Diwawancarai Majalah SWA, Menpar Arief Yahya Ungkap 'Rahasia' Kepemimpinan Semasa di Telkom

Dikantornya, Menteri Pariwisata Arief Yahya diwawancarai oleh SWA. Menpar didampingi Priyantono Rudito, Staf Ahli Menpar dan Guntur Sakti, Kepala Biro Puskomblik Kemenpar, pada27 Agustus 2018 di Jakarta.***

 

Pesan-pesan khusus terkait dengan manajemen, filosofi, leadership, dan benchmark tokoh-tokoh dunia yang inspiratif menjadi menu yang disajikan Arief Yahya sore hingga malam 27 Agustus 2018. Setelah selama 28 tahun berkarier di Telkom dengan tekun dan profesional, Arief Yahya diminta Presiden Jokowi menjadi menteri.
Pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 2 April 1961 ini adalah anak dari H.Said Suhadi dan Hj. Siti Badriya. Bapaknya seorang pedagang dan ibunya ibu rumah tangga yang aktif di organisasi keagamaan.
Arief berasal dari keluarga sederhana dan banyak belajar tentang filosofi hidup dari ibunya. Tekun dan sederhana itulah pesan yang selalu diingat oleh Arief dari ibunya. Pesan ibunya telah dia kerjakan saat menempuh sekolah hingga dunia kerja.
Berkat ketekunannya belajar di sekolah menengah, pada usia 18 tahun, ia berhasil masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berhasil menggondol gelar insinyur dari jurusan Teknik Elektro ITB dengan hasil sangat memuaskan.
Tak sulit bagi Arief untuk masuk Telkom, perusahaan besar pelat merah di bidang telekomunikasi. Lulus seleksi dan dia menjadi karyawan Telkom. Arief memulai kariernya di Telkom pada tahun 1986, dalam usia 25 tahun.
Dengan modal keahlian dan ketekunannya, ia menjadi salah satu karyawan terbaik yang boleh mengikuti program beasiswa Master Telematika di Surrey University, Inggris.

Karier profesionalnya di Telkom terus berkembang. Berbagai jabatan di Telkom diraihnya. Mulai dari kepala  kantor daerah telekomunikasi (kandatel), kepala Divisi regional (Kadivre), Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia, hingga menjadi nomor satu dengan jabatan Direktur Utama PT Telkom 2012-2017.

Banyak prestasi dan penghargaan yang diraih oleh Arief.  Dia bisa memberikan warna baru pada Telkom dengan keberhasilanya pada pelayanan dan pemasaran. Alhasil, dia diganjar Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penerima Satyalencana Pembangunan  atas keberhasilan dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur.
Arief juga masuk dalam daftar ”25 Business Future Leader”, Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, dan sebagai The CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012.
Selama 28 tahun berkarier di Telkom dengan nilai tekun dan profesioanal mengantarkanya ke posisi yang lebih tinggi lagi. Presiden terpilih Joko Widodo memintanya menjadi Menteri Pariwisata dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Meski bukan bidangnya, dia tetap dianggap mampu mengelola dunia pariwisata karena dia salah satu menteri yang berasal dari profesional.
PENDIDIKAN:
SMA di Banyuwangi 1976
Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung  1979
Elematics (Software & Telecommunications) di Universitas Surrey, Inggris
Program doktoral Universitas Padjadjaran
KARIER:
Karyawan Telkom Indonesia, 1986
Senior Manager Niaga Divisi Regional II,1999 – 2001
General Manager Kandatel Jakarta Barat, 2002 – 2003
Kepala Divisi Regional VI Kalimantan, 2003 – 2004
Kepala Divisi Regional V Jawa Timur, 2004 – 2005
Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia, 2005
Direktur Utama PT Telkom Indonesia, 2012-2014.
Menteri Pariwisata, 2014-2019
PENGHARGAAN:
The Best Kandatel (Kantor Daerah Telekomunikasi), Pemasaran telepon terbaik Telkom Jakarta
Kepala Divisi Regional (Kadivre) Terbaik
The Best Sponsor Telkom Kalimantan.
Kadivre Terbaik
Penghargaan Management War Room terbaik 2003.
The Best Jalur Komando Award, Panglima Daerah VI Kalimantan.
Divre Terbaik, Rocky of The Year 2003, untuk Management Flexi, DIVRE VI Kalimantan.
Priyantono Rudito, Staf Ahli Menteri Pariwisata, yang sewaktu Arief Yahya menduduki posisi CEO PT Telkom, Priyantono masuk dalam tim Arief sebagai Human Capital Director PT Telkom.***
'First Who, Then What'
Pilih orangnya dulu, kemudian katakan keinginanmu. Begitu dikatakan Arief Yahya. Dia mengutip Jim Collins dalam buku Good to Great yang menyebutkan bahwa terdapat dua proses besar untuk menggulirkan perubahan di dalam organisasi yang hebat (disebut organisasi Good to Great).
Proses pertama adalah build up yang terdiri dari: Level 5 Leadership, First Who then What, dan Confront the Brutal Facts. Proses kedua adalah breakthrough yang terdiri dari: Hedgehog Concept, Culture of Discipline, dan Technology Accelerators.
Khusus mengenai First Who then What, banyak pemimpin yang lebih memilih pendekatan First What then Who. Mereka seringkali terjebak. Mereka sering mengatakan tetapkan visi, misi, dan strategi, baru kemudian dipilih orang-orangnya. Padahal, menurut Arief, jika mengambil pilihan itu artinya sebuah institusi masih menjalankan Kepemimpinan Level 4 (Level 4 Leadership). Untuk mencapai Kepemimpinan Level 5 (Level 5 Leadership) kita akan memilih First Who then What.
Dimulai dengan “Siapa”
Dalam organisasi Good to Great, yang terpenting adalah memilih orang-orang (who) terlebih dulu, dibandingkan menetapkan apa yang harus dilakukan (what). Bila diilustrasikan dengan sebuah bus, maka transformasi organisasi Good to Great bukan dimulai dari membayangkan ke arah mana bus akan meluncur dan kemudian mencari orang-orang yang mengemudikannya untuk menuju ke sana.
Tetapi yang pertama-tama dilakukan justru mencari orang yang tepat untuk disertakan dalam bus dan baru kemudian membayangkan ke mana bus tersebut akan berjalan. Karena itu, hal pertama yang harus dilakukan oleh pemimpin hebat (Great Leader) dalam memulai transformasi adalah menempatkan orang yang hebat (Great People) di dalam 'bus'-nya. Pemimpin Good to Great menggunakan tiga prinsip dalam memulai sebuah proyek transformasi organisasi.
Pertama, ia selalu memulai transformasi dengan “siapa” (who) daripada “apa” (what). Hal ini memungkinkan si pemimpin untuk beradaptasi terhadap perubahan, seekstrim apapun perubahan yang dihadapi organisasi.
Kedua, bila Great Leader mempunyai Great People berada di dalam “bus”, maka ia tahu persis bahwa sebagian masalah sirna dengan sendirinya. Terutama masalah yang terkait dengan memotivasi dan mengelola orang. Ya, karena Great People akan memotivasi dirinya sendiri untuk selalu memberikan hasil yang terbaik bagi organisasi.
Ketiga, ia juga tahu persis bahwa organisasi dengan arah yang tepat namun diisi dengan orang-orang yang tidak tepat, tidak akan pernah menciptakan organisasi yang hebat (great organization). Kata Jim Collins, “great vision without great people is irrelevant.”
*Sajian lengkap tentang bagaimana Arief Yahya melahirkan para pemimpin bisnis handal, akan dimuat di Majalah SWA yang akan terbit di September 2018.
#GenerasiEmasAriefYahya
#WonderfulIndonesia

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)