Cottonink Pilih 4 Figur Wanita untuk Wakili Usia Segmen Pasar

Carline Darjanto, Creative Director Cottonink dan Ria Sarwono, Brand and Marketing Director Cottonink

Cottonink memilih Vanesha Prescilla, Isyana Saraswati, Raisa, dan Dian Sastro untuk berkolaborasi menghasilkan desain koleksi terbarunya di usia yang ke-10. Keempat figur wanita tersebut ikut merancang desain koleksi tersebut sesuai dengan kepribadian masing-masing.

Hal tersebut, diungkapkan oleh Carline Darjanto, Creative Director Cottonink pada Senin (3/9/2018), merupakan strategi Cottonink untuk mewakili setiap segmen usia target pasar brand  fesyen lokal tersebut. “Empat wanita ini sangat beda umurnya. Dari umur di bawah 20, awal 20, akhir 20, pertengahan 30. Saya bilang memang range umurnya jadi jauh sekali, makanya ada dua label yang kita tonjolkan. Untuk Isyana dan Vanesha itu labelnya Cottonink. Sedangkan untuk Raisa dan Dian ada Cottonink Studio yang lebih mature.” Ia menegaskan bahwa target pasar Cottonink adalah wanita usia 18 hingga 40 tahun.

Ria Sarwono, Brand and Marketing Director Cottonink menjelaskan bahwa selain Cottonink dan Cottonink Studio, brand tersebut juga memiliki tiga label lain, “Seiring berjalannya tahun, kami mulai dewasa, dan menuangkan hal semangat dalam beberapa label fesyen," ujarnya.

Pertama, Cottonink untuk target pasar 18-25 tahun. Lalu, Cottonink Studio 25-35 tahun. Selanjutnya, Cottonink Archipelago, label yang di mana kita pakai kain-kain nusantara. Tahun ini kami ada dua label baru, Sedangkan Cottonink Mini, untuk anak anak bayi hingga 5 tahun dan Cottonink Active untuk memenuhi kebutuhan olahraga mengingat healty lifestyle yang sedang booming.

Ia menambahkan, Cottonink terlahir dari kebutuhan kedua pendirinya akan baju yang berbeda dari pasaran. Seiring berjalannya waktu, Cottonink membuka label turunannya, berawal dari kebutuhan keduanya akan jenis pakaian yang dikhususkan pada tiap label.

“Kami melihat, apa yang dibutuhkan pada waktu itu. Cotoonink hadir karena saat itu aku dan Carline butuh baju yang beda dari di pasaran. Seiring berjalannya umur kami butuh baju yang lebih rapi, makanya bikin Cottonink Studio. Sempat juga butuh baju untuk ke undangan tapi yang tidak terlalu serius, makanya ada Cottonink Archipelago. Sekarang kita punya anak, kita ingin anak kita punya baju Cottonink," ungkapnya.

Untuk meningkatkan brand awareness, Ria mengaku Cottonink selama ini gencar melakukan branding di social media. Selain itu, kolaborasi dengan public figure dinilainya secara tidak langsung meningkatkan brand awareness labelnya.

Sebagai salah satu brand yang berkembang pada dunia digital, setiap minggu Cottonink selalu menampilkan koleksi baru. Hal itu dilakukan karena pergerakan bisnis fashion online sangat cepat. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya koleksi baru tiap minggu, pengunjung situs tidak akan bosan dan mau mencoba membelinya. Selain situs jual beli, saat ini Cottonink juga sudah memiliki tiga gerai di Jakarta, yaitu di Plaza Senayan, Pondok Indah Mall 2, dan Kota Kasablanka. Cottonink juga sempat memiliki pop-up store di beberapa kota di Indonesia.

Pada tiga tahun terakhir, pertumbuhan bisnis label ini bisa mencapai 30%. Ria menargetkan tahun ini pertumbuhan bisnis Cottonink sekitar 17%. “Tahun 2017 kita masih manage di double digit, di atas belasan persen,” tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)