Cita-cita Besar Falcon Pictures untuk Jadi Studio Film 

Produser Falcon Pictures, Frederica

Beberapa film Indonesia laris dilahirkan oleh rumah produksi satu ini. Falcon Pictures, bisa disebut sebagai salah satu mesin produksi film box office Indonesia yang sukses menghadirkan karya sineas Tanah Air.

Produksi filmnya dimulai dari Comic 8 Part 1 yang berhasil menggaet 1,6 juta penonton, dan dilanjutkan Comic 8 Part 2 yang meraih 1,2 juta penonton. Tak berhenti di situ saja, Falcon  menorehkah prestasinya lewat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang belum genap tiga hari diputar, berhasil menarik animo lebih dari 1 juta penonton. Dalam masa penayangannya, film remake Warkop DKI ini sukses menggaet 6,8 juta penonton.

Formula Warkop DKI ala Falcon  berhasil menggeser jumlah penonton film Laskar Pelangi (4,6 juta penonton) yang memegang rekornya sejak tahun 2008 sebagai film terlaris. Berawal dari film Comic 8 yang menghadirkan sosok Indro Warkop, Falcon  berinisiatif untuk membuat film Warkop baru. Sosok Indro  yang dianggapnya masih dicintai masyarakat Indonesia ini dilahirkan lagi lewat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!.

Menurut Produser Falcon Pictures, Frederica, konsep seperti ini sudah pernah dipakai di Hollywood dan dia pun tertarik menerapkan di perfilman Indonesia. Usia Falcon Pictures yang terbilang masih muda, yaitu didirikan tahun 2010 oleh Frederica bersama mitranya, H.B. Naveen, mantan eksekutif top Bhakti Media (MNC Corp.). Menurutnya, keberhasilan Falcon Pictures saat ini dilalui tidak mudah. Tidak semua film produksinya berhasil. “Tidak tiba-tiba langsung melejit. Kalau dilihat track record-nya, kami banyak juga menangis darah,” ungkapnya.

Sebanyak 10 film awalnya, Falcon mengalami kerugian dan harus bangkit. Keseriusan dan semangat pantang menyerahnya ini yang mengantarkan dirinya dan perusahaan hingga di posisi saat ini. Tahun 2017, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 kembali menjadi fenomenal di industri perfilman Indonesia. Di tahun 2018, Dilan 1990, hasil kerja samanya dengan Max Pictures turut mendulang kesuksesan yang paripurna dengan menggaet lebih dari 6 juta penonton.

Baca: Berkah Dilan 1990 untuk Max Pictures

Keberhasilan Falcon dalam menciptakan antusiasme Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! dan Dilan 1990 menjadi kerja keras yang membuahkan kesuksesan. Tidak hanya mempertimbangkan dari sisi produksi, tapi juga sisi promosi dilakukan secara maksimal. Falcon selalu melihat data di lapangan sebagai acuan perhitungan atau kalkulasi bisnis dalam memproduksi film-filmnya.

Cara tersebut juga dilakukan peraih Best Producer di ajang Indonesia Box Office Movie Award 2016 saat hendak meluncurkan film tentang Dilan. Diambil dari novel best seller karya Pidi Baiq, berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990, Falcon  melihat penjualan novel ini bagus dan konsisten dalam tiga tahun terakhir. “Intinya yang dilihat adalah potensi dan animo masyarakat. Kami melihat Dilan ini besar sekali potensinya,” tambahnya.

Proses pemilihan aktor utamanyapun sangat serius saat menggarap Dilan 1990 dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!. Untuk Dilan 1990, pencarian dilakukan lebih dari dua tahun, sedangkan aktor untuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Dipilih kelas A. Melibatkan langsung Pidi Baiq dan Indro Warkop pada masing-masing film sengaja dilakukan untuk menyatukan pilihan pemain dengan konsep ceritanya.

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Erica ini, rata-rata biaya produksi Falcon berkisar Rp5 - 7 miliar per film. Namun, untuk film dengan penggunaan banyak comupter graphic image (CGI) bisa menelan hampir Rp10 miliar. “Ini terjadi pada film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! yang menggunakan cukup banyak CGI dan syuting di Malaysia,” ungkapnya.

Untuk pendanaan, Erica mengungkapkan sejauh ini masih dilakukan secara internal, belum melibatkan investor dari luar. Sponsor untuk film tetap ada, namun bujetnya relatif tidak besar, kisaran Rp1 - 2 miliar. Sponsor Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! adalah operator telekomunikasi Tri (3) dan es krim  Cornetto untuk Dilan 1990. “Dana dari sponsor biasanya bukan untuk membantu biaya produksi, tapi untuk promosi agar lebih besar lagi,” ujar Erica.

Pada umumnya film-film rilisan Falcon berbiaya produksi tinggi. Oleh karena itu, ia memperkirakan titik impas (break even point/BEP) akan tercapai rata-rata dengan jumlah penonton minimal 1 juta orang. Biaya promosi juga menjadi senjata Falcon  untuk mendongkrak penjualan filmnya. “Untuk film Dilan 1990, kami pede  bakal tembus lebih dari 1 juta penonton. Kami mengucurkan hampir Rp10 miliar untuk promosi, walaupun tidak sebesar Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!,” ungkapnya.

Biaya promosi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! mencapai Rp20 miliar dan menjadi biaya paling besar dalam sejarah produksi Falcon. Hal ini diamini oleh Sekretaris Korporat XXI, Chaterine Keng yang menilai Falcon untuk urusan promosi memang pelopornya. Perusahaan ini melihat urusan promosi itu sama pentingnya dengan prduksi. Terlepas dari biaya promosi yang begitu besar, perusahaan film ini  juga berusaha menciptkan sebuah tren sehingga dapat menyentuh semua kalangan. “Kami menggunakan media sosial, billboard, standing banner, dan televisi,” tambahnya. Selain itu, Falcon memiliki aplikasi OTT (over the top) channel sendiri yaitu Klik Film yang dapat diunduh di smartphone.

Di 2018, Falcon  berencana dapat merilis 10 film dengan berbagai macam genre. Diharapkan secara kuantitas lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk memosisikan diri untuk menjadi studio film, agar dapat berkembang. Erica ingin perusahaan ini bukan hanya sebagai production house biasa, tapi ia bercita-cita menjadi besar seperti studio internasional  Disney, 21 Century Fox, atau Paramount.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)