Demi Keberlangsungan Bisnis, Para Pengelola Korporasi Sukarela Terapkan Protokol Covid

Hardianto Atmadja., CEO PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (Garudafood).
Hardianto Atmadja., CEO PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (Garudafood).

“Karyawan kami di Garudafood, baik di office, pabrik, maupun distribusi, kalau dijumlah, lebih dari 13 ribu karyawan. Bayangkan kalau tidak diatur dengan baik, bisa menjadi klaster yang berbahaya andai sampai ada kasus Covid. Makanya, kami atur maksimal dan semua karyawan harus disiplin agar tidak terjadi kasus Covid di grup kami,” kata CEO PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (Garudafood) Hardianto Atmadja. Dengan alasan keselamatan semua karyawan dan keberlangsungan bisnis, perusahaan yang memiliki pabrik di Pati (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa timur), dan Rancaekek (Jawa Barat) ini terus aktif menerapkan protokol Covid-19 di semua lini perusahaan.

   Ada sejumlah langkah yang dilakukan Garudafood untuk itu. Di antaranya, pertama, membangun infrastruktur lain dengan menyiapkan ruang kerja yang berjarak, termasuk dengan memanfaatkan ruang-ruang rapat yang tidak digunakan agar bisa memberi jarak antarkaryawan. Lalu, walau ber-AC, gedung-gedung Garudafood harus terbuka sebagian jendelanya, agar sirkulasi udara dalam ruang lebih baik, digantikan dengan udara yang segar dari luar.

   Langkah kedua, menyusun standar operating procedure (SOP), dan ada tim khusus yang menyusun khusus protokol kesehatan dalam perusahaan. Semua diatur dengan rinci. Misalnya, jika berkunjung ke luar kota, berkunjung ke pasar (bagi tenaga penjual), atau menerima uang tagihan dari toko, apa saja yang harus mereka lakukan tertuang dalam SOP Covid-19. “SOP ini termasuk bagaimana marka terpasang, seperti di tangga, ruang meeting; antarkursi seperti apa; hingga bagaimana marka di tempat shalat, ” katanya.

   Taat protokol juga dijalankan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC), anak usaha Pelindo II yang bergerak di bisnis penyediaan terminal kendaraan di pelabuhan. Sofyan Gumelar, Corporate Secretary IPCC, mengatakan, pihaknya berusaha menjalankan protokol kesehatan di pelabuhan, seiring dengan makin meningkatnya kegiatan bisnis dan lalu lintas bongkar-muat ekspor-impor di pelabuhan.

   “Aktivitas perusahaan shipping dan logistik terlihat makin ramai, terjadi peningkatan aktivitas layanan operasional di Lapangan Terminal IPCC,” kata Sofyan. Contohnya, total kargo kendaraan CBU di Lapangan Internasional pada September 2020 saja sekitar 24.500 unit dari rata-rata bulanan penanganan kargo CBU sebanyak 20.000 unit. Angka itu melampaui jumlah di bulan April 2020 yang sebesar 14.400 unit, dan Januari 2020 sebesar 21.800 unit.

   Karena itu, pihaknya menjaga keamanan karyawan dalam bekerja dengan strategi pembagian shift bergilir. Petugas operasional dibekali alat pelindung diri (APD) operasi yang terstandardisasi, dan tambahan pelindung untuk pencegahan penyebaran Covid-19.

   “IPCC tidak melakukan penghentian ataupun pembatasan operasional dengan adanya pandemi Covid-19; operasi lapangan dan dermaga tetap berjalan,” kata Sofyan. Ia menegaskan bahwa tenaga operasional yang bekerja di lapangan diwajibkan selalu menjalankan prosedur kerja dengan cek suhu badan sebelum mulai kerja, memakai masker, jaga jarak, dan menggunakan sarung tangan. Sebelumnya, sudah dilakukan rapid test pada semua pegawai baik organik maupun nonorganik.

   Tidak hanya itu, perusahaan juga mengeluarkan edaran dengan tulisan: semua mitra yang bekerja di area IPCC wajib menunjukkan hasil rapid test negatif/nonreaktif Covid saat memasuki wilayah IPCC. “Dari sisi hukum, hingga kini tidak ada kasus atau permasalahan hukum yang terjadi di IPCC selama pandemi Covid-19. Dari sisi keuangan, turunnya pengantaran logistik kendaraan ke IPCC berpengaruh terhadap jumlah kendaraan yang ditempatkan di IPCC sehingga turut memengaruhi pendapatan,” Sofyan menjelaskan.

   Sementara itu, PT MRT Jakarta yang sejak awal beroperasi pada Maret 2019 telah membawa 33 juta penumpang juga tak mau ketinggalan. MRT memperkenalkan protokol bernama BANGKIT. Singkatan dari Bersih, Aman, Nyaman, Go Green, Kolaborasi, Inovasi, dan Tata Kelola yang baik. William Sabandar, Direktur Utama MRT Jakarta, mengatakan, MRT Jakarta sudah siap sebagai pilihan transportasi publik yang bersih, aman, nyaman di masa adaptasi kebiasaan baru.

   William menjelaskan, ketika penumpang masuk, dipastikan harus bersih. Protokol tersebut terdiri dari pengecekan suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer, penyemprotan desinfektan rutin pada kereta & stasiun, kewajiban memakai masker dan tidak diperkenankan berbicara di dalam kereta, serta pembatasan penumpang, sebanyak 62-67 orang per gerbong.

   “Yang tidak menggunakan masker tidak diperkenankan masuk. Juga dilakukan pembersihan rutin tiga kali sehari fasilitas dan aset di stasiun. Para petugas menggunakan APD serta dijaga kebersihan dirinya,” katanya.

   PT MRT Jakarta pun menyediakan ruang isolasi dan evakuasi yang aman untuk antisipasi jika ditemukan penumpang yang mengalami gejala Covid-19. Kemudian, juga mengembangkan metode pembayaran nontunai dan pembatasan transaksi tiket tunai dengan tidak mengaktifkan loket, melainkan menggunakan teknologi yang less contacting --via QR Code untuk pembayaran tiket. “Selain itu; melalui kartu elektronik bank dan pembelian kartu Multi Trip di mesin tiket otomatis,” William menjelaskan.

   Di sejumlah perusahaan –antara lain Hutama Karya Group, PT Graha Prima Layar Tbk. (CGV Cinemas), dan Hotel Kempinsky Jakarta-- program digitalisasi yang sudah dibangun ternyata memang sangat membantu dalam rangka pencegahan Covid. Sebab, komunikasi antarpribadi di perusahaan bisa dilakukan melalui platform teknologi yang disediakan, tak harus bertemu fisik. Selain operasional bisnis mereka menjadi lebih efisien, kompetitif, dan user friendly bagi konsumen kekinian, ternyata hal itu juga sangat membantu dalam memblokade penularan virus Covid.

   Namun, benar kata Hardianto, yang paling penting dari semua upaya menjaga protokol kesehatan adalah membangun habit atau budaya sehat. “Membangun budaya ini kami internalisasi bukan saja pada diri karyawan Garudafood, tapi juga ke pasangan dan anak-anak atau keluarganya,” ia menegaskan.

   Dalam membangun budaya sadar protokol kesehatan, Garudafood melakukan edukasi melalui berbagai kanal, di berbagai sudut ruang kerja, di pabrik, diumumkan melalui suara, juga mengunggah berbagai informasi tersebut di website perusahaan dan banyak media lain. (*)

Sudarmadi

Reportase: Herning Banirestu, Sri Niken Handayani, Jeihan Kahfi Barlian, Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)