Cita Rasa Lokal Lewat Desain Sepatu Brodo

Kreativitas muda-mudi Bandung tidak perlu diragukan lagi. Kota dengan seabrek bakat ini telah menelurkan pemain-pemainya di industri kreatif Indonesia. Salah satunya, merek sepatu kulit Brodo. Berawal dari sulitnya mencari ukuran sepatu miliknya, Yukka Harlanda mendapat ide bisnis sepatu ini. Bersama temannya, Putra Dwi Karunia, pada tahun 2010 mereka mendirikan Brodo, merek sepatu dengan material kulit desain mereka.

CEO Brodo, Yukka Harlanda.

Sepatu Brodo kebanyakan memakai material dari pengrajin lokal yang tersebar di Bandung, Cianjur, Sukabumi, dll. Material kulit dikombinasikan dengan bahan-bahan lokal menjadi signature yang diusung Brodo lewat setiap desainnya. Menurut Head of Marketing Brodo, Arif Hidayah, material lokal digunakan karena kualitasnya tidak kalah dari material impor dan sekaligus Brodo ingin memberdayakan pengrajin lokal di sekitarnya. “Selain itu, kami sudah paham sekali di mana saja bisa mendapatkan bahan-bahan lokal dengan kualitas terbaik di Jawa Barat,” ungkap Arif.

Sangat dimengerti bahwa pesaing dengan jenis usaha yang sama hadir menjadi penantang Brodo, terlebih yang desainnya menggunakan produk lokal. Menjawab kondisi itu, Brodo senantiasa memastikan hasil desainnya tetap mengikuti tren. Salah satunya, melalui kolaborasi dengan pesepakbola Indonesia Bambang Pamungkas. Brodo juga memaksimalkam semua saran dan media, terutama cara digital melalui platform media sosial dan website. Selain membuka flagship store, Brodo pun menyediakan pembelian secara online. Demi mengembangkan bisnisnya lebih lagi, kini Brodo juga memproduksi aksesori dan apparel berkualitas.

Lahir dengan idealisme untuk mengangkat budaya lokal telah menjadi ciri Brodo. Unsur-unsur budaya lokal sengaja dimasukkan pada beberapa varian produknya, seperti motif batik parang di beberapa sol sepatu. “Kami brand yang cukup concern dengan nasionalisme dan kami mencoba menampilkan sisi Indonesia di beberapa desain boots Brodo. Beberapa produk kami juga pernah memasukkan beberapa motif dari Tana Toraja,” kata Arif. Desain Brodo selalu menyinergikan lokalitas dengan nama seri di setiap koleksinya yang berbau luar negeri seperti Signore, Ventura, dan Pronto.

Hadirnya Brodo sebagai brand lokal sangat diapresiasi luas, terbukti dari pasar yang dimiliki Brodo untuk produk mereka. Awalnya Brodo menyasar target anak muda untuk pembelinya, tetapi hasil riset saat ini usia kerja dengan rentang usia 25-30 tahun menjadi concern target Brodo. Saat ini total Brodo telah memiliki enam flagship store yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bekasi, Surabaya, dan Yogyakarta, serta tujuh pop-up store di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. “Sepatu Brodo dijual dengan kisaran harga Rp 300 ribu sampai Rp 3 juta. Brodo kini fokus di domestik, belum ada target ekspor dan masih memaksimalkan di domestik dulu,” katanya.

Konsistensi Brodo dalam menggunakan kualitas terbaik dilakukan untuk meningkatkan brand. Dari sisi desain, eksplorasi desainer dalam menciptakan desain sepatu, apparel, dan aksesori menjadi inovasi untuk mengikuti tren yang ada. “Kami berusaha setiap bulan dapat launching desain baru dan kami berharap dapat konsisten terus,” ujar Arif. Promosi dibentuk sedemikian rupa melalui kolaborasi dengan beberapa influencer yang relevan dengan brand value Brodo. “Seperti kolaborasi Brodo dengan PSSI dan Bambang Pamungkas untuk pengadaan untuk sepatu formal mereka (pemain PSSI). Dari situ kami merasakan ada peningkatan brand awareness,” ungkapnya.

Adanya brand lokal sejenis dihadapi Brodo dengan tetap menjaga dan memaksimalkan sisi pascajual seperti komplain melalui layanan pelanggan. Komplain dari pelanggan mereka akan ditindaklanjuti secepatnya. “Brodo akan terus konsisten berada di jalur untuk para gentlemen dan juga akan fokus memproduksi pakaian untuk pria sebagai pengembangan usaha,” kata Arif.

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)