Disrupsi Industri Pers oleh Media Sosial

Yosep Stanley Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers

Era digital kerap digaungkan sebagai era disrupsi dari segala bidang bisnis. Berdasarkan penelitian PwC, industri pers menjadi sektor yang paling terdisrupsi, diikuti dengan industri keuangan dan ritel. Hal tersebut disampaikan oleh Muhamad Ihsan, Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi pada acara Seminar Peranan Pers pada Era Digital dalam Mendukung Pembangunan Daerah di Jakarta (22/1/2019).

Ia menjelaskan, jurnalis menjadi salah satu profesi yang akan hilang seperti halnya dokter bedah dan konsultan hukum akibat tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI). “Era digital adalah sebuah era disrupsi di mana kecepatan perkembangan teknologi melebihi kecepatan belajar kita. Itu yang membuat banyak hal terdisrupsi di dunia bisnis," jelasnya.

Menurut Ihsan, saat ini tantangan pers begitu besar akibat perkembangan dunia digital, yakni media sosial. “Tiba-tiba sekarang seseorang dari kamar mandi bisa menyebarkan ide tentang revolusi dan kemudian menyebar ke seluruh dunia tanpa seorang pun bisa menahannya. Juga kemudian sebuah kicauan Twitter ditulis oleh media mainstream, menjadi sebuah berita, berita itu dimasukkan ke Whatsapp Group, kemudian masuk lagi ke media mainstream, lalu jadi viral. Menurut almarhum Nukman Luthfi, pengaruh media pers dan media sosial sudah mencapai 60 berbanding dengan 40," jelasnya.

Saat ini, ada 43 ribu media digital dan banyak wartawan yang belum tersertifikasi. Oleh sebab itu, Ihsan menyatakan bahwa media sedang berada di kondisi yang chaos.

Sementara itu, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang turut menghadiri acara tersebut juga sepakat bahwa profesi jurnalis bisa saja tergantikan oleh AI. Namun, hanya jurnalis yang “copy-paste”. “Jurnalis yang datang dengan semangat dan inspirasi akan sulit digantikan oleh teknologi. Tapi yang repetitif itu baru bisa di-replace,” jelasnya.

Yosep Stanley Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers ,menjelaskan, teknologi mengubah semua perilaku manusia, termasuk dalam mengosumsi media. Artinya, dahulu orang berlangganan media untuk mendapatkan informasi, tapi sekarang informasi itu berlimpah dan gratis. Bahkan, ada kecenderungan di mana kita tidak bisa lagi membedakan mana informasi yang benar dan salah.

Maka dari itu, ia menekankan bahwa jurnalis tetap harus menjalankan prinsip verifikasi dan konfirmasi, alih-alih sekedar menulis atas dasar menyomot dari media sosial publik figur.

Pada akhir pemaparannya, Yosep menyarankan para pewarta agar memberitakan potensi-potensi daerah yang menarik. Sehingga ke depan, daerah tersebut akan dikunjungi dan diketahui publik. Hal ini bisa menambah peran pers dalam pembangunan ekonomi yang kokoh.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)