DIM Ditantang Jajaki Peluang Investasi Sektor Infrastruktur

Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Bambang P. S. Brodjonegoro (kedua dari kanan) dan Marsangap P. Tamba Direktur Utama DIM disela-sela Economic & Investment Outlook 2018 bertajuk “Optimisme di Tahun Politik”

Sebagai pelopor Reksa Dana dan salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia PT Danareksa Investment Management (DIM), menggelar Economic & Investment Outlook 2018 bertajuk “Optimisme di Tahun Politik”. Kegiatan tahunan DIM ini dibuka oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Bambang P. S. Brodjonegoro.

Menurut Marsangap P. Tamba Direktur Utama DIM, menyampaikan, acara ini merupakan bentuk komitmen dan layanan DIM kepada para investor untuk senantiasa memberikan informasi yang komprehensif mengenai kondisi ekonomi ataupun politik terkini serta dampaknya bagi investasi di pasar modal. "Kami berharap investor memiliki arah investasi yang jelas dan semakin yakin untuk menempatkan dananya ke instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan di tahun 2018," kata Marsangap.

Marsangap mengatakan, tahun lalu dana kelolaan DIM mencapai Rp 27,2 triliun atau tumbuh sekitar 45.5% dibanding tahun 2016 yaitu sekitar Rp 18.7 triliun. Sementara, tahun ini DIM menargetkan total dana kelolaan sekitar Rp 35 triliun, tumbuh sekitar 30% dibandingkan perolehan tahun 2017.

Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Bambang P. S. Brodjonegoro memaparkan Total nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur 2015 – 2019 sekitar Rp 4.769 Triliun. Dimana sumber pendanaannya Rp 1.951,3 triliun (APBN/APBD), Rp 2.817,7 triliun (BUMN) dan Rp 1.751,5 triliun (partisipasi swasta).

Menurut Bambang, sebagai perusahaan investasi manajemen, DIM bisa menciptakan instrumennya, terutama project recycle-nya bisa dalam bentuk Pembiayaan Ekuitas Langsung Penyertaan langsung ekuitas ke perusahaan infrastruktur dan investor membeli instrumen investasi ekuitas seperti
Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), perpetuity notes, callable preferred stocks, Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA)dan instrumen lainnya yang mendekati ekuitas.

Ia ingin mendorong dirut DIM bagaimana caranya pemilik dana jangka panjang seperti dana pensiun, asuransi jiwa, BPJS, dan dana haji mulai berpikir bukan hanya membeli times deposit. Tapi juga sudah ke pasar modal atau sektor riil seperti infrastruktur. "Ini bukan saja tantangan tapi peluang yang dilakukan perusahaan investasi manajemen di luar negeri," kata Bambang.

Ia mencontohkan beberapa proyek infrastruktur yang telah sukses Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA), seperti PT Nusantara Infrastructure Tbk, yang melakukan kerjasama investasi dengan patner internasional strategis senilai Rp 1,81 triliun (USD134 juta) dalam bentuk partisipasi partisipasi ekuitas, Waskita Toll Road - 15 Ruas Tol senilai Rp 3,5 trilliun (USD 265 juta)  dalam bentuk partisipasi ekuitas, dan sebagainya.

Sementara itu, Pipeline Proyek PINA selanjutnya ada 34 proyek, antara lain,PT Hutama Marga Waskita - Jalan Tol di Sumatera Utara (Rp 13,4 triliun/ USD 1,01 miliar), PT PJB - Pembangkit Listrik (2 Proyek) (Rp 14,5 triliun/ USD 1,07 miliar) PT Indonesia Power -Pembangkit Listrik (6 Proyek) (Rp 78,3 triliun/ USD 5,8 miliar), PT PLN - Transmisi Listrik (1 Proyek) (Rp 27,5 triliun/ USD 2,04 miliar, BIJB (Pengembangan Fase 2 & Aerocity – 2 Proyek) (Rp 30 triliun/ USD 2,2 miliar), Bandara Kulon Progo DIY – PT Angkasa Pura 1 & PT PP (Rp 6,7 triliun/ USD 495 juta), Pesawat R-80 – PT RAI
 (Rp 21,6 triliun/ USD 1,6 miliar), dan Pengembangan Area Terintegrasi Pulau Flores – Flores Prosperindo, Ltd. (Rp 13,5 triliun/USD 1 miliar) .

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)