CORE Prediksikan Pertumbuhan Ekonomi 5,2% di 2019

Perlunya memaksimalkan bonus demografi untuk bisa beranjak pada kondisi middle income trap dan mencapai pertumbuhan ekonomi 7% dalam beberapa tahun ke depan

Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economy (CORE) dalam diskusi “Tinjauan Ekonomi pada Triwulan I Tahun 2019”, memprediksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 akan berada pada kisaran 5,1-5,2 %.

Faktor yang memengaruhi adanya perkembangan positif yang ditandai oleh meredamnya perang dagang. Lalu, harga minyak dunia pun cenderung menurun, ditandai juga dengan suplai yang meningkat namun dengan permintaan yang menurun. Selain itu, adanya pengetatan moneter The Fed yang lebih progresif dari sebelumnya.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada 5,1-5,2% ini merupakan dampak dari beberapa faktor yang terjadi, di antaranya kestabilan konsumsi rumah tangga, peningkatan belanja pemerintah, namun akan adanya pelambatan pada investasi, impor dan ekspor. “Sejauh ini inflasi tetap terkendali dan relatif rendah, tercatat per Maret 2019 hanya mencapai 2,48%,” papar Faisal.

Faisal memaparkan, hingga akhir 2019 ini, ada beberapa hal yang harus diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan, di antaranya potensi peningkatan kembali harga minyak dunia, perubahan iklim yang berpotensi menggangu produksi pangan, penurunan harga komoditas, serta perlambatan ekonomi global yang berdampak lebih besar terhadap ekspor daripada impor.

Sejauh ini, Indonesia telah berada pada middle income trap selama 23 tahun, kondisi dimana tingginya dominasi kelompok pendapatan kelas menengah ke bawah. “Indonesia baiknya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan bonus demografi yang ada. Hal ini harus diupayakan sesegera mungkin karena nantinya akan lebih sulit mencapai pertumbuhan ekonomi 7% jika bonus demografi ini sudah tidak ada,” paparnya.

Pertumbuhan ekonomi memang sudah berada di kisaran 5%, namun ternyata ketimpangan ekonomi di Indonesia masih lebar. Ketimpangan ini tidak hanya terjadi sejak 5 tahun terakhir, namun sudah terjadi sejak 20 tahun ke belakang. Terlihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di pulau Jawa yang mendominasi hingga 59% dibandingkan pulau lain, seperti Sumatera 21%, Kalimantan 8%, Sulawesi 6%, Maluku dan Papua 3%, serta Bali dan Nusa Tenggara 3%.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)