CII Dorong Pemerintah Susun Roadmap Ekonomi Carbon Sirkular

Fenomena krisis iklim yang jamak terjadi dalam beberapa tahun ke belakang, nyatanya menjadi ancaman bagi eksistensi manusia dan makhluk hidup di dunia. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya karbon yang berdampak pada meningkatnya gas rumah kaca. Bencana ini pada akhirnya menyebabkan krisis sosial seperti kemiskinan, pencemaran, kekeringan, hilangnya akses masyarakat terhadap air bersih, dan menghancurkan ekosistem manusia dan alam.

Untuk mendorong pemerintah dalam mengambil kebijakan yang ramah terhadap lingkungan dan tindak lanjut dari hasil pertemuan konferensi Perubahan Iklim COP 26 di Glasgow, sejumlah pakar mendirikan Asosiasi Carbon Inisiatif Indonesia (CII) hari ini (06/11/2021). CII didirikan untuk menjadi think-tank bagi pemerintah dalam menyusun roadmap percepatan ekonomi carbon sirkular di Indonesia. “Asosiasi Carbon Inisiatif Indonesia adalah untuk mengawal ekonomi carbon sirkular Indonesia demi kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Audey Sjofjan, Ketua Umum Asosiasi CarbonInisiatif Indonesia.

Dia mengatakan latar belakang didirikannya CII berasal dari adanya kekahawatiran akan kebutuhan tenaga ahli dari luar lingkar pemerintahan ketika membuat regulasi atau roadmap pemerintah. Selain itu, organisasi ini juga didirkan agar iklim usaha terkait ekonomi carbon sirkular dapat lebih menarik untuk dilakukan oleh pelaku usaha. “Kami mem-propose CII akan mampu melahirkan incubatees yang mempunyai modal dasar ilmu pengetahuan, human capital dan financial yang kuat serta exclusive market yang mempunyai high technology pada proses ekonomi sirkular, zero emission, lower foot-print dan high profit margin serta ramah lingkungan,” ujarnya.

Dalam deklarasinya, CII berkomitmen untuk ikut mengakselerasi ilmu pengetahuan dengan dunia internasional. Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan metoda baru berupa deposito carbon farming, deposito carbon building and construction, deposito carbon fisheries, deposito carbon rebuilt of a new forestry to enhance growing rate of forestry vegetative yang ujungnya untuk ikut memperbaiki paru-paru dunia.

Masih dalam komitmen deklarasi yang dibacakan tadi sing, CII merekomendasikan pemerintah untuk menerapkan program mitigasi untuk sektor energi dengan mengoptimalkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan melakukan rekayasa BBM, sehingga kalori yang dikandung mampu menghasilkan energi minimal 80%. Optimalisasi tersebut tidak hanya diberlakukan untuk pembangkit listrik batubara, tetapi juga mesin-mesin generator. “BBM dapat efisien hingga 30% di masyarakat, dampak positif penghematan 30% melalui rekayasa bbm maka dapat disimpulkan 30% bbm tidak menjadi emisi gas rumah kaca dan devisa negara juga terselamatkan,” kata Audey.

Sementara itu, Triyansyah Putra, CII bidang Carbon Storage & Trading, mengatakan bahwa pemanasan global dapat menimbulkan resiko yang besar bagi masa depan. “Apakah kita siap menghadapi penurunan 18% dari PDB global jika kita gagal mempertahankan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030? Sebagai perbandingan, penurunan PDB global akibat pandemi saja sekitar 3%. Dari 3 persen menjadi 18 persen, itu enam kali lipat.”

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)