Data Industri SDM Astra untuk Menyusun Strategi Pengembangan Talenta

PT Astra International Tbk. memanfaatkan data Total Remuneration Survey Mercer (TRS) untuk menyusun strategi pengembangan talenta sumber daya manusia (SDM) perusahaan, sehingga terus menerus dalam menarik minat para pencari kerja berkualitas, sekaligus berhasil mempertahankan loyalitas para karyawan utamanya selama 20 tahun terakhir.

Sebelum Astra mulai berkolaborasi dengan Mercer pada 1990-an, perusahaan harus menugaskan beberapa karyawan dari departemen SDM khusus untuk melakukan survei gaji karyawan. Astra ingin para karyawan mereka mendapatkan gaji yang seimbang dengan peran dan kinerja mereka masing-masing.

Tentu saja metode ini menghabiskan banyak waktu dan usaha yang besar dari departemen terkait – padahal waktu dan usaha tersebut dapat dialokasikan untuk menangani pekerjaan lain yang lebih strategis. “Dulu, pengumpulan data soal biaya hidup dan manfaat karyawan yang diinginkan dilakukan dari seluruh cabang di Indonesia,” ucap Head of Human Capital Astra International Ema Poedjiwati dalam keterangan tertulis di Jakarta (22/05/2023). Pasalanya, dulu skala bisnis perusahaan cuma separuh dari sekarang dan hanya mencakup 2 sektor industri saja. Sekarang ada 7 sektor industri.

Kini, Astra menjalankan bisnis sektor otomotif, layanan jasa keuangan, pertambangan dan konstruksi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi (IT)dan properti. Saat ini, jumlah karyawan berkembang mencapai sekitar 198.000 karyawan yang tersebar di 270 anak perusahaan Grup Astra.

“Lini usaha kami terdiri dari banyak sektor, sehingga, kami membutuhkan data terbaru secara berkelanjutan pada tiap sektor industri untuk menawarkan remunerasi yang adil dan sesuai. Untuk itulah kami berpartisipasi dalam studi Total Remuneration Survey,” ungkapnya.

TRS menurut Ema, menyajikan data survei yang dapat diandalkan dan komprehensif karena meliputi seluruh industri bisnis perusahaan . Informasi dari data tersebut membantunya dalam menentukan remunerasi dan menyesuaikan gaji para karyawan Astra.

Bergerak dalam bisnis ekonomi yang acap kali sulit terprediksi dan sering berubah, kemampuan untuk menetapkan acuan terkait remunerasi untuk karyawan dibandingkan perkembangan dan tren di pasar tentulah diperlukan perusahaan konglemerasi seperti Astra International.

Apalagi, pasar pencarian karyawan sedang menghadapi kesulitan dalam menciptakan ketertarikan bagi calon karyawan untuk bekerja dan mempertahankan karyawan yang ada. Hal ini menyebabkan pentingnya untuk dapat memenuhi ekspektasi karyawan. “Maka dari itu, data pasar merupakan hal krusial bagi kami,” tutur Ema. Data tersebut dapat membantunya dalam menentukan patokan untuk menciptakan strategi kompensasi dan benefit yang unggul dalam pasar.

Astra saat ini memanfaatkan informasi dari TRS untuk: menentukan anggaran tahunan bagi SDM yang mereka miliki; mengetahui tren dan perkembangan pasar tenaga kerja dan remunerasinya; menganalisa kebijakan work-from-home; mengetahui posisi perusahaan dibandingkan para kompetitor; dan mengajukan rekomendasi kompensasi karyawan kepada manajemen.

“Tanpa data TRS, kami harus mengandalkan riset kami sendiri. Kami tidak dapat memastikan validitasnya karena sumbernya tidak dapat terverifikasi dan tidak jelas asalnya,” tambah Ema. Pihaknya bersyukur kehadiran TRS. dapat menentukan dan memanfaatkan tingkatan kompensasi yang sesuai situasi pasar serta menarik bagi karyawan.

Swa.co.id

# Tag