Dua Tantangan HR dalam Adopsi Teknologi

Anton Saptorahardjo, Direktur Human Resources, PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk dalam acara Indonesia HR Trends and Future Readiness Amidst Pandemic Challenges.

Sifat adaptif merupakan sesuatu yang harus dimiliki perusahaan untuk bisa tetap bertahan dan berkembang di tengah kepungan teknologi dan digital. Salah satu sikap adaptif yang kritikal dewasa ini adalah adopsi teknologi, khususnya dalam dunia Human Resources (HR).

Salah satu perusahaan yang saat ini sedang bersiap diri untuk menjadi HR masa depan adalah PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. Anton Saptorahardjo, Direktur Human Resources PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk mengatakan, saat ini pihaknya masih dalam proses transformasi dari production focus company menjadi selling focus company. “Dalam proses transformasi, penting untuk membangun people yang mumpuni, jika tidak transformasi akan berjalan di tempat. Bahkan, kita harus merekrut orang baru jika memang dibutuhkan,” kata dia dalam presentasinya di acara Indonesia HR Trends and Future Readiness Amidst Pandemic Challenges yang diadakan oleh SWA.

Dalam prosesnya, Anton mengakui bahwa Sreeya Sewu selalu melibatkan stakeholders yang ada. Karena transformasi berkaitan dengan perubahan struktur organisasi, jabatan, leveling, dan penerapan digitalisasi. Selain itu, pihaknya juga sangat memperhatikan data dan mentracking succsess business yang sedang bergulir. “Saat ini kami sedang menuju pada pengadopsian teknologi tersebut. Kami sedang mempersiapkan diri. Kira-kira 1-2 tahun lagi, HR Sreeya Sewu siap untuk menghadapi HR masa depan,” ujarnya.

Dalam presentasinya, Anton menegaskan, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh HR perusahaan lokal dalam mengadopsi sistem dan teknologi anyar tersebut. Perusahaan multinasional, menrutnya, cenderung lebih mudah dalam mengadopsi teknologi karena mereka sudah dilengkapi dengan guidence book, sistem, dan infrastruktur. Sementara, perusahaan lokal harus mengembangkannya dari awal. Tidak jarang ini membuat HR frustasi.

Akibat daripada itu, kebanyakan perusahaan lokal hanya mengadopsi teknologi yang sedang tren, tanpa memiliki persiapan, pengetahuan, dan infrastruktur. Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada keberlanjutan adopsi teknologi dan digital perusahaan. Bisa dibilang, kebanyakan perusahaan hanya memiliki semangat di awal, namun tidak konsisten dalam menjalankan adopsi teknologi tersebut untuk pertumbuhan bisnisnya di hari ini, bahkan di masa depan.

Sebagai contoh dalam hal kompetensi, setiap HR selalu membuat kompetensi yang merupakan turunan dari visi dan misi perusahaan. Namun pada saat proses pengukuran, konsistensi itu menjadi kendor dan akhirnya hilang. “Hal ini terjadi akibat dari kurang lengkapnya prespektif mereka tentang HR. Tujuan dan strategi mereka masih sangat abstrak. Selain itu, mereka tidak tahu bagaimana cara HR mendukung bisnis perusahaan. Sehingga program tersebut tidak jalan,” kata dia. Anton menambahkan, perusahaan wajib memiliki konsep dan tujuan sebelum mengadopsi teknologi. Jangan sampai perusahaan hanya mengikuti tren yang sedang berkembang, tanpa tahu arah dan tujuannya.

Tantangan kedua yang dihadapi HR dalam pengadopsian teknologi adalah adanya gap generasi yang terjadi di dalam perusahaan. Gap generasi ini merupakan hal yang tidak bisa dielakan. Namun, menurutnya, tidak semua generasi baby boomer resisten terhadap perubahan. “Kita harus tetap menempatkan dan memprioritaskan masa depan perusahaan. Jangan sampai rasa tidak enak terhadap generasi yang lebih senior mengalahkan prioritas perusahaan ke depan,” ujarnya.

Keterlibatan stakeholders, menurutnya, bisa menjadi salah satu cara dalam mengatasi resistensi tersebut. Maka dari itu, HR harus benar-benar mengetahui arah serta tujuan pengadopsian teknologi di dalam tubuhnya agar bisa menjual dan berkomunikasi secara jelas dengan owner dan stakeholder. “kita juga harus mebuktikan dan presisten untuk menjalannkan program ini. Pendekatan secara personal juga wajib dilakukan agar bisa menjadi bahan diskusi dan memperbaiki hal-hal yang memang dirasa kurang, “ ujar Anton menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)