Apple, Aphabet, Microsoft, Samsung, Facebook, Amazon, Netflix, Tencent, McDonald's, AT&T, Wells Fargo, Alibaba. Tapi nilai tersebut sama dengan nilai satu perusahaan Dutch East India Company yaitu VOC yang berdiri pada 1602," katanya.

Perusahaan asal Belanda ini lanjut Rene, berjaya dan berhasil mengeruk kekayaan Indonesia juga negara-negara lain dunia. Namun hancur hanya karena satu hal. "Korupsi di dalam organisasinya. Mereka dulu besar karena berpikir mendahulukan ecosystem, korupsi dalam organisasi tersebut egosystem, memikirkan diri sendiri. Pikiran dan perilaku buruk menular dengan cepat," katanya di Shangi La Hotel Jakarta (19/12/2018).

Pengalaman organisasi terbesar dunia tersebut menurut Rene harusnya bisa dijadikan pelajaran perusahaan baru saat ini. Bahwa dengan cara berpikir ecosystem seperti yang mereka kembangkan saat ini membuatnya cepat bertumbuh, namun tetap harus mengingat pentingnya GCG sejak awal berdiri.

Adnan Pandu Praja, mantan Wakil Ketua KPK yang juga juri obeservasi GCG 2018, menyampaikan pentingnya korporasi juga mengadaptasi budaya Sidak (inspeksi mendadak) yang diterapkan oleh kementerian, kemerintahan dan kelembagaan saat ini .

"Sebenarnya dalam semua sistem manajemen baik publik maupun privat, ada S.O.P dan aturan pelaksana, kemudian juga ada sistem kontrol yang sudah tertata. Tapi kalau semangat dan etos kerja belum maksimal, harus dikontrol agar bekerja dengan benar. Orang Indonesia itu kulturnya memang masih begitu, kalau tidak dikontrol belum embedded atau tertanam, begitu juga dengan privat bisa mengukuti cara ini terutama bagi yang corporate culture belum terbentuk," jelasnya.

Agar budaya GCG bukan sekadar di kulit ari, hanya governance ketika disidak, lanjut Adnan, harus ada stick and carrot dan evaluasi. "Dalam menegakkan budaya governance karyawan harus pahami, harus ada stick and carrot bahwa ini tidak main-main terhadap penyelewengan," tegas Adnan.

Belajar dari kasus-kasus korupsi korporasi yang pernah terjadi, seperti di salah satu BUMN, kata Adnan, artinya perusahaan belum membangun manajemen risiko bright, yang selama ini dikelola manajemen risiko fraud. Kalau ini dibangun tidak akan terjadi hal-hal ini. "Memang mahal membangun governance di perusahaan, tapi lebih mahal lagi jika terjadi korupsi di dalam terutama rusaknya nama, sulit membangun nama baik lagi," katanya. (Pendapat Adnan tentang pencegahan korupsi di korporasi bisa dibaca lebih detil pada Majalah SWA mendatang yang akan terbit 10 Januari 2018)

 

Editor : Eva Martha Raahyu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)