Denny Santoso: Pentingnya Membangun Bisnis Berbasis Digital

Perkembangan dunia digital di Indonesia sejak beberapa tahun lalu, ditandai dengan menjamurnya bisnis e-commerce, baik yang bermodel start up hingga dibangun oleh perusahaan besar. Sebut saja MatahariMall.com, Blanja.com, dan sebagainya. Peluang digital ini dianggap menjadi bisnis yang menjanjikan oleh Denny Santoso, Digital Marketer & Entrepreneur. Baginya,  era digital saat ini dapat menjadi jalan digital marketing business.

“Kenapa harus masuk ke digital? E-commerce mulai menjamur. Jadi kalau masyarakat merasa bisnis saat ini berbeda, seperti perubahan perilaku belanja masyarakat, pasar sudah berbeda, yang terjadi adalah pasar pindah dari offline ke online. Pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online,” tambahnya.

Wealth & Entrepreneurship Summit 2016 (Doc. Jeihan Kahfi SWA) Wealth & Entrepreneurship Summit 2016 (Doc. Jeihan Kahfi SWA)

Melihat perubahan tersebut, para pengusaha atau pelaku bisnis yang masih menggunakan cara konvensional, harus mampu beradaptasi dan perlahan membangun sistem ke online, tanpa meninggalkan penjualan atau pemasaran produk melalui offline. Bahkan penjualan pun sudah menggunakan media seperti BBM, Whatsapp, Line, dll.

Menurutnya,  tidak ada yang salah jika masih menggunakan cara offline, misalnya melalui toko, penjualan langsung, dan lain sebagainya. Hanya pelaku usaha harus mulai memikirkan cara penjualan offline yang lebih menarik, misalnya pengaturan display toko atau pelayanan toko.

“Ketika memulai bisnis di bidang digital maka harus mengawali dengan keberanian. Seperti saya memulai bisnis fitness. Yang terpenting adalah personality communication. Terdapat fenomena mengenai digital marketing, yaitu masyarakat tidak mengerti mengenai digital marketing. Setelah tahu bahwa tidak bisa, maka ia akan belajar. Ketika sudah belajar, maka akan paham dan lancar,” katanya.

Pelaku usaha harus paham proses membangun. Dalam arti,  harus jeli melihat prospek bisnis, yaitu bagaimana menjadikan dari orang yang tidak mengetahui produknya menjadi menjadi membeli dan memiliki loyalitas.

Konsumen dibagi-bagi, yaitu ada yang orang yang tidak tahu mengenai produk , lalu orang yang membeli produk, dan orang yang sudah pernah membeli produk. Proses marketing cukup panjang, bagaimana mencari traffic, dan bagaimana mengenal konsumen potensial. Lalu bagaimana pelaku usaha mendapat database konsumen, yaitu melalui follow up konsumen untuk me-deliver produk kepada calon konsumen.

Sebagai penutup, ia mengatakan bahwa pemiliki produk harus melihat apa kebutuhan konsumen, apa yang didapatkan konsumen jika membeli dan mengonsumsi produknya, lalu mempertanyakan apa yang menjadi faktor sehingga konsumen tidak mau membeli produknya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu lead magnet. Pada awalnya, pemilik produk dapat memberikan sesuatu secara gratis untuk mendapat “hati” konsumen. Misalnya hanya 50 pendaftar pertama akan mendpaat diskon produk hingga 50 persen. Lalu konsumen diimingi produk dengan harga yang murah. Hal ini sebagai strategi untuk mengubah reader menjadi buyer. Ketiga mengenalkan produk utama. Setelah mendapatkan konsumen potensial, pemilik produk harus mengelola konsumennya dengan baik. “Urusan profit dipikirkan setelahnya,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)