Ekonom BNI Ungkap Faktor Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2020

Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom BNI

Tahun 2019, target pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar di angka 5,1%. Pada 2020 ini target dinaikkan menyentuh 5,3 - 5,4%. Ada optimisme kuat mengapa integrasi moneter dan fiskal melahirkan angka tersebut.

Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom BNI yang ditemui pada diskusi 'Digitalisasi Indonesia Outlook 2020' mengemukakan beberapa faktor yang membuat optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat. "Kalau kita lihat kondisi global, risiko geopolitik cenderung mereda. "Presiden Trump dan Xi Jinping sepakat rekonsiliasi. Hiruk-pikuk kondisi politik di Uni Eropa juga mulai reda. Akhir Januari nanti Inggris akan keluar dari Uni Eropa," ujar Ryan.

Yang menarik, kegiatan ekonomi di China yang diramalkan memburuk justru memperlihatkan arah sebaliknya tahun ini. Lalu Jerman yang diprediksi mengalami resesi ternyata sejauh ini ekonominya tumbuh positif. Ekonomi Amerika Serikat pun tumbuh positif. Dengan adanya kabar baik dari negara-negara maju, menurut Ryan, akan menstimulasi sentimen positif dari negara-negara berkembang.

Secara domestik, kondisi ekonomi pun relatif stabil. Salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang diperkirakan dapat berkontribusi ke total PDB sekitar 56-57%. Harapannya pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa minimal mencapai 5,1%-5,3%. Investasi baik PMA maupun PMDN juga akan tumbuh. Belanja pemerintah juga akan didorong lebih cepat dan lebih banyak diarahkan ke capex. "Ini bagus untuk pertumbuhan ekonomi," jelas pria berkacamata ini.

Kebijakan BI yang bersifat akomodatif dan sikap Kemenkeu untuk mengakselerasi belanja modal ke arah counter cyclical policy juga menjadi faktor mengapa optimisme pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4% tahun 2020. Belum lagi APBN 2020 di mana alokasi pembangunan infrastruktur yakni Rp 450 triliun atau sekitar 20% dari total APBN.

Ryan memandang pertumbuhan ekonomi pada 2019 menandakan distribusi aset mulai menjalar ke masyarakat marginal. Adanya program Bansos dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga turut menyumbang prospektif baik ini. Terlebih tahun ini suku bunga KUR turun 6% setelah tahun sebelumnya 7%. Hal ini akan menstimulasi kegiatan UMKM agar kian bergerak positif. "Meskipun pada 2020 akan ada pilkada serentak, namun kondisi ekonomi diproyeksi masih stabil. Ibaratnya, kalau tahun 2019 kita bisa survive di tengah ramai pilpres, maka seharusnya tahun ini bisa lebih tenang," ujar Ryan menutup penjelasannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)