CGV Luaskan Pasar ke Seluruh Indonesia

Sales and Marketing Division Head PT Graha Layar Prima Tbk. (CGV), Manael Sudarman.

Persaingan industri bioskop di Indonesia dihadapi oleh CGV dengan menggencarkan strategi untuk menawarkan kerja sama ke production house (PH). Film yang diproduksi PH dapat menggunakan channel CGV untuk mempromosikan film mereka.

Cara tersebut dilakukan dengan memberikan kesempatan pada PH untuk memasarkan film yang akan dirilis dengan teaser berupa konten eksklusif, promosi melalui pemain utamanya di media sosial dan sebagainya, menuju hari film tersebut tayang. Dan CGV berusaha melakukan eksplorasi program marketing-nya.

Menurut Sales and Marketing Division Head PT Graha Layar Prima Tbk. (CGV), Manael Sudarman, pihaknya pun masuk ke kota-kota lapis II dan III yang masih belum terjamah fasilitas bioskop. “Kami tidak mau terus diam dan stuck di pasar Jakarta dan kota besar saja. Kami bergerak ke kota lapis II dan III, terakhir CGV baru membuka bioskop terbarunya di Tegal yang berada di gerai Transmart Tegal,” ungkapnya.

Peluang pasar industri bioskop di Indonesia dinilai Manael masih terbuka lebar. Jika total populasi dibagi total layar bioskop yang tersedia, saat ini di Indonesia baru 4,1 layar bioskop per 1 juta penduduk. Idealnya mencapai angka 20-25 layar per 1 juta penduduk. “Artinya potensi pasar bioskop masih sangat besar sekali, sehingga antar pemain besar tidak perlu berkompetisi,” ujarnya dengan nada bercanda.

Maka dari itu, CGV fokus menambah layar dengan menggarap pasar kota lapis II dan III. Ia melihat di kota lapis II dan III secara profil ekonomi cukup baik, kebutuhan primer sudah terpenuhi semua, melek informasi, namun saat mereka spending untuk leisure, tidak banyak pilihan tempatnya. Untuk itu, dengan masuknya bioskop tersedia pilihan untuk leisure time dengan informasi terkini soal perfilman Indonesia seperti masyarakat di kota besar.

Pembangunan bioskop CGV di setiap kota disesuaikan dengan pasarnya. Untuk kota lapis II dan III menggandeng Transmart. Untuk bisa masuk ke segmen pasar tersebut, katakanlah Tegal, memang ada penyesuaian. Secara tempat, ukuran, misalanya studionya tidak terlalu besar dan jumlah kursi sesuai standar. Sampai dengan Januari 2018, CGV telah tersedia di 45 lokasi dengan jumlah layar mencapai 288 layar. Targetnya, Maret akan menambah 2 bioskop. Menurut Manael, share revenue di tahun 2015, film lokal berkontribusi hanya 8%. Tahun 2016 naik menjadi 26%, sangat signifikan. “Tahun 2017 lebih dari 10 film Indonesia yang penontonnya di atas 1 juta, kontribusi film lokal terhadap revenue bioskop makin signifikan, dan penonton kita juga semakin mengapresiasi film Indonesia,” ujarnya.

Tahun 2013-2017, total site growth CGV  sebesar 55%. Sebagai contoh awal tahun 2017, CGV membuka 27 site, lalu tutup tahun 2017 telah memiliki 42 site. "Pertumbuhannya telah mencapai 50% dengan perkembangan total screen growth sekitar 40% sepanjang 2017,” paparnya.

Ke depan, CGV akan lebih fokus menggarap online. Bagaimana caranya agar CGV dapat hadir dik anal online dengan lebih baik dengan membangun strategi kemitraan bersama pemain besar dalam hal fitur, pembelian tiket yang lebih mudah, dan sebagainya. Selain itu, CGV juga akan memperbanyak alternatif dalam segi konten seperti kerja sama dengan Studio Gibli. Festival Film Vintage juga akan digelar CGV untuk film lama yang direstorasi. Tujuan pemutaran kembali film ini demi mengajak penonton bernostalgia dengan film lama versi orisinil.

 

Reportase: Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)