Dilema Venture Capital Asing pada Ekonomi Digital Indonesia

Bari Arijono, Ketua Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) dan Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia

Indonesia adalah negara dengan potensi pertumbuhan ekonomi paling besar di kawasan ASEAN. Didukung dengan stabilitas makroekonomi, demografi, dan penetrasi pengguna internet yang meningkat, peluang pertumbuhan ekonomi digital memiliki peluangi besar.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, sebanyak 132,7 juta dari total populasi penduduk Indonesia, yaitu 256,2 juta jiwa merupakan pengguna internet. Hal ini juga didukung dengan masih banyaknya sektor perekonomian yang belum digarap secara digital. Hal inilah yang membuat investor asing tertarik untuk menanamkan modal di beberapa startup Indonesia.

Buktinya, 4 unicorn perusahaan teknologi digital di Indonesia tak luput dari investor asing, mayoritas asal China. Menurut Bari Arijono, Ketua Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) dan Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia, faktor lainnya karena Indonesia mau membuka diri bagi investasi asing dalam berbagai bidang, termasuk teknologi dan ekonomi digital yang mana perusahaan memiliki nilai valuasinya di atas Rp100 miliar, dapat sepenuhnya dimiliki investor asing.

Menurutnya, kondisi ini sangat berbeda dengan negara lain seperti China yang melarang kepemilikan asing. “Bahkan layanan digital lainnya juga dilarang di China. Oleh karena itu China membuat Silicon Valley mereka sendiri yang dinamakan Silicon Dragon dan mulai menggeser ekonomi digital Amerika Serikat,” ungkap Bari. Tahun ini diprediksi ekonomi digital China akan menguasai dunia dibandingkan ekonomi digital Amerika. Nilai kapitalisasi GAFA (Google, Amazon, Facebook, dan Apple) sudah digeser oleh BATHU (Baidu, Alibaba, Tencent, dan Huawei).

Fenomena ini secara tidak langsung juga akan akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, terutama startup unicorn. Oleh karena itu, 98% unicorn Indonesia pendanaannya disuntik dari China, seperti halnya Go-Jek yang mendapat  pendanaan dari Tencent, lalu Tokopedia dari Alibaba, dan Traveloka dari JD.com.

Dikarenakan Indonesia tidak memiliki Venture Capital (VC) lokal untuk mendanai perusahaan baru, ketergantungan pada VC asing dapat berdampak ke depannya. Indonesia saat ini masih bergantung pada pihak bank, bahkan VC buatan bank seperti Sinar Mas Digital Ventures (SMDV), GDP Venture (Djarum), dan Venturra Capital (Lippo) bukanlah VC asli dari Indonesia, karena mereka menggandeng VC asing. “Akibat masuknya VC asing (China)  ke startup Indonesia, bisa dikatakan ekonomi digital Indonesia dari hulu ke hilir akan dikuasai oleh China. Ekonomi digital Indonesia tidak punya kesempatan yang besar untuk berkembang baik dari sisi talent dan produknya,” paparnya.

Bari  merkeomendasikan agar Indonesia dapat menjadi digital nation yang ideal dari studi yang telah dilakukannya, yaitu mengadopsi negara yang sudah berhasil melakukan digitalisasi dengan karakteristik yang sama seperti Indonesia yaitu China, India dan Brazil.

“Seperti pemerintah China yang tidak hanya mendukung dari regulasi, namun juga dukungan pendanaan. Alibaba merupakan perusahaan swasta , tapi pemerintah China juga mendukung dari sisi funding-nya,” ungkapnya. Pemerintah memiliki andil saham di dalamnya. Strategi digital ekonomi ini dapat diterapkan untuk bisa menjadi penguasa ekonomi digital dunia.

Sementara dari sisi digital leadership, Indonesia dapat berkiblat pada India karena pemerintahnya mentransformasikan menjadi digitally empowered society. India mengharuskan agar semua penduduk memiliki identitas digital. Pemerintah India betul-betul menerapkan e-government yang dinamakan Digital India Programme. Pemerintah di sana memberikan semua layanan berbasis digital pada semua layanan pemerintahan dan major projects.

Bari juga menyampaikan pengelolaan digital sumber daya alam dan komoditas dapat dilakukan seperti cara Brazil. Mereka berhasil menerapkan teknologi digital di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, dan perkebunan yang jauh lebih bagus dibandingkan Indonesia. “Brazil berangkat dari penerapan analog lalu beralih pada otomatisasi dan digitalisasi. Indonesia tahapannya masih pada adopsi teknologi IT, yang bahkan belum selesai. Sementara Brazil sudah pada tahapan digitalisasi di semua sektor riil,“ jelasnya.

Para unicorn Indonesia diharapkan lebih banyak menggunakan human resource lokal dibandingkan dari luar negeri. Mereka dapat berkontribusi terhadap perekonomian bangsa dengan memiliki talent pool, innovation center, dan research & development .

Sektor yang paling berpeluang menjadi unicorn berikutnya adalah fintech, terutama yang bergerak dalam bidang digital payment, peer-to-peer lending, dan healthcare.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!