Digitalisasi Induk KUD Perkuat Jaringan di Nusantara

Di tengah disrupsi digital yang makin kuat menggoyang pelaku bisnis di Indonesia, adalah keniscayaan transformasi digital dilakukan untuk bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini. Apalagi 35% penduduk Indonesia adalah generasi mlilenial atau Gen Y yang semuanya pengguna internet paling tinggi. Hal ini juga disadari oleh Induk KUD (Koperasi Unit Desa) agar bisa terus sesuai dengan zamannya.

Mengambil tempat di kantor PT Ezeelink Indonesia, Jakarta Pusat, acara dimulai dengan pelatihan pengurus Induk KUD dalam mengintegrasikan informasi dan digitalisasi sistemnya. Pelatihan tahap pertama ini diikuti oleh pengurus dari KSU DKI Jakarta dan Puskoppas pada 22-23 Februari 2018. Pelatihan ini nantinya akan berlanjut ke koperasi-koperasi lain di seluruh Indonesia.

Dina Latifah, Ketua Pusat KSU (Koperasi Serba Usaha) DKI Jakarta, mengatakan, digitalisasi KSU DKI sebenarnya sudah dimulai sejak 15 tahun lalu, dengan melayani transaksi digital seperti pembayaran PAM, pembelian pulsa ponsel, PLN dan lainnya. “Langkah digitalisasi kali ini akan mendorong seluruh jaringan di Induk KUD akan lebih kuat lagi karena terintegrasi. Maka itu, saya berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini, sekadar pelatihan saja, tapi what’s next harus didorong agar lebih baik lagi,” terangnya saat pembukaan pelatihan.

“Ada 20 orang yang ikut dari KSU Jakarta hari ini. Pelatihan jangan setengah-setengah. KSU harus jadi ujung tombak peningkatan ekonomi di kelurahan dan kecamatan. Diharapkan dengan digitalisasi ini akan membuat jaringan lebih kuat, punya bargaining power lebih besar ke depan untuk ekonomi Indonesia,” ujar Dina

Zainal Arifin, Ketua Puskoppas (Pusat Koperasi Pedagang Pasar), menjelaskan, pelatihan yang diadakan dua hari (22-23 Februri) ini diikuti oleh pengurus Puskoppas dan KSU Jakarta dan diharapkan bisa menjadi contoh koperasi seluruh Indonesia. “Jangan sampai pelatihan ini hanya berhenti di dua hari ini, harus kontinu, karena sistem jika berjalan baik untuk mencari bahan pokok ke seluruh Indonesia akan lebih mudah. Karena kami di Puskoppas lebih banyak transaksi dagang kegiatannya, dengan sistem TI ini akan menbuat kami lebih efisien dan murah,” katanya.

Zainal menambahkan, koperasi sebagian besar masih manual kegiatan dan transaksinya. Tentu akan ketinggalan di tengah disrupsi digital saat ini, jika tidak ikut berubah dengan membangun jaringan yang terintegrasi sistem TI yang baik.

Herman Wutun, Ketua Induk KUD, memaparkan manfaat digitalisasi ini sangat besar bagi seluruh koperasi di Indonesia. Manfaat yang dirasakan adalah informasi anggota lebih jelas, informasi produk lebih detail, informasi aset lebih transparan, segmentasi pasar, mengatur modal kerja lebih akurat, kerja sama dengan pihak ketiga juga lebih transparan, informasi transaksi lebih teringegrasi, bagi hasil lebih akurat, menjadi market place, pelaporan terpusat, manajemen dokumen lebih rapi dan sistem berjalan 24 jam.

“Ezeelink menjadi mitra Induk KUD dalam mengintegrasikan sistem kami. Target kami dengan digitalisasi ini mendorong lebih akurat dalam mengambil keputusan bisnis, mendukung peningkatan permodalan koperasi dan meningkatkan kepercayaan pihak luar sebagai mitra bisnis,” katanya. Tentu saja, ia yakini ini akan membantu pemerintah, dengan data base yang lengkap menjadikan KUD mitra pemerintah dalam ekonomi kerakyatan. Misal distribusi pupuk, dipahami apa saja kebutuhan anggota dan nantinya Induk KUD akan menjadi satu bilik yang dijadikan anggotanya untuk meningkatkan kesehahteraan hidupnya.

Dalam penutupan sambutan, Salekan SH, MM Asisten Deputi Perundang-undangan Kemenkop dan UKM, menyampaikan, era digitalisasi keniscayaan karena kalau tidak diikuti akan ketinggalan. “Koperasi juga begitu, tidak boleh lengah, memang banyak koperasi sudah menggunakan sistem digital untuk meningkatkan layanan. Saya berharap pelatihan ini bisa terus dikenbangkan untuk mengembalikan kejayaan Induk Koperasi,” katanya. Ia ingat pada zamannya Induk Koperasi pernah pengambil peran penting dalam perekonomian Indonesia.

“Semoga imej negatif KUD selama ini bisa dikikis dengan langkah digitalisasi ini. Tapi saya mengingatkan langkah ini tidak menghilangkan dari prinsip dasar koperasi: dari dan untuk anggota, ini jangan ditinggalkan,” tegasnya. Dikatakan Herman, anggota Induk KUD merupakan koperasi-koperasi primer, seperti KSU DKI Jakarta saja anggotanya ada 135 KSU sedang Puskoppas Jakarta anggotanya ada di pasar-pasar seluruh Indonesia yang jumlahnya ada 153 koperasi pedagang pasar.

Secara total anggota Induk KUD di seluruh Indonesia ada 9.437 koperasi primer dengan anggota perorangan (data lama) 13,4 juta. “Targetnya tahun ini kami bisa menyentuh 1 juta anggota perorangan untuk pemutakhiran data dan digitalisasi,” imbuh Herman.  Sedang koperasi di seluruh Indonesia 151 ribu koperasi. “Kebanyakan yang sudah digitalisasi sistem adalah koperasi simpan pinjam, kami sekarang mendorong koperasi di sektor riil untuk digitalisasi proses usahanya,” ujar Solekan.

Disebut Kor Hir Lung, Presiden Komisaris Ezeelink Indonesia, sistem yang diimplementasi di induk koperasi ini levelmya sudah Basel II, jadi sudah ada pengaturan manajemen risiko seperti layaknya sistem TI di perbankan. Dan penerapan sistemnya bisa disesuaikan dengan jenis koperasinya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!