Danamas Targetkan Penyaluran Pinjaman Rp2,2 Triliun

President Director Danamas, Dani Lihardja (ketiga dari kanan) dalam forum diskusi "Membangun Ekonomi Digital yang Inklusif".

Platform peer to peer lending PT Pasar Dana Pinjaman (Danamas) menargetkan penyaluran pinjaman Rp 2,2 triliun hingga akhir tahun ini. Adapun per Juni 2019, Danamas telah menyalurkan pinjaman Rp 1,7 triliun.

"Pinjaman tersebut sudah disalurkan kepada 300 ribu peminjam," kata Presiden Direktur Danamas, Dani Lihardja, di acara diskusi "Membangun Ekonomi Digital yang Infklusif" di CoHive D-Lab Jakarta, Kamis (11/07/2019).

Dia melanjutkan, sampai Juni ini terdapat 11 juta peminjam yang sudah terdaftar di platform-nya. Untuk lender atau pemberi pinjaman yang terdaftar sebanyak 78 ribu, dan yang tengah proses melengkapi pendaftaran sebanyak 300 ribu. Lender itu sebagian besar merupakan lender ritel.

Danamas pun semakin ekspansi dengan memperluas produk yang menyasar segmen produktif. Dani mengaku pihaknya baru saja meluncurkan produk baru yakni modal kerja untuk petani dan peternak. Modelnya peminjam tidak menerima uang secara langsung, tetapi melalui pemasok atau koperasi.

"Misalnya untuk peternak membutuhkan pembesaran ayam, nanti yang dikirim ayamnya jadi mereka tidak pernah terima uang. Uang tersebut masuk ke bapak angkatnya (pemasok atau koperasi) dan ayam itu akan dibeli lagi oleh mereka untuk disalurkan ke para pedagang olahan ayam," ujarnya.

Menurut Dani, hal ini dilakukan guna meminimalisasi risiko ketidaktepatan penggunaan pinjaman yang terkadang tidak sesuai dengan pengajuan. Untuk pinjamanan ini, dia pun menargetkan penyaluran Rp 100 miliar.

Adapun plafon pinjaman untuk perkebunan jagung Rp 7,5 juta, replanting sawit Rp 75 juta, dan peternakan Rp 5 juta - Rp 50 juta. "Percobaannya di Yogya dan untuk petani sawit di Pekanbaru," tutur Dani.

Sementara itu, per 31 Mei 2019 sudah ada 113 platform fintech lending yang telah terdaftar dan diawasi oleh OJK. Dari jumlah itu, 107 entitas merupakan penyelenggara bisnis konvensional, sedangkan enam lainnya penyelenggara bisnis syariah.

Dalam kesempatan yang sama, Lis Sutjiati, Staf Khusus Menteri Telekomunikasi dan Informatika Bidang Ekonomi Digital, menjelaskan, jika bicara digitalisasi, tahun 2015 kita semua tidak ada yang tahu apa itu startup. Namun, tahun 2014 Presiden Joko Widodo sudah punya visi untuk mengembangkan e-commerce dan digital ekonomi.

"Digitalisasi ini adalah revolusi. Bukan hanya tugas Kemkominfo saja, bahkan sampai 18 kementerian ikut terlibat. Jika kita tidak melihat digitalisasi sebagai sebuah revolusi, kita semua bisa salah dalam bergerak. Kita dapat memaksimalkan digitalisasi sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan ekonomi inklusif," Lis menguraikan.

Lis mengatakan, sebanyak dua pertiga negara di dunia mengalami masalah ketimpangan ekonomi yang serius. Ketidaksetaraaan ekonomi adalah bagian isu global yang dialami oleh semua negara, yang ditunjukkan oleh Gini Ratio yang cukup tinggi. Dengan digitalisasi, para startup yang disebut sebagai disrupsi ini ternyata dapat menyelesaikan permasalahan ini.

Ada 3 fokus area dari bisnis model pada ekonomi digital, yaitu Sharing Economy, Workforce Digitalisation dan Financial Inclusion.Dengan Sharing Economy, kita dapat menyediakan akses ke kegiatan ekonomi yang sebelumnya tidak tersedia untuk orang-orang yang tidak terlayani.

Dengan Workforce Digitalisation ini akan mampu mempertahankan, meningkatkan, dan menciptakan lapangan kerja baru.Sementara dengan Financial Inclusion kita dapat memberikan akses keuangan kepada masyarakat yang unbaked.

"Jadi melalui 3 bisnis model ini kita dapat membuka pintu dan menyediakan akses ke peluang pekerjaan dan layanan keuangan kepada masyarakat, semua harus merasakan benefit ini," kata Lis.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)