Dirut PLN Soal Transformasi: Bisnis Proses yang Berbelit Kami Bongkar

Sebagai perusahaan penyedia energi listrik, PLN bisa dikatakan menjalankan bisnisnya tanpa kompetitor. Tetapi kondisi itu tidak lantas membuat BUMN itu tinggal diam tak berbenah, sebab listrik adalah salah satu kebutuhan vital masyarakat, saat layanannya buruk akan berdampak besar meliputi semua bidang kehidupan.

Dahulu, kondisi pelayanan PLN kepada pelanggannya sangat tidak profesional. Respons yang lambat, akses pelanggan kepada pelayanan juga sulit. Agustus 2019 terjadi blackout paling bersejarah membuat kondisi chaos selama dua hari. Kondisi pasokan energi primer PLN juga dalam kondisi yang tidak aman.

Kontrak-kontraknya juga tidak termonitor secara digital, sehingga banyak vendor yang pembayarannya terlambat berbulan-bulan. Sistem procurement pun masih manual dengan harga yang sangat mahal. Gelombang disrupsi teknologi juga menambah daftar tantangan yang dihadapi PLN.

“Untuk itulah PLN membangun strategi transformasi, PLN harus berubah,” ungkap Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo. Hal itu diungkapkan Darmawan dalam kesempatan menjadi pembicara di Konferensi Virtual bertajuk 'All-Out Business Transformation To Accelerate Business Growth' yang diselenggarakan Majalah SWA dan SWANetwork sebagai bagian dari ajang penghargaan Indonesia Best Business Transformation 2022.

Lebih lanjut Darmawan menjelaskan, langkah PLN adalah membangun 4 breaktrough yang menjadi aspirasi PLN dalam melakukan transformasi. Pertama, green. Sebab, saat ini isu kelestarian lingkungan menjadi concern semua pihak, maka sebagai perusahaan yang menggunakan energi ntuk menghasilkan energi PLN juga harus bijak dan mulai bergeser ke energi green. Kedua, Lean. Sebagai entitas bisnis PLN harus bisa efisien dengan biaya rendah karena itu PLN harus jadi bisnis yang lean (ramping). Ketiga, innovative. PLN harus mampu berinovasi dan keempat customer focused dengan meningkatkan kualitas pelayanan. Untuk mewujudkan itu, PLN membangun 4 pilar penyokongnya yakni: SDM dan organisasi, teknologi yang lebih mutahir, keberlanjutan finansial dan penggerak ekonomi nasional.

Pada 4 strategi utama atau breaktrough tersebut, di dalamnya ada program-program kerja atau penggerak yang sebagian besar adalah program berbasis digital (digitalisasi) . “Artinya apa, ini artinya ini adalah perubahan cara berpikir, ini perubahan cara bekerja, ini perubahan bisnis proses. Bisnis proses yang bebelit-belit, kompleks, panjang, kami bongkar, dibikin ringkas dan disederhanakan lewat platform digital sehingga lebih cepat dan mudah. Dan digitalisasi ini mencakup dari seluruh aspek di korporasi.” jelas Darmawan.

Untuk bisa menjalankan transformasi ini, menurut Darmawan dibutuhkan komitmen dari pemimpin dan perusahaan harus bisa membangun kemauan, komitmen serta semangat yang sama dari seluruh orang di dalam PLN. Dari 4 breaktrough utama, di dalamnya secara rinci ada 20 breaktrough penggerak yang dihasilkan dari ide dan inisiatif karyawan PLN, dan semangat itu terus didorong. PLN memberi ruang untuk mereka (karyawan) tampil dan didengarkan. Sekarang bertambah hingga tercatat ada 1800 inisiatif yang datang dari kepedulian karyawan untuk menemukan solusi pada setiap masalah yang dihadapi perusahaan. “Transformasi PLN dibangun dengan semangat gotong royong, semua orang peduli dan mau berkontribusi, berkomitmen,” ungkap Darmawan.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)