Cinemaxx Siap Buka 2.000 Layar Bioskop

Anthony Sondakh, Deputi CEO PT Cinemaxx Global Pasifik (Cinemaxx).

Dibukanya Daftar Negatif Investasi (DNI) di industri film bertujuan menarik investor asing untuk masuk mengembangkan industri perfilman nasional. Kondisi ini memberikan kesempatan yang luas untuk membuka pasar dan mendapatkan pengalaman dari luar negeri.

Keputusan pemerintah perihal DNI senada dengan kondisi perfilman Indonesia yang saat ini sedang ciamik. Keduanya menciptakan gairah bisnis, khususnya bagi penyedia layar bioskop untuk bermain di Indonesia. Memang kebutuhan akan layar bioskop belum sebanding dengan jumlah minat penonton yang kian hari kian melonjak, apalagi di daerah.

Anthony Sondakh, Deputi CEO PT Cinemaxx Global Pasifik (Cinemaxx), mengakui perkembangan industri perfilman Indonesia sangat bagus saat ini.  “Pada periode 2015 ke 2016 melonjaknya sangat tinggi. Bukan saja jumlah film Indonesia yang bertambah, tapi film-film yang berbobot semakin banyak,” ungkapnya.

Perkembangan film nasional ini secara tidak langsung mendorong laju pertumbuhan bioskop. Semakin banyak film yang dimainkan, semakin banyak kebutuhan layarnya, Baginya, industri film saat ini menciptakan produsen film yang semakin beragam dan meningkatkan industri tersebut. Cinemaxx menargetkan semua segmen pasar, bukan hanya penonton usia muda saja.  Maka dari itu, saat menentukan harga tiket, pihaknya selalu melakukan riset pasar di setiap daerah. “Dilihat daya beli di daerah tersebut, lalu dihitung formulasi yang tepat. Sehingga harga tiket Cinemaxx di masing-masing daerah berbeda,” jelasnya.

Baru-baru ini Cinemaxx membuka bioskopnya di Jember. Total telah hadir 203 layar bioskop yang disediakan di 41 gerai bioskop yang dikelola Cinemaxx. Pertumbuhan yang luar biasa sejak 2014 dialami Cinemaxx. Di awal tahun hingga Februari, telah dibuka 7 bioskop dan targetnya akan membuka 150 layar lagi. Anthony percaya industri film terutama peluang bisnis bioskop ini masih sangat besar, terlebih Indonesia sangat luas, masih banyak daerah yang belum tersedia bioskop.

Anthony meyakini dalam 10 tahun ke depan akan ada 2.000 layar bioskop di bawah Cinemaxx yang akan dibuka. Menurutnya, geliat pertumbuhan perfilman Indonesia sangat luar biasa. Indikasinya, semakin banyak film Indonesia yang bisa bertahan lebih lama di layar bioskop  dan  Cinemaxx akan terus mendukung industri film dalam negeri.

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)