Chandra Asri Rutin Bayar Dividen Selama 5 Tahun

Untuk menjaga nilai sahamya tetap tinggi, dipercaya serta diapresiasi investor, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. terus berusaha meningkatkan kinerja keuangannya dan membagi dividen.

Upaya Chandra Asri tersebut berbuah manis. Setidaknya hal ini terefleksikana dari hasil survei  Wealth Added Index (WAI) yang dilakukan Majalah SWA dan Stern Value Management. Hasilnya, WAI Chandra Asri mencapai Rp70,88 triliun selama  tahun buku 2013-2017. Agar mendapatkan WAI positif, perusahaan harus memberikan total return untuk pemegang saham yang lebih tinggi dari cost of equity-nya. “Dalam lima tahun belakangan, kami selalu dapat membagikan dividen kepada pemegang saham baik dividen interim maupun dividen final akhir tahun,” ungkap Erwin Ciputra, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Tahun 2017 Chandra Asri membukukan pendapatan Rp32,77 triliun dan laba bersih Rp4,32 triliun. Capaian ini meningkatkat dibandingkan tahun sebelumnya (2016) dengan pendapatan Rp25,94 triliun dan laba bersih Rp4,03 triliun. Kapitalisasi pasarnya pun melonjak signifikan, dari Rp72,23 triliun pada 2016 menjadi Rp107 triliun pada 2017.

Kinerja keuangan sebagus itu tentu saja tak lepas dari dukungan sisi operasionalnya. Manajemen Chandra Asri selalu memastikan bahwa produksi berjalan sesuai dengan target pada tingkat optimum, tanpa kendala, sehingga kegiatan operasional pabrik berlangsung secara berkelanjutan. Sebagai perusahaan publik, perseroan pun terbilang rajin melakukan aksi korporasi. Maret 2018, misalnya, menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Chandra Asri Petrochemical  Tahap II Tahun 2018 dengan total nilai emisi sebesar Rp500 miliar.

Desember 2017, menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Chandra Asri Petrochemical Tahap I Tahun 2017 dengan total nilai emisi sebesar Rp500 miliar. November 2017, melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5 sehingga nominal saham baru menjadi Rp200 (dari sebelumnya Rp1.000). Masih di November 2017,  menerbitkan Senior Unsecured Notes dengan nilai emisi sebesar US$300 juta.

Biaya modal juga dijaga pada tingkat yang relatif rendah, per kuartal I/2018 rasio debt to capitalization sebesar 26%, cukup rendah mengingat financial covenant-nya berada di tingkat 50%. Artinya, manajemen sangat prudent menjaga tingkat rasio utang sehingga tidak membebani neraca keuangan. Adapun, ekspansi bisnis atau belanja modal didanai dengan kombinasi antara ekuitas, utang, dan kas internal.

Pada 2017, perseroan menambahkan modal dengan HMETD sekitar US$377 juta dan penerbitan surat utang global sebesar US$300 juta. Kedua perolehan dana tersebut, ditambah kas internal perseroan, dipakai untuk membiayai ekspansi bisnis, Secara makro, Indonesia merupakan net importir produk-produk petrokimia karena jumlah pemain di sektor ini sangat terbatas. Dengan terus bertambahnya populasi penduduk di Indonesia (diperkirakan sekitar 260 juta jiwa), potensi untuk mengembangkan skala usaha sangat besar.

Oleh karena itu, perseroan terus berupaya untuk memelihara keunggulan dengan menjalankan strategi usaha melalui penambahan kapasitas, pendirian pabrik baru, dan integrasi vertikal agar dapat menghasilkan diferensiasi produk yang lebih luasdan bernilai tambah dengan volume yang lebih besar untuk dapat memenuhi kebutuhan domestik yang terus bertambah.

Terobosan yang dilakukan Chandra Asri antara lain membangun pabrik butadiene yang merupakan satu-satunya di Indonesia hingga sekarang. Selain itu,  mendirikan perusahaan patungan dengan produsen ban internasional Michelin untuk mendirikan pabrik karet sintetis (stytrene butadiene rubber) yang akan beroperasi pada semester kedua tahun ini, sekaligus merupakan pabrik pertama di Indonesia. Pabrik ini akan memproduksi bahan baku ban ramah lingkungan (eco tyres).

Menurut, Erwin, perseroan fokus menjalankan bisnis yang berkelanjutan. Chandra Asri berinovasi dan berupaya memperkuat posisinya dengan memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dan menitikberatkan triple bottom line keberlanjutan. “Upaya ini untuk meminimalkan dampak operasional terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan lingkungan,” paparnya. Langkah konkretnya, antara lain beriventasi pada teknologi terkini dan berencana menginstal Enclosed Ground Flare (EGF), teknologi suar tanpa asap (smokeless flare) yang mampu mengurangi polusi udara, kebisingan, panas, dan emisi cahaya secara signifikan dibandingkan dengan penggunaan suar konvensional.

Perseroan juga mengembangkan pemanfaatan sampah plastik untuk campuran aspal. Uji coba telah dilakukan lewat pengaspalan jalan di lingkungan pabrik. Menurut hasil penelitian, campuran limbah plastik ini akan menambah daya tahan deformasi aspal dan tidak mudah retak. Penerapan jalan aspal plastik di lingkungan pabrik ini merupakan dukungan untuk target pemerintah dalam mengurangi limbah plastik sebesar 70% hingga tahun 2025.

Terkait dengan rencana pembangunan kompleks petrokimia kedua, Chandra Asri akan bekerja sama dengan universitas-universitas mitra untuk menyerap tenaga kerja, terutama para engineer muda. Hal ini dilakukan agar dapat terus berkontribusi pada pertumbuhan industri dan kemajuan ekonomi indonesia. “Kami selalu berupaya memastikan praktik bisnisnya berjalan dengan pola pikir sustainability agar bisnisnya dapat terus bertahan dan menciptakan kehidupan yang berkelanjutan,” ujar Erwin menutup penjelasannya.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)