Ada Kampanye #DeleteUber, Bagaimana di Indonesia?

Kampanye #DeleteUber masih terus bergaung di media sosial. Bermula dari Amerika Serikat, kampanye itu menyebar ke seluruh dunia.

Kampanye itu belum memberi perubahan signifikan bagi peringkat aplikasi Uber di iPhone App Store di Amerika. Dalam sepekan terakhir, aplikasi taksi online ini berkutat di urutan ke-13 dan 14 daftar aplikasi gratis.

Foto: www.techcrunch.com

Namun, kampanye itu justru mendatangkan berkah bagi aplikasi transportasi online lainnya. Lyft, yang menawarkan layanan serupa Uber, mendadak mengalami lonjakan peminat.

Minggu lalu, aplikasi ini masih menempati posisi ke-39. Saat ini, mereka meroket ke urutan ketujuh, mengungguli aplikasi populer, seperti YouTube, Messenger, Facebook, Google Maps, Netflix, Spotify, Pinterest, Amazon, Twitter, Pandora, dan Uber.

Kampanye #DeleteUber sendiri muncul karena manajemen aplikasi itu dianggap pro dengan kebijakan Presiden Amerika Donald Trump, yang melarang imigran dari tujuh negara muslim memasuki negara itu.

Saat terjadi aksi protes aliansi sopir taksi New York, pekan lalu, para pengemudi Uber tak ikut serta. Mereka tetap beroperasi, bahkan memasang tarif sangat tinggi.

Tindakan itu dianggap sebagai aksi yang pro Trump, terutama karena CEO Uber Travis Kalanick sebelumnya juga sudah menjadi penasihat ekonomi Trump.

Tempo

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)