Hot Money yang Sulit Dikendalikan Perparah Perekonomian Indonesia

Papan pencatatan Bursa Efek Shanghai. (foto Reuters)

Di awal tahun 2020, ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mencapai 5,2-5,4%. Per Januari, nilai tukar rupiah masih berada di level Rp 13.600. Namun setelah merebaknya virus Corona yang pertama kali diketahui kasusnya di Indonesia 4 Maret lalu, rupiah semakin melemah. Pekan ini, rupiah tercatat di level Rp 16.500 dan mengguncang ekonomi dalam negeri hingga bulan puasa nanti apabila Covid-19 sulit dikendalikan.

Ekonom Pasar Uang, Farial Anwar menilai keadaan ini berpotensi lebih buruk daripada tahun 1998. Namun menurutnya, masalah ini bukan lagi datang dari pemain dalam negeri, namun dari pemain asing terutama spekulator yang dengan mudah memindahkan aset mereka saat emerging market mengalami ketidakpastian. Menurut Farial, dengan kebijakan rezim devisa bebas yang dianut Indonesia, seharusnya asing masuk sektor riil, namun yang menyerbu justru hot money.

“Ketika melihat potensi resesi akibat Covid-19, mereka keluar dari emerging market dan berinvestasi safe haven dalam bentuk cash dolar hingga ancaman virus selesai. Asing memang menjadi masalah besar karena keluar-masuknya mereka sangat berpengaruh. Kita dibuat gonjang-ganjing, tapi mereka untung, ” jelasnya.

Ia menyebutkan, sebesar 50% investor asing bermain di pasar surat berharga SBN. Ketika keadaan ekonomi Indonesia memburuk, SBN pun mereka jual dan mengkonversinya ke dolar. Dengan demikian, akan terjadi inflasi juga.

Terkait kebijakan triple intervention yang telah dilakukan BI untuk menyelamatkan rupiah dari tekanan, Farial mengapresiasi hal tersebut. Namun yang disayangkan adalah sikap pemerintah yang kurang bisa mengendalikan investasi hot money. Likuiditas aset dalam jangka pendek dan bisa dicabut kapan saja menjadi guncangan ekonomi dalam negeri.

“Seharusnya ada holding period, yaitu ketika investor asing membeli saham, mereka harus memegang dalam jangka waktu tertentu, sehingga kita bisa prediksi berapa besar yang keluar (investor) dan kapan keluarnya,” ungkapnya.

Tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti kapan permasalahan ini akan berakhir. Farial mengimbau pemerintah harus realistis dan siap dengan kemungkinan terburuk. Bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa pada bulan puasa nanti, terjadi demand inflation dan imported inflation.

“Sekarang banyak karyawan yang dirumahkan karena bisnis banyak yang tutup untuk sementara. Ketika bulan puasa nanti dan rupiah masih lemah, perekonomian akan sulit. Terlebih menjelang bulan puasa nanti, harga barang-barang kebutuhan meningkat,” ujar Farial menutup penjelasannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
Farial Anwar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)