Dimasz Jeremia Pimpin Movi Klinik di Kota Makassar

Setelah sukses dilaksanakan di 7 kota, MOVI ((Ministery of Vape Indonesia) kembali menggelar MOVI Klinik. Kali ini diadakan di Kota Makassar.  Tim MOVI dipimpin langsung oleh Dimasz Jeremia selaku CEO MOVI.  Sebelumnya kegiatan serupa diselenggarakan di  Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Lombok, Bogor, Purwokerto, dan Serang.

MOVI Klinik adalah wadah pendidikan gratis bagi para vaporista dan para pemilik toko rokok elektrik, dengan tujuan memberikan edukasi seputar rokok elektrik dan membangkitkan kembali industri rokok elektrik yang terpukul karena pandemi Covid-19.

Pada Movi Klinik kali  ini vaporista dan pemilik toko vape mendapatkan edukasi tentang sejarah rokok konvensional, risiko yang ditimbulkannya serta inovasi yang dihasilkan di bidang rokok elektrik

Pendiri Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia Prof Dr. Achmad Syawqie Yazid dalam acara Harm Reduction Forum (AHRF) 2017 mengatakan, kendati secara klinis rokok atau produk tembakau yang dikonsumsi dengan dibakar memicu berbagai macam masalah kesehatan seperti jantung dan kanker, upaya untuk menghentikan konsumsi produk ini bukanlah perkara mudah.

Syawqie menyebutkan, inovasi dari produk tembakau alternatif dapat menjadi solusi efisien untuk mengatasi masalah adiksi rokok. Konsep pengurangan risiko atau bahaya (harm reduction) merupakan strategi ilmu kesehatan masyarakat yang bertujuan mengurangi konsekuensi negatif kesehatan dari sebuah produk atau perilaku.

“Tidak mudah mengatasi adiksi masyarakat terhadap rokok, sehingga perlu solusi strategi untuk menekan dampak buruknya. Salah satu cara paling efisien adalah dengan memperkenalkan produk tembakau alternatif yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah melalui penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi,” jelas Syawqie.

Dimasz bercerita, sejarah rokok elektrik di Indonesia dimulai dengan berdirinya toko vape pertama di Indonesia bernama MOVI, di Jalan Blora, Jakarta Pusat. Toko vape pertama ini dibuka pada tanggal 31 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Tembakau Dunia. MOVI pun menjadi inspirasi bagi kemunculan toko vape lainnya, sehingga sekarang ada lebih dari 3.000 toko vape di seluruh Indonesia.

MOVI juga merupakan pelopor ITBF (Indonesia Top Brewer Festival) di tahun 2016.  Ajang ITBF telah melahirkan likuid - likuid lokal, sehingga likuid lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kemudian, di 2021 MOVI berkolaborasi dengan PUF Sains Lab. Kolaborasi ini melahirkan berbagai produk hardware electronic dan biotech innovasi di bidang VNS (Vapor No Smoke) dan   menghasilkan NICSAL99+ berikut ekstrak tembakau (extract tobacco) alami yang merelovusi pasar e-likuid rokok elektrik. Di bidang hardware, MOVI dan PUF Sains Lab akan segera meluncurkan smoking pod replacement dengan merek AFLO. AFLO ditujukan bagi perokok yang mencari alternatif yang lebih sehat.

“Orang Indonesia butuh nikotin, tapi tidak kuat gatalnya. NICSALT99+ salah satu langkah untuk menjadikan nikotin dan likuid asal Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tegas,” ujar Dimasz.

Dimasz menyebut MOVI merupakan pemimpin di ENDS – Electronic Nicotin Delivery Systems, di mana alat yang digunakan menghasilkan vapor bukan dengan teknologi VNS (Vapor Not Smoke). “Sering kali orang mengangap bahwa kandungan nikotin dalam e-likuid di atas 6 miligram adalah high nicotin liquid, pandangan ini sama sekali bertolak belakang dengan fakta ilmiah yang sebenarnya,” jelas Dimasz yang juga Penasehat Aliansi Vaper Indonesia.

“Sekitar 12 atau 15 miligram sebenarnya adalah kadar nikotin yang kurang jika dibandingkan dengan rokok. Untuk menggantikan rokok, paling sedikit dibutuhkan 24 -  40 miligram NICSAL99+ dalam 1 mililiter. Kendala utama adalah kebanyakan cairan e-likuid mempunyai throat hit (rasa pedas di tenggorokan) yang berlebihan. Hal ini dapat diatasi dengan formulasi garam nikotin NICSAL99+ yang baru,“ imbuh Dimasz.

Lebih jauh Dimasz mengatakan, dalam 30 miligram garam nikotin (nicotin salt) yang terserap ke dalam tubuh hanya 30 persen. Sementara satu cartridge KUY atau AFLO yang diisi dengan 2 miligram e-likuid KUY atau ALFO 30 miligram setara dengan 1 bungkus rokok.

“Dalam satu botol 15 miligram KUY itu hampir sama dengan satu slop rokok yang berisi 10 bungkus rokok. Jadi perokok alternatif yang berpindah ke AFLO atau KUY, tidak hanya mendapatkan alternatif yang lebih sehat, namun mendapatkan penghematan ekonomis yang luar biasa hingga 80 persen,” tandasnya.

Dimasz mengaku MOVI adalah pemimpin pasar di industri rokok elektrik dengan beberapa merek yang dimiliki yakni AFLO, KUY, ISWTCH, EMOJI, PUFF, Komodo Breakfast, Skcub, DistrictOne21, DPRO, FIVEPAWN, dan EMOJI. Saat ini Pod KUY menjadi vapor replacement pod nomor satu di Indonesia, sedangkan Pod AFLO memimpin smoking replacement pod di Tanah Air.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)