Dominasi Batubara Masih Menjadi Tantangan Pelaksanakan Transisi Energi

Dominasi batu bara sebagai sumber pembangkit listrik utama. (Foto : istimewa/dokumentasi).

Dari diskusi interaktif dengan tema
Peran Sektor Batubara dalam Menghadapi Tantangan Transisi Energi di Indonesia yang digelar Kementerian PPN/Bappenas bersama Clean Affordable and Secure Energy (CASE) Indonesia, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan Institute for Essential Services Reform (IESR) terungkap, salah satu tantangan dalam melaksanakan transisi energi di sektor ketenagalistrikan Indonesia adalah dominasi batu bara sebagai sumber pembangkit listrik utama.

Hingga 2020, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat 50,3 persen dari listrik di Indonesia dihasilkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap batu bara. Sampai saat ini Indonesia masih mengandalkan batubara sebagai sumber elektrifikasi secara nasional. Perlahan namun pasti, ketergantungan ini harus sudah mulai dilepaskan. Namun demikian, pemerintah juga memastikan bahwa proses transisi energi ke sumber energi ramah lingkungan akan dilakukan melalui strategi yang tepat sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Dr. Ir. Rachmat Mardiana, M.A, Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi dan Informatika Kementerian PPN/Bappenas, salah satu aspek yang diperhitungkan dalam penyusunan peta jalan transisi energi nasional adalah dengan meningkatkan kesiapan daerah-daerah yang masih mengandalkan PAD-nya dari batubara dan barang tambang mentah lainnya. Oleh karena itu, transformasi ekonomi dan energi di tingkat daerah juga perlu dilakukan dengan cermat dalam menyusun strategi transisi energi di tingkat nasional.

Diakui Rachmat, fakta ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk dapat menemukan strategi yang tepat dalam melakukan dekarbonisasi bidang berbasis energi, khususnya di sektor ketenagalistrikan, dan di saat yang bersamaan menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi tetap terjadi.
Oleh karena itu, Indonesia dinilai perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya publik dalam merealisasikan transisi energi di Indonesia.

Meskipun dituntut untuk mempertimbangkan aspek pertumbuhan ekonomi dalam menyusun Peta Jalan Transisi Energi, proses peralihan dari energi fosil ke energi ramah lingkungan semakin mendesak untuk direalisasikan segera mengingat ancaman perubahan iklim sudah semakin nyata.

Menurut Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kadarsah Shilphy Kadiviel, tahun 2016 dan 2019 merupakan dua tahun terpanas di Indonesia. Peningkatan tren suhu minimum yang lebih tinggi terlihat selama 50 tahun terakhir dengan laju 0,42° C per 10 tahun.

Ancaman Perubahan Iklim juga terlihat dari semakin meningkatnya fenomena La Nina yang mengakibatkan peningkatan curah hujan dan El Nino yang berdampak pada kemarau panjang, kesulitan air dan kekeringan.

Menurut Widhayawan Prawiratmadja, pakar energi dari Institut Teknologi Bandung, batubara memang memiliki kontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Tetapi dia juga mengingatkan bahwa Indonesia harus cermat dalam menyusun strategi transisi energi dengan belajar dari pengalaman krisis energi yang terjadi di Eropa.

Dalam diskusi interaktif ini juga dibahas bagaimana milenial bisa menjadi solusi dalam percepatan transisi energi, yakni membangun kemawasan publik dari media sosial. Zagy Berian dari Society of Renewable Energy menilai, hal termudah yang bisa dilakukan milenial dalam jangka pendek.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)