Diperlukan Ekosistem Berjamaah untuk Kemajuan Industri Halal

Amy Atmanto (kanan); "Modest fashion Indonesia harus mampu menarik minat para Angel Investor."

Industri halal dinilai memiliki potensi besar dalam memacu perekonomian nasional. Bebeberapa indikasi menunjukan meningkatnya populasi muslim dunia & Jumlah penduduk muslim Indonesia mencapai 229 juta jiwa (87,2%) dari total penduduk 273,5 juta jiwa (World Population Review, 2020). Sedangkan kontribusi PDB (Produk Domestik Bruto) ekonomi halal nasional yang mencapai US$ 3,8 miliar/tahun.

Menurut Diana Yumanita, Deputi Direktur Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah Bank Indonesia, pangsa pasar industri halal nasional terhadap global menunjukan Indonesia merupakan leader terutama pada industri makanan halal yang pangsanya mencapai 13% total konsumsi makanan halal dunia.

Ia menambahkan, saat ini posisi Indonesia sudah masuk top player global. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2020/2021 Indonesia berada pada 10 peringkat teratas sektor Halal Food, Islamic Finance, Muslim Friendly Travel, Modest Fashion, Pharma Cosmetics, Media & Recreation.

Diakui Diana, peluang industri halal cukup besar, diantaranya besarnya potensi industri halal dan besarnya potensi keuangan syariah global itu sendiri. Hanya saja, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan seperti begitu cepatnya penetrasi produk halal dari negara mayoritas non muslim, dan sudah lebih majunya instrumen keuangan syariah di negara lain. “Industri halal akan maju bila ekosistemnya dilakukan secara berjamaah,” katanya.

Kepala Divisi IT Bakti Keminfo Ari Soegeng Wahyuniarti, menuturkan, selaku lebaga yang bertugas menyediakan infrastruktur dan ekosistem Tehnologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam upaya mendukung indsutri halal di Indonesia lewat pembangunan sarana dan prasrana TIK. Untuk sektor Industri dan Usaha Kecil, BAKTI Keminfo telah menggelar program ekosistem digital Bakti antara lain berupa pelatihan UMKM digital 2020.

Tahun ini pihaknya akan menggelar pelatihan UKM Digital & Akses Permodalan yang menyasar UMKM dibidang kuliner, dengan target 800 UMKM dari 8 kota/kabupaten. Rencananya Bakti Keminfo juga mengagendakan Pelatihan Toko Online Bumdes / UMKM 2021 dengan target 50 Bumdes / UMKM lokal.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementrian Koprasi dan UKM, Eddy Satriya menambahkan Indonesia harus menghadapi beberapa tantangan seperti, belum masuknya Indonesia dalam 10 besar untuk produk makanan halal, media & rekreasi, serta farmasi & kosmetika. Selain itu, Indonesia masih menjadi pasar produk halal dunia, karenanya kinerja ekspor produk halal perlu ditingkatkan.

Diakui Eddy, penguatan rantai nilai industri halal perlu terus dilakukan secara berkesinambungan, seperti industri makanan dan minuman halal, pariwisata halal, fashion muslim, dan farmasi/ kosmetik halal. Dan, eliminasi permasalahan yang dihadapi UMKM untuk dapat mengoptimalisasi peran UMKM dalam industri halal. “Saat ini UMKM kita masih menghadapi kedala seperti proses produksi belum standar, permodalan, pasar, teknologi, informasi kurang, dan lain-lain,” kata Eddy dalam diskusi bertajuk  “Industri Halal Jadi Trigger Pemulihan Ekonomi Nasional” via Zoom (24/6).

Dalam kesempatan yang sama Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Life Center (HLC) berpendapat Indonesia menjadi konsumer halal food peringkat pertama sebesar US$114 miliar. Sedangkan peringkat pertama ekportir produk halal adalah Brazil sekitar US$16,2 miliar dan diikuti India dengan nilai ekspor sebesar US$14,4 miliar.

Sedangkan modest fashion, Indonesia masuk 5 besar, tetapi sebagai negara konsumer, sementara negara eksportir tidak masuk 5 besar dan dalam Organization of Islamic Cooperation (OIC) Indonesia masih kalah dengan Banglades.
 
Menurut Sapta, modest fashion tidak hanya IOC saja tetapi produk-produk sepeti hijab sudah diakui sebagai global fashion dan diakui brand besar seperti Burberry, Gucci, Dolce,Nike, dan Versace. “modest fashion tidak hanya baju atau hijab, hasil riset HLC ada 52 item dalam beauty bussines untuk wanita dan 31 item untuk pria,” katanya.

Diakui Desainer, Founder Fashion Brands & Pembina Industri Kreatif, Amy Atmanto, modest fashion Indonesia masih bertengger di nomor 3 setelah UEA dan Turki, namun sektor ini diyakini dapat mendongkrak industri halal tanah air.

Amy menambahkan, trend global dalam pengeluaran untuk modest fashion dunia tertinggi adalah di Turki dengan total belanja US$ 29 miliar disusul UAE dengan pengeluaran sekitar US$23 miliar dan Indonesia dengan total pengeluaran sekitar US$21 miliar.

Hanya saja, Amy tidak memungkiri tantangan yang dihadapi industri modest fashion Indonesia antara lain masih terperangkap pada desain tradisional, kurangnya inovasi, keterbatasan skill pemasaran dan persaingan usaha, bahan baku yang masih harus impor, dan kebanyakan usaha fashion masih mengandalkan dari hobi serta kurangnya modal usaha.

Amy berharap industri modest fashion di Indonesia dapat direalisasikan sampai munculnya unicorn fashion moslem Indonesia. Hanya saja dibutuhkan peran pengusaha fashion, investor, perbankan dan pemerintah. “Pelaku modest fashion Indonesia harus mampu menarik minat para angel investor untuk berinvestasi di bidang modest fashion agar tidak hanya berinvestasi pada startup di bidang aplikasi teknologi saja,” kata Amy.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)