Donasi Digital Meningkat 72% Selama Pandemi

Gopay bersama Kopernik, organisasi peneliti dan pengembangan masyarakat merilis riset terbaru bertajuk "Gopay Digital Donation Outlook (DDO) 2020". Riset ini mengungkap secara detail ekosistem donasi digital di Indonesia, mulai dari tren kebiasaan masyarakat berdonasi, tantangan utama yang dihadapi ekosistem filantropi dan rekomendasi untuk bersama mengembangkan filantropi di Indonesia.

Dalam riset terungkap bahwa nilai per donasi digital meningkat sebesar 72% selama pandemi Covid-19. Sementara data internal Gopay mencatat kenaikan transaksi donasi digital sebanyak dua kali lipat selama pandemi, dengan total nilai donasi dari Maret - Oktober 2020 mencapai Rp102 miliar.

Managing Director Gopay, Budi Gandasoebrata mengatakan,
teknologi menjadi salah satu pendorong donatur untuk berdonasi digital; dari mendapatkan informasi lewat media sosial, berdonasi di aplikasi dan situs daring, hingga pembayaran digital. Sebanyak 48% responden mengaku mendapatkan informasi mengenai donasi digital melalui media sosial.

Informasi yang jelas meningkatkan transparansi proses donasi dan kredibilitas organisasi yang dituju menjadi alasan donatur makin terdorong untuk berdonasi. Manfaat teknologi juga diakui oleh berbagai organisasi non-profit yang menjadi responden riset. Lembaga Amil Zakat mengungkapkan bahwa Zakat, Infaq dan Sadaqah (ZIS) melalui kanal digital bertumbuh signifikan hingga 2x per tahun.

"Teknologi menjadi kunci perkembangan donasi digital, di mana donatur mendapatkan informasi di media sosial, dan donasi dilakukan melalui aplikasi dan pembayaran lewat e-money," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (07/12/2020).

Riset juga mengungkapkan bahwa donasi digital memiliki potensi sangat besar karena memungkinkan masyarakat untuk berdonasi tanpa kontak dari manapun dan kapanpun. Pembayaran lewat e-money dapat mempercepat proses donasi, terutama pada situasi darurat. Manfaat ini pun menjadi sangat berarti di masa pandemi ini ketika semangat gotong royong dan saling membantu di tengah masyarakat meningkat namun pada saat bersamaan kontak langsung harus dihindari.

Riset menyebutkan pemberian donasi digital baik secara frekuensi maupun nominal meningkat di seluruh jenjang usia. Peningkatan frekuensi paling tinggi tercatat pada generasi Milenial. Sementara itu Gen X berdonasi dengan nominal paling tinggi dibanding generasi lainnya. Rata-rata nilai per donasi digital melonjak menjadi 72% selama pandemi.

Aplikasi dan platform donasi online menjadi medium yang paling banyak dipilih masyarakat berdasarkan dua alasan utama, yaitu kredibilitas platform dan kemudahan pembayaran. Riset DDO menemukan, Gojek menjadi aplikasi digital yang paling sering digunakan oleh masyarakat (52,5%). Sementara itu, 71% memilih Kitabisa sebagai platform galang dana yang paling sering digunakan. Dalam empat tahun terakhir, jumlah inisiatif penggalangan dana oleh organisasi nonprofit meningkat secara kumulatif sebesar 13 kali lipat.

Pertumbuhan ekosistem donasi digital tidak terlepas dari perkembangan pesat metode pembayaran nontunai di Indonesia. Sebanyak 47% responden memilih berdonasi platform yang menerima transaksi digital.

"Gopay menjadi uang elektronik yang paling banyak digunakan untuk berdonasi (68%) karena dinilai paling aman, diterima secara luas di banyak organisasi dan yayasan, serta Gopay dipandang sebagai pionir dalam donasi digital," lanjut Budi.

Sejak 2019, kata dia, Gopay telah aktif mengembangkan ekosistem filantropi melalui pemanfaatan pembayaran digital untuk penghimpunan donasi serta melakukan pelatihan bagi ratusan mitra rumah ibadah dan yayasan di seluruh Indonesia.

“Melalui riset ini kami mendalami berbagai aspek dalam donasi digital dan memuat sudut pandang semua pemangku kepentingan - mulai dari donatur, Kementerian Sosial, hingga influencer media sosial. Kami berharap riset ini dapat menjadi acuan berbagai pihak agar terus mempermudah masyarakat Indonesia membantu sesama," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Co-founder dan CEO Kopernik, Toshi Nakamura mengungkapkan, riset ini mengungkapkan peluang yang lebih besar lagi ke depannya, terutama dengan semakin banyak masyarakat yang mau mencoba berdonasi digital. Namun penting bagi pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terkait donasi digital, terutama di luar kota besar.

"Dengan keunggulan dalam transparansi proses donasi dan informasi kredibilitas organisasi yang dituju, kami percaya bahwa kedepannya kita akan bersama-sama melihat pertumbuhan donasi digital yang lebih positif lagi," tegasnya.

Riset dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2020, menggunakan metode survei kuantitatif melalui survei mandiri yang disebarkan secara digital, dan wawancara kualitatif dengan informan kunci. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yang melibatkan 1.319 responden yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara, wawancara kualitatif dilakukan dengan 15 pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Sosial, perusahaan swasta, hingga lembaga atau organisasi nonprofit.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)