2018, Kalangan Bisnis Berharap Ekonomi Indonesia Kian Membaik

Tahun 2017 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Menjelang akhir tahun 2017 dan menyambut tahun 2018, para pakar ekonomi, pengusaha dan pejabat pemerintah berharap tahun 2018 perekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang stabil.

Data ekonomi makro Indonesia pada kuartal III tahun 2017 membangkitkan optimisme ekonomi nasional. Potensi sumber daya nasional dapat menjadi energi positif bagi perekonomian nasional pada masa sekarang dan mendatang.

Presiden Joko Widodo diagendakan akan menyampaikan pandangannya tentang ekonomi nasional beserta potensi dalam negeri. Dalamacara “Bincang-Bincang Ekonomi Indonesia” yang akan digelar pada Jumat (17/11/2017) di Teater Salihara, Jakarta. "Pak Presiden diagendakan akan hadir dalam bincang-bincang ekonomi Indonesia,” kata Ketua Panitia Pelaksana Bram S Putro.

Selain Presiden Joko Widodo akan hadir pula sejumlah para pengambil kebijakan dan praktisi ekonomi dan bisnis yang akan membedah ekonomi bisnis terkini dan proyeksinya pada masa mendatang. Mereka yang akan hadir adalah Menteri BUMN Rini Soemarno, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Ketua Umum KADIN Rosan P. Roeslani dan Profesor Firmanzah selaku rektor Universitas Paramadina.

Bincang-bincang dengan “Optimalisasi Potensi Dalam Negeri” menjadi langkah bersama memandang ekonomi Indonesia dalam bingkai optimistis. Ekonomi nasional saat ini yang terus bergulir menuju kadar kualitas yang semakin meningkat menjadi landasan optimistis melihat ekonomi nasional masa depan.

Menurut Fadel Muhammad, pengusaha dan juga mantan Gubernur Gorontalo, peringkat Ease of Doing Business Indonesia mengalami perbaikan. Peringkatnya naik dari 91 menjadi 72. Ekonomi Indonesia harus terus ditingkatkan, mengingat sumber daya yang dimiliki harus terus dioptimalkan untuk mencapai pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Fadel menambahkan data yang dirilis BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar tumbuh 5,06% pada triwulan III-2017 bila dibandingkan dengan triwulan III-2016 (y-on-y). Ini menjadi kabar baik untuk Indonesia.

Begitu juga indikator industri khususnya manufaktur, yang notabene bisa memberikan multiplier effect secara meluas, mengalami pertumbuhan yang bagus. Industri manufaktur besar dan sedang tumbuh 5,51% pada kuartal III tahun 2017. Pertumbuhan tersebut adalah pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2015.

Fadel juga melihat kerja pemerintah dalam melakukan pengendalian inflasi masih berjalan sesuai ekspektasi. Angka inflasi pada Oktober 2017 sebesar 0,01% dan sebesar 2,67% secara year to date. Harapannya sampai dengan tutup tahun inflasi masih terkendali sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Begitu juga, rata-rata suku bunga kredit yang turun menjadi 11,61% pada September 2017 akan memberikan dampak yang bagus kepada dunia usaha. Dampaknya penyerapan kredit juga akan meningkat dan menggerakkan dunia usaha. Sampai dengan September 2017, kredit perbankan sudah mengalami pertumbuhan sebesar 7,86% (y-on-y).

Perbankan telah menyalurkan kredit sebesar Rp 4.543,6 triliun sampai dengan September 2017. Harapannya, dampak pertumbuhan tersebut tidak hanya pada dunia usaha saja, tapi daya beli masyarakat juga ikut terdorong.

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)