Dilema Mengelola Talent Gen Y

Sumber foto: digitalnewsasia.com

Bukan era digital atau tidak, branding bagi perusahaan agar menjadi Employer of Choice (EOC) Sudah menjadi keharusan sejak dulu. Dengan predikat EOC, perusahaan dapat menciptakan sense of belonging karyawannya lewat kebanggaan pada perusahaan di mana ia bekerja.

Menurut pengamat SDM sekaligus Wakil Rektor Universitas Pertamina, Budi Soetjipto, dengan adanya kebanggaan tersebut, karyawan akan merasa perusahaan tempatnya bekerja adalah rumah baginya. Engagement dan menaikkan komitmennya dalam bekerja akhirnya dapat tercipta. “Walau ada fakta menarik yang saya dapati terjadi pada sebuah lembaga keuangan yang memiliki branding tinggi di mata calon pekerja dan mahasiswa, kenyataannya ketika dilakukan survei ke karyawan barunya hasilnya berbeda. Karyawannya ternyata kecewa,” ungkapnya.

Mengapa bisa berbeda? Dijelaskan Budi,  secara eksternal orang menilai brand dan reputasi perusahaan. Walau gaji besar, tapi tidak punya reputasi bagus atau tidak dikenal, ternyata branding EOC perusahaan tidak bagus. Sedangkan secara internal, ketika karyawan mendapat psycological contract, biasanya EOC perusahaan akan tinggi. Dalam membangun corporate branding, karyawan menjadi kunci yang sebenarnya sebagai Employee Value Preposition (EVP). “Nilai apa yang ditawarkan perusahaan ke karyawan, bukan hanya uang semata, bisa fleksibiltas kerja, nama perusahaan, dan akses. Akan menjadi masalah jika value itu hanya asumsi saja,” jelasnya. Jangan sampai hal itu tidak disampaikan atau berbeda dengan kontrak kerja yang dijalani.

Bagi generasi milenial yang serba terus terang dan terbuka, tidak eksplisitnya EPV dan asumsi yang berbeda dengan kenyataannya, akan membuat branding perusahaan jatuh. Kuncinya, pada pengelola perusahaan yang masih dipegang Gen X. Meskipun mayoritas karyawannya Gen Y, ada perbedaan asumsi sehingga persepsinya harus sama. Masalah generasi milenial dengan generasi sebelumnya adalah gap komunikasi. Inilah yang harus diperbaiki dulu, komunikasi harus jelas. “Karyawan dapat menjadi ambassador perusahaan di luar, membangun branding. Akan menjadi jelek jika  ada gap yang tidak bisa diselesaikan,” ujarnya.

Budi menegaskan kembali bahwa komunikasi di zaman milenial begitu precise. Menurutnya, Gen Y sangat insecure dibanding generasi di atasnya. Era digital seperti halnya pisau bermata dua, kedekatannya dengan digital ini membuat mereka kurang berinteraksi dan menimbulkan rasa percaya pada orang menjadi rendah. Ia meyakini, saat ini turn over karyawan tinggi di masa banyak Gen Y sebagai pekerja mudanya. “Mereka berani memutuskan keputusan secara cepat dan kurang tenggang rasa,” ujarnya.

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)