IEF: Pandemi Masih Berlangsung, UMKM Sebaiknya Fokus pada Likuiditas Kas

Indonesia Economic Forum bersama ZACD, Synthesis, Orbit Future Academy dan Chairos menggelar Webinar Series bertema “Emerging Business Opportunities post Covid-19: A Golden Age For Entrepreneurs?” dengan menghadirkan pembicara utama Sandiaga Uno, Mantan Wakil Gubernur Jakarta yang sekaligus juga pengusaha nasional dan pembicara lainnya, Marcus Lee, Regional Director ZACD Group. Diskusi dalam webinar ini dipandu oleh Shoeb Kagda, Founder dan CEO Indonesia Economic Forum.

Melalui diskusi tersebut, para pembicara memaparkan pandangannya terkait tatanan dunia baru setelah pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap dunia bisnis. Topik lain yang juga dibahas adalah apa saja kesempatan yang muncul di ditengah disrupsi Covid-19. Sektor-sektor usaha apa saja yang bertumbuh? Bagaimana perusahaan rintisan baru bisa bertahan di era baru ini? Serta apa saja yang dicari oleh para investor?

“Kita hidup di era ketidakpastian. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, pertumbuhan PDB Indonesia kemungkinan mengalami kontraksi di tahun 2020. Namun, di situasi krisis saat ini, kesempatan baru bermunculan. Menurut the World Economic Forum, Covid-19 juga mendorong maraknya kegiatan kewirausahaan di seluruh dunia. Perusahaan dan individu berlomba-lomba untuk merespon dan mengatasi krisis ini. Perusahaan telah melakukan pivot bisnis sebagaiaman produsen otomotif mengubah fasilitas produksi mereka untuk memproduksi ventilator,” kata Shoeb Kagda.

“Ide dan inovasi baru terus bermunculan. Banyak pengusaha dan perusahaan rintisan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuka bisnis baru. Kalau kita lihat di jalanan Jakarta misalnya, sekarang kita banyak melihat tukang masker. Pemesanan makanan via online, maupun pengiriman bahan makanan oleh perusahaan taksi juga sudah lazim terjadi. Para pengusaha tidak hanya berdiam diri menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya, mereka mewujudkannya,” tambah dia.

Dalam paparannya, Sandiaga Uno menegaskan bahwa kondisi perekonomian di era pandemi Covid-19 saat ini sangat memukul pelaku UKM. Di tengah perlambatan pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 2,9% di kuartal-1 lalu, terendah dalam 20 tahun terakhir dan terkontraksi menjadi minus 3% di kuartal kedua, saat pemerintah memberlakukan PSBB penuh. Ini sangat berdampak pada dua komponen utama perekonomian Indonesia, rumah tangga dan UKM.

Berbeda dengan krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 dimana UKM dan rumah tangga masih tetap mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional, krisis ekonomi tahun ini meluluhlantakkan UKM sejak tahap-tahap awal pandemi, di mana pertumbuhan penjualan hampir tidak terjadi atau 0%. Dan mengingat UKM menjadi sektor penyumbang tenag akerja terbesar, sekitar 98%, banyak pekerja terpaksa terkena PHK. Dari semula sekitar 2 juta, 5 juta, saat ini ditaksir mencapai 10-15 juta pekerja di-PHK, termasuk sektor informal.

“Birokrasi pemerintah membuat program pemulihan ekonomi nasional ini berjalan sangat pelan. Dan saya lihat ada banyak ruang perbaikan. Kita lihat Presiden Jokowi pagi ini juga menyampaikan kekecewaannya bahwa Kementerian teknis masih sekadar doing business as usual dan tidak sigap dalam mengeksekusi program itu,” kata Sandiaga.

Lalu bagaimana UKM seharusnya merespons kondisi ini? Setidaknya ada 3 pilar yang perlu diterapkan. Pertama, terapkan manajemen keuangan yang sangat ketat fokuslah mengamankan cash karena saat ini cash adalah raja. Ini saatnya UKM menjadwal ulang kewajiban pembayaran mereka dan focus dan pastikan ada likuiditas yang cukup dan tetap fokus pada bisnis utama.

Kedua, adaptasi ke situasi new normal yang bisa disebut dengan istilah stay at home economy. Bagi UKM yang selama ini banyak bergantung pada jaringan offline harus mulai pindah ke online. Sebagai contoh, sektor logistik dan e-commerce mampu tumbuh di era ini karena sesuai dengan kebutuhan masyaraat saat ini. Begitupun dengan sektor elektronik pendukung aktivitas remote working seperti kamera, microphone, lampu studio, telekomunikasi semuanya tumbuh. Termasuk juga layanan streaming seperti Nexflix, Iflix dan drama Korea yang banyak dikonsumsi masyarakat selama pandemi. UKM perlu melihat peluang misalnya membuat drama series versi Jawa, Batak, Bugis dan lainnya. Telemedicine dan obat tradisional seperti jamu, layanan cloud, reseller makanan, layanan kebersihan dan home fitness juga menjadi sektor yang defensif atau winning.

“Ketiga, survive melalui ekosistem. Fokus ke komunitas Anda sendiri, jual produk ke temen lewat WhatsApp, Instagram, coba gunakan reseller dan drop shipper instead of make own branches. Di sini pemerintah juga perlu step in dengan menyediakan likuiditas secepatnya,” kata Sandiaga.

Sektor lain yang tidak kalah seksi adalah clean energy dan energy conservation mengingat mansyarakat mulai terusik dengan tingginya biaya listrik, terutama di perkotaan. Lain dari pada itu, massive open online course juga terus tumbuh. Sebagai gambaran, Sandiaga Uno selama pandemi ini telah berinteraksi dengan 300.000 lebih pelajar, melebihi jumlah pelajar yang ia temuai secara offline di tahun 2019 sebesar 250.000. Adopsi teknologi di dunia pendidikan ini juga membuka peluang agar Indonesia meningkatkan rasio lulusan kampusnya dari saat ini sekitar 11 persen total penduduk Indonesia menjadi 25 persen seperti negara-negara G-20 lainnya.

“Saya lihat beberpa aperubahan di era pandemi ini akan cukup permanen setidaknya dalam satu tahun ke depan. Misalnya dalam hal personal hygiene, orang akan makin sering cuci tangan, atau pakai masker. Orang berpergian juga akan memakan waktu lebih lama mengingat adanya protokol kesehatan baru seperti melampirkan surat keterangan kesehatan dan sebagainya. Ataupun warung kopi apakah orang tetap ngopi di kafé? Ya tapi dalam jumlah yang terbatas,” kata Sandiaga.

Sandiaga melanjutkan, tapi yang saya pelajari selama pandemi ini, teruslah belajar dan proaktif. Seringlah menghadiri webinar dan mendengarkan pendapat para ahli. Saya sendiri melakukannya karena saya juga sedang fokus ke social entrepreneur. Ambil kesempatan ini. Don’t waste this crisis, use this to embark the journey untuk sama-sama meningkatkan ekonomi, social progress dan memastikan bahwa di tahun 2045 sesuai prediksi para ahli, kita bisa jadi negara ekonomi terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat serta mampu menyediakna kualitas pekerjaan yang lebih baik, terutama bagi para pemuda Indonesia."

Sementara Marcus Lee, Regional Director ZACD Group, menggarisbawahi d itengah krisis saat ini, merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan ide bisnis mereka dihadapan para investor. Mengingat investors saat ini juga terus mencari peluang investasi yang sifatnya lebih defensif, menawarkan revenue stream yang tetap dan menawarkan IRR pasti.

“Saat ini investor cenderung lebih defensive, ada dua kata kunci: mencari investasi dengan IRR tinggi dan revenue stream yang stabil. Tapi ini justru momen bagi para pengusaha di Indonesia untuk memperbanyak bertemu investor, mengajukan proposal bisnis. Dan satu kata kunci lagi: partnership. Kami sendiri berkomitmen untuk berpartner dengan para pelaku Indonesia, dan kami berkomitmen untuk melakukannnya dalam jangka panjang, bukan satu atau dua tahun,” kata Marcus Lee.

Editor : Eva Martha rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)