Commeta Tunggangi Disrupsi Digital dengan Produk dan Layanan Baru

Grup Commeta saat peluncuran Tissor, kunci digital dan pengenalan layanan gudang

Era industri 4.0 sudah memengaruhi bisnis di Indonesia. Terjadi disrupsi digital di berbagai bidang. Banyak pelaku bisnis melambat karena tidak bisa beradaptasi dengan cepat, namun ada juga pemain yang justru melihat perubahan tersebut sebagai peluang. 

Hal ini pula yang ditangkap Grup Commeta yang bergerak di produk-produk digital dan solusi logistik ini. Salah satunya di bidang kunci digital untuk memenuhi rasa aman bagi pemilik properti. “Kami melihat orang makin ingin meningkatkan rasa aman. Dengan kunci digital dari kami di bawah PT Tissor Indonesia, memperkenalkan pelopor kunci pintar yang memiliki beragam fitur mulai dari akses kunci fingerprint, PIN password, ID card hingga remote control. Tentu hal ini dapat menambah rasa aman bagi para pemilik properti,” terangnya di Senayan City Jakarta (05/02/2019). 

Menurutnya, perkembangan industri sekarang sudah mulai ke arah digital salah satunya adalah produksi kunci. Pihaknya mengambil peluang ini guna menjawab keinginan yang meningkat dari masyarakat saat ini terhadap pemenuhan rasa aman.

Selain itu, Eriqa Sutjitro, Sales Manager PT Tissor Indonesia, menambahkan, konsep dari kunci pintar atau sejenisnya memang masih belum masif berkembang di Indonesia.

Namun hal itu tidak menutup kemungkinan konsep ini akan menjadi tren kunci baru di industri properti ke depan. “Akan ada masa kunci konvensional akan digantikan dengan konsep kunci pintar layaknya di Eropa atau Amerika saat ini,” tambah Eriqa. Ia mengakui, tren kunci pintar masih belum  belum familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Tapi dengan edukasi ia yakin bahwa kesadaran akan mahal dan pentingnya keamanan akan meningkat dan disinilah pentingnya kunci pintar di rumah dan aset mereka. 

“Kami lihat di luar negeri, seperti Eropa juga sudah banyak menggunakannya. Tapi benar-benar beda segmennya, maka itu produk yang kami tawarkan tentu disesuaikan dengan kondisi  pasar Indonesia, agar mereka mau beralih dari konvensional kepada kunci pintar dari Tissor,” jelasnya.

Melihat sulitnya mengubah paradigma dari masyarakat mengenai kunci pintar, ia pun membidik pasar milenial, yang melek digital dan paham akan gaya hidup baru saat ini. Tidak heran strategi penjualan pun lebih didominasi melalui digital channel. 

“Kami menjual produk kunci digital ini melalui e-commerce ataupun marketplace, targetnya para eksekutif muda ataupun para pemilik bisnis muda yang tingkat kebutuhan keamanan dan mobilitas tinggi. Mereka juga cepat menerima perubahan digital,” kata Eriqa. Sayang saat ini dia tidak mau menyebut target penjualannya. Hanya mengatakan ingin sebanyak mungkin bisa menjual Tissor. 

Peluang bisnis lain di era disrupsi digital dibidik Commeta adalah menangkap berkembangnya bisnis penjualan online dan gaya hidup di apartemen yang meningkat dengan menyediakan platform Kabinet yang menawarkan jasa penyewaan gudang. Menurut Septianus, bisnis pergudangan (warehouse) saat ini ikut melesat seiring perkembangan bisnis online. Sayangnya, bisa dihitung dengan jari pergudangan representatif yang sesuai dengan kebutuhan industri dan rumah tangga.

“Insipirasi platform Kabinet dari bisnis Airbnb tapi kami kembangkan untuk penyimpanan barang sebagai solusinya mirip kontrakan untuk barang,” imbuhnya.

Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil yang  bingung untuk penyimpan barang karena mahalnya sewa lahan. Belum lagi mereka membutuhkan tempat penyimpanan barang dalam jangka panjang dan solusi ini kurang tersedia. Jadi para UMKM ini membutuhkan solusi gudang kecil, sesuai dengan jumlah barang yang disimpan saja. 

Maka itu Septianus menyediakan beberapa pilihan layanan Kabinet tergantung dimensi gudangnya. Mulai dari, gudang kecil berukuran 1 m x 2 m x 2 m  dengan sewa Rp 510 ribu per bulan. Ada juga yang ukuran menengah 2 m x 2 m x 2 m dengan tarif sekitar Rp 999 ribu per bulan. Hingga yang berukuran besar 2 m x 4 m x 2 m dengan tarif Rp 1,950 juta per bulan. 

Bernadeth, Sales Manager dari PT Primatama Duta Antaran, perusahaan yang mengelola Kabinet, mengatakan , strategi pemasaran ditawarkan pihaknya guna meningkatkan platform ini, salah satunya dengan tawaran promo 1 bulan gratis untuk menggunakannya. “Bukan hanya penjual online sasaran kami, juga para keluarga muda yang tinggal di apartemen. Seperti kita ketahui, ruang apartemen terbatas, mereka kan punya barang bertambah, bisa sewa Kabinet sesuai kebutuhan ruangnya untuk menyimpan stroller misalnya,” tambahnya. Pihaknya juga menjamin keamanan barang pelanggan dengan jasa asuransi yang bisa mendapat maksimal penggantian Rp 3 juta, jika barang rusak atau hilang. 

“Layanan ini kami sebut city storage, ditawarkan sejak 6 bulan lalu, tapi akupansinya sudah 60% dengan kapasitas 50 kamar,” tambah Bernadeth.  Layanan kedua dari platform Kabinet adalah warehouse storage, layanan ini lebih luas dari city storage, yang merupakan layanan pergudangan one stop solutions.

Saat ini, layanan ini ada di 4 titik lokasi di Jakarta, jadi semacam berbagi gudang, menyediakan tempat bersih dan aman dengan 3.600 m2 di Pondok Randu, area Bandara Soekarno-Hatta  4.000 m2, Latumenten-Grogol 1.000 m2 dan daerah Kapuk 360 m2. Harga sewanya mulai dari Rp40 ribu/m2/bulan, ini diluar biaya pengiriman, jika klien ingin mengirim barangnya ke pelanggannya.   Menurutnya saat ini okupansinya sudah mencapai 75%. 

Ia mengklaim, stock accuracy layanan ini mencapai 99,09%. Ada pelanggan sebuah e-commerce besar yang menggunakan layanan ini secara total solutions: mulai dari packing, memberi label, kirim ke palanggan hingga unboxing. Klien cukup 3 bulan sekali mencek barang mereka.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)