Disrupsi Harus Menjadi Momentum Berevolusi dan Berinovasi

Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (photo: Anastasia/SWA)

Disrupsi yang terjadi di dunia akibat kemajuan teknologi, akan berdampak negatif bagi para pebisnis jika tidak bisa sigap dalam menghadapinya. Sementara akan berbuah positif apabila digunakan untuk berinovasi dan berevolusi.

Industri manufaktur tidak terepas dari pengaruh tekanan teknologi, ekonomi, sosial, lingkungan, dan trend pasar yang saling terhubung satu dengan lainnya dan saling berkaitan. Hal ini menyebabkan industri manufaktur tidak mudah untuk mendikte pasar, menerima produk yang usang, dan tidak melakukan inovasi.

Suwandi Ardibrata, Managing Director Proven Force Indonesia, mengatakan, disrupsi pada industri manufaktur menjadi satu momentum dan kesempatan untuk berinovasi dan berevolusi.”Hal ini misalnya dalam menarik  pelanggan baru, pasar baru, sumber material baru, dan teknologi baru yang terbuka untuk dieksplorasi, dan kesempatan ekspansi,” ujarnya dalam acara CEO Gathering 2018 (11/01/2018).

Ada beberapa kekuatan yang menyebabkan terjadinya disrupsi pada industri manufaktur, yakni costumized demand, produk, produksi dan value chain yang ekonomis. “Metode manufaktur yang canggih telah mengubah nilai ekonomis dalam berproduksi. Sementara inteligensia dan masukan yang didukung oleh digitalisasi manufaktur telah merevolusi nilai ekonomis dan value chain.

Lebih jauh ia mengatakan untuk menghadapi disrupsi pada industri manufaktur, semua pihak harus terlibat, termasuk Proven Force Indonesia. "Makanya harapannya di gathering ini kita bisa bertukar gagasan untuk menghadapi era disruption di sektor manufaktur,”kata dia.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara, menjelaskan, teknologi pada dasarnya tidak mengganggu, tapi malah menjadikan perusahaan semakin efisien. “Yang men-disturb itu bukan teknologi, tapi pola pikir dalam memanfaatkan teknologi, makanya saya katakan tidak usah takut terhadap distruption,” ujar Rudiantara.

Teknologi dalam dunia disrupsi merupakan sebuah enabler atau tools yang digunakan untuk mengefisienkan kerja. “Justru yang harus dilakukan adalah mengajak karyawan untuk memiliki cara baru dalam memecahkan dan menciptakan sesuatu, sehingga perusahaan memiliki pertahanan dalam menghadapi kompetisi,” tegasnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)